Alamak : Si Miskin dalam Kepungan Pencakar Langit


Alamak : Si Miskin dalam Kepungan Pencakar Langit

BUKTINYA, pasangan Sastro (80) dan Tasriah (82), sudah hitungan tahun berjibaku dengan barang-barang bekas, nasib mereka tak beranjak. “Sudah 10 tahun saya jadi pemulung, hidup masih begini-begini saja dari dulu,” ujar Sastro berkeluhkesah.
Tiap pagi, Sastro menyusuri jalan Ibukota mencari barang bekas atau sampah plastik. Hasilnya ia kumpulkan, lantas dijual ke pengepul. Sementara, Tasriah membantu memilahmilah plastik dan kardus hasil pungutannya. Rutinitas itulah yang dilakoni pasangan kakek-nenk ini, tanpa kenal lelah, meski usia sudah menggerogoti raganya. Profesi itu menjadi satu-satunya pilihan agar mereka bisa menikmati sesuap nasi. “Kalau untuk makan sih kami masih bisa cari. Modalnya, otot yang sudah tua ini,” selorohnya sambil menepuk lututnya.

Pria asal Desa Boyotelu, Wero, Pekalongan, Jawa Tengah ini pantas berbangga, karena ia punya prinsip hidup mandiri dan tidak mau menyusahkan orang lain. “Meskipun miskin tapi terhormat. Itulah hidup mandiri,” ujarnya berprinsip. Sastro ulet bekerja sejak muda. “Sebelum menjadi pemulung, saya jual makanan warteg. Karena terjerat utang, warteg dijual,” bebernya.

Sastro mengaku, kini hidupnya pas-pasan, kalau tidak dibilang miskin. Lihat saja tempat tinggalnya yang berlokasi di Gang Dogol, Karet Pedurenan, Jakarta Selatan yang bentuknya berupa gubuk. Dindingnya terbuat dari susunan triplek. Lantainya beralaskan tanah. Tak ada lampu listrik. Namun, mereka masih bersyukur. “Karena untuk kontrakan saya tidak diminta bayaran sama orang yang punya tanah kontrakan ini. Dia mengerti keadaan saya,” terangnya.

Dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya, pemandangan di lokasi rumah kontrakan Sastro sungguh amat kontras. Rumah kumuh dan pengap itu dikepung deretan gedung pencakar langit nan mencolok, semisal mall atau pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, serta sentrasentra bisnis lainnya. “Sudah 15 tahun saya tinggal di sini. Sebelumnya sempat pindah-pindah,” tuturnya.

Sastro dan Tasriah sebenarnya memiliki 5 anak dan 11 cucu. “Tapi saya tidak mau tinggal bareng anak. Semuanya hidup terpisah dari saya. Mereka sudah berkeluarga semua. Tinggal bersama anak dan istrinya,” beber Sastro.

Karena sama-sama tuarenta, Sastro dan Tasriah mengalami kesulitan jika mereka jatuh sakit. “Susah jadinya, karena jauh dari anak-anak. Sementara biaya berobat cukup mahal. Jadi, kalau sakit kita nyari obat saja supaya murah. Kalau berobat duit dari mana,” beber Tasriah lagi.

Seingat Tasriah, sejak dulu ia belum pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah. “Kalau pun ada itu dari orang-orang sekitar yang peduli,” kilahnya. Padahal, dalam konstitusi kita, jelas-jelas disebut bahwa orang-orang telantar dipelihara oleh negara. Pada tataran praksisnya, amanat konstitusi itu hanya terhenti di atas kertas belaka, tak ada wujud nyatanya. ■

sumber :
http://monitorindonesia.com/2009/07/alamak-si-miskin-dalam-kepungan-pencakar-langit/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: