Ada Mbok Jumi di Hari Kartini..


Ada Mbok Jumi di Hari Kartini..

Di hari kartini ini aku terkenang dengan kisah Mbok Jumi. Mbok Jumi adalah salah satu korban lumpur Lapindo.

Juni 2008 mungkin merupakan bulan yang tidak pernah dilupakan oleh keluarga Ibu Jumik, korban lumpur Lapindo. Pasalnya, di bulan tersebut ibu berusia 52 tahun itu mulai merasakan sakit luar biasa di perutnya. Sakit di perutnya itu yang kemudian menghantar Ibu Jumik menghadap Sang Pencipta. Pada saat itu keluarga Ibu Jumik pun segera membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo. Sekitar dua minggu Ibu Jumik dirawat di rumah sakit. Namun, karena tak mampu membiayai ongkos rumah sakit, keluarga Ibu Jumik membawanya pulang ke tempat pengungsian korban Lapindo di Pasar Baru Porong. Keluarganya pun pasrah. Selanjutnya, Ibu Jumik dirawat dengan menggunakan pengobatan alternatif. Celakanya, dalam keadaan sakit kronis tersebut Ibu Jumik masih terpaksa melewati hari-harinya di pengungsian korban Lapindo.

Dua tahun lebih luapan lumpur Lapindo telah menghancurkan rumah Ibu Jumik di Desa Renokenongo. Menurut penuturan Sugiyat, anak tunggal Ibu Jumik, seperti yang ditulis di web korban Lapindo, rumah keluarganya terendam lumpur setelah muncul ledakan pipa gas Pertamina. Namun, air yang telah menggenangi rumahnya sejak hari pertama munculnya semburan lumpur memaksa keluarga tersebut meninggalkan rumahnya untuk menjadi pengungsi. Mungkin Tuhan tidak rela Ibu Jumik mengalami penderitaan yang terlalu panjang. Pada Minggu, 30 November 2008, Ibu Jumik mengembuskan napas terakhir.

Kematian adalah takdir Tuhan. Namun, kematian Ibu Jumik adalah potret dari runtuhnya rasa keadilan di negeri ini. Institusi negara, dari pusat hingga daerah, tidak merespons secara baik derita yang dialami warganya. Kelompok korporasi yang terkait dengan persoalan semburan lumpur pun membiarkan Ibu Jumik meregang nyawa dengan masih menyandang status sebagai korban lumpur. Ibu Jumik dan keluarganya dapat dipastikan tidak memiliki kesalahan kepada Lapindo. Namun, tanpa permisi, semburan lumpur telah menghancurkan bukan hanya tanah dan rumahnya namun juga harapannya.

Derita yang dialami Ibu Jumik sebagai korban Lapindo hingga akhir hayatnya itu adalah sebuah fenomena gunung es. Banyak korban Lapindo yang mengalami penderitaan yang sama atau bahkan lebih menyedihkan, meskipun tidak harus diakhiri dengan mengembuskan napas terakhir seperti yang dialami Ibu Jumik. Uang hasil ganti rugi, yang seharusnya dapat segera diterima korban Lapindo begitu semburan lumpur menenggelamkan rumahnya, pun hingga kini masih menyisakan persoalan. Berbagai kebijakan pemerintah, baik secara tertulis maupun lisan, justru tidak menjamin kehidupan warga korban menjadi lebih layak atau minimal sama seperti sebelum semburan lumpur menerjang kampungnya.

Kematian Ibu Jumik seakan membuka tabir bahwa keadilan sosial di negeri ini sebenarnya telah runtuh dan menjadi bangkai.

sumber :
http://politik.kompasiana.com/2010/04/22/ada-mbok-jumi-di-hari-kartini/

Iklan

2 Komentar (+add yours?)

  1. Kingput
    Jul 28, 2011 @ 03:32:11

    kenyataan memang pahit tetapi ada hikmah dibalik penderitaan.

  2. Raka yusna Wiryawan
    Jul 31, 2011 @ 23:45:20

    iyaa begitulahh hidup om put … kita di tuntut untul sabar dan selalu bertawakal kepada Allah dan berserah diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: