Balada Sumirah di Belantara Jakarta: Terpaksa Melahirkan di bawah Pohon


Balada Sumirah di Belantara Jakarta
Terpaksa Melahirkan di bawah Pohon

Kejamnya Ibu Kota benar-benar dirasakan Sumirah, perempuan pemulung asal Cirebon. Bersama suami dan anak-anaknya, mereka mengais nafkah dengan menjadi pemulung. Hidup serba dihimpit kemiskinan membuat Sumirah harus melahirkan di bawah pohon, pinggir jalan.

KLIK – Detail Bising Jakarta baru saja mulai Kamis (14/9) pagi itu. Hari belum lama bermula bagi Sumirah (35). Belum lama pula suaminya, Agus Sucipto (30), pergi bekerja sebagai pemulung. Sementara keempat anak keluarga pemulung ini, Septi (8), Ari (6), Asmi (4) dan Siti (2), masih asyik bercengkerama di bawah rindang pepohonan taman pinggir Jalan Raya Bogor, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Memang ditempat itu jualah sehari-harinya keluarga Sumirah menetap. Maklum, hidup serba kekurangan membuat mereka tak punya tempat tinggal.

Di sela-sela jerit klakson kendaraan, debu jalanan dan padatnya lalu lintas kota pagi itu, tiba-tiba Sumirah merasakan perutnya yang sedang mengandung sembilan bulan berkontraksi cepat. Sambil meringis kesakitan menahan mulas, Sumirah terus memegangi perutnya. Sumirah merasakan pertanda, calon anak kelimanya itu akan segera lahir.

LAHIR DI SAMPING GEROBAK

Kepada siapa Sumirah minta tolong di pagi sekitar jam 09.00 itu? Ia paham, berjarak sekitar 200 meter dari tempatnya memang ada Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB). Tapi, ia merasa tak mungkin ke sana. Dengan apa nanti ia harus membayar biaya persalinan? Siapa yang akan membawanya ke sana karena ia sudah tak kuat jalan? Bagaimana pula dengan anak-anaknya yang lain? Segudang keraguan akhirnya pun membuat Sumirah segera menepis jauh-jauh kemungkinan untuk ke rumah sakit.

Namun, ia tahu ada dukun beranak di perkampungan yang terletak di belakang taman. Ia pun meminta putri sulungnya ke rumah dukun. Apa mau dikata, upaya Septi nihil. Si dukun tak ada di rumah. Akhirnya, dalam kondisi semakin kesakitan, Sumirah segera merangkak mengambil sarung dan memakainya. Ia gelar terpal biru lusuh yang biasa dipakai anak-anaknya tidur, lalu duduk di atasnya sambil terpejam. Pasrah.

Semakin keras upaya Sumirah mengejan, darah pun makin membanjiri sarung Sumirah. Seberapa pun sakitnya, Sumirah mencoba menahan. Setelah sekitar setengah jam, diiringi pandang resah keempat anaknya yang hanya bisa mengelilinginya, bayi perempuan Sumirah pun lahir dengan selamat. Tanpa bantuan seorang pun. Sebuah gerobak kayu berisi barang rongsokan yang kesehariannya menjadi kawan setia mengais rezeki, hanya menatapnya bisu.

Tak lama kemudian, beberapa tukang ojek yang mangkal tak jauh dari taman mengetahui kondisi Sumirah. Beberapa orang tua murid TK Islam Terpadu Buah Hati yang terletak tak jauh dari situ, juga ramai berdatangan. Melihat bayi Sumirah sudah lahir, mereka sangat kaget. Mereka langsung sibuk mencari bidan ke sekeliling kampung.

KLIK – Detail Ada pula yang mendatangi RSHB. Sayang, saat tiba di rumah sakit tersebut, petugas jaga meminta agar ibu dan bayi dibawa ke rumah sakit. Saat itu, tak ada dokter yang bisa datang. Syukurlah, sesaat kemudian ada seorang bidan yang datang membantu. Sumirah pun dipindahkan ke gubuk reot seluas 2 x 2 meter persegi milik warga, tak jauh dari lokasi sebelumnya.

INGIN UBAH NASIB

Selang beberapa jam setelah Sumirah melahirkan, Agus pulang dari menjual barang-barang rongsokan di Pulo Gadung. Segera ia temui istrinya yang tergolek di lantai gubuk. Beberapa orang warga juga datang menjenguk membawakan beras, mi, makanan, obat, dan pakaian. Menjelang siang, datang tiga orang tenaga medis dari RSHB untuk memeriksa kondisi Sumirah dan bayinya.

Sumirah bersyukur bayinya selamat meski melahirkan dalam kondisi darurat. Lalu, karena butuh tempat yang bersih untuk tidur di malam hari, sang bayi sempat dititipkan di rumah seorang warga. Keesokan paginya, Sumirah kembali mengambil bayinya. Lalu sekitar jam 07.00 datang ambulans dari RSHB untuk menjemput Sumirah. Awalnya Sumirah menolak. Setelah dibujuk akan dibebaskan dari segala biaya perawatan, Sumirah menurut.

Saat ditemui di ruang rawat kebidanan kelas 2 VIP, Jumat (15/9) sore, Sumirah tampak sehat dan sumringah. Sambil menimang bayinya ia bertutur belum sempat memberikan nama. “Biar nanti bapaknya saja yang kasih nama,” ujarnya dengan wajah cerah.

Sumirah kemudian pun berkisah tentang hidupnya yang getir. Setahun lalu, ia menyusul suaminya yang merantau ke Jakarta sejak tahun 1998. Sebelumnya ia dan keempat anaknya tinggal bersama orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani di Sindanglaut, Cirebon. “Saya ingin mengubah nasib, sekaligus membantu suami cari makan. Akhirnya ya nekat ke Jakarta bersama anak-anak,” ungkapnya.

Ternyata hidup tak semudah yang dibayangkan. Di Ibu Kota, Sumirah mengontrak di rumah petakan kumuh di daerah Cawang. Lalu, sempat berpindah beberapa kali ke daerah Kebon Nanas. Akan tetapi, biaya kontrak sebesar Rp 150 ribu perbulan dirasakan semakin berat. “Karena enggak ada biaya, anak sulung saya berhenti sekolah saat kelas 3 SD,” katanya.

Pekerjaan suaminya juga tak kunjung membaik. “Suami saya beberapa kali ganti pekerjaan. Ia pernah menjadi sopir angkutan umum, mandor, pegawai serabutan, dan sebagainya. Akhirnya untuk menambah penghasilan, saya pernah menjadi pembantu rumah tangga. Sebulan saya dapat upah Rp 500 ribu per bulan,” kisah Sumirah.

sumber :
http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=12702

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. alexander aboh
    Sep 20, 2011 @ 12:59:47

    Begitulah mungkin kisah saudara kita yang berada dibawah banguna mewah yang tinggi, mereka terbayang bayang dengan uang dan rumitnya administrasi rumah sakit. kadang walau dikatakan gratis , tapi kadang pelayanannya tidak memuaskan, kadang di rumitkan dengan administrasi, padahal sakitnya serius dan butuuh mendesak segera dia atasi… jika disibukkan dengan rumitnya administrasi, yaaaaah bisa aja sebelum masuk rumah sakit,,,, bayi lahir, atau pasien akan meninggaal.. dengan begitu rumah sakit tidak banyak menanggung beban.. andai tidak mati rumah sakit akan terus menanggung beban(bisa rugi karena mereka gakmampu… heduhhhh sulitnya negara… sekarang tingkat puskesmas udah ada yang tak mau lagi dengan kartu miskin ada juga yang hanya mau siang hari kalo malam hari tidak mau dengan alasan tak ada dokternya….. wah kejam banget padahal puskesmas adalah bagian ujung tombak rumah sakit… dan paling dekat dengan masyarakat yang miskin…. tolong pak presiden …. jewer bagian dinas kesehatan biar warga miskin tidak rumit ngurusi jasa kesehatan dan diperlakukan sama dengan mereka yang kaya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: