Tim Dokter RSUPN Cipto Mangunkusumo Beber Penyebab Meninggalnya Gus Dur


Rabu, 06 Januari 2010 , 06:53:00
Operasi Gigi Sukses, Terjadi Enam Sumbatan di Panggul
Tim Dokter RSUPN Cipto Mangunkusumo Beber Penyebab Meninggalnya Gus Dur

MENJELASKAN: Dari kiri, Dirut RSCM Prof Akmal Taher, dr Umar Wahid, Ketua Tim Dokter Jusuf Misbach, dan Ketua Komite Medik RSCM Dr Bambang Hirmani saat memberi keterangan kronologis kondisi Gus Dur pada detik-detik menjelang wafat di RSCM. (Titik Andriyani / JAWA POS)

Tujuh hari sudah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berpulang. Kemarin tim dokter yang merawatnya selama enam hari di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) membeber kondisi saat-saat terakhir Gus Dur. Ini sekaligus membantah isu yang beredar bahwa Gus Dur sengaja dibunuh.

TITIK ANDRIYANI

TIM dokter Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo atau biasa disebut RSCM yang merawat Gus Dur berjumlah 25 orang. Mereka terdiri atas ahli saraf (neurologi), kardiovaskuler, ginjal, penyakit dalam, maupun endokrin atau sistem kontrol kelenjar. Ketua tim dipegang dr Jusuf Misbach SpS (K).

Dirut RSCM Akmal Taher membeber kronologi detik-detik terakhir sebelum Gus Dur meninggal. Dia mengungkapkan, Gus Dur dirawat di RSCM pada 25-30 Desember 2009. Pada 25 Desember pukul 08.00 WIB, kata Akmal, pihaknya mendapat kabar dari Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya dr Slamet Yuwono bahwa Gus Dur akan dibawa ke RSCM lantaran kondisinya menurun.

”Keadaan umumnya lemah dan sudah waktunya cuci darah. Gus Dur sendiri rutin cuci darah tiga kali seminggu di RSCM,” ungkapnya. Apalagi, pihak keluarga juga sempat mengabarkan bahwa Gus Dur kekurangan cairan tubuh dan gula darahnya rendah.

Pada pukul 12.45 WIB, dari Surabaya, Gus Dur bersama rombongan tiba di RSCM dan langsung dibawa ke ruang hemodialisis. Di ruang tersebut kondisi kesehatan Gus Dur diperiksa secara menyeluruh. Tujuannya, mengetahui apakah kondisinya layak untuk menjalani cuci darah atau tidak. Pada 13.30 WIB, Gus Dur bersiap menjalani cuci darah. Selama persiapan, Gus Dur tetap bisa menerima tamu dan berkomunikasi dengan baik. Ketika itu, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dan Menkum ham Patrialis Akbar sempat menjenguknya. Setelah cuci darah pada pukul 18.00 WIB, Gus Dur dibawa ke kamar 116. Saat itu kondisinya sudah stabil.

Di kamar itu, kondisi Gus Dur sempat diobservasi karena ada kemungkinan dilakukan tindakan ekstraksi atau cabut gigi. Sebab, sudah dua minggu gigi Gus Dur mengalami pembengkakan (abses).

Akmal menjelaskan, dua hari setelah itu (26–27 Desember) kondisi Gus Dur semakin membaik. Karena itu, pada keesokan harinya, tim dokter memutuskan mencabut gigi geraham sebelah kanannya dengan anestesi lokal. Operasi kecil itu dilakukan di ruang bedah. ”Supaya beliau dapat dipantau secara intensif dari waktu ke waktu,’’ terang Akmal.

Senin (28/12) tim dokter melakukan tindakan ekstraksi gigi dengan anestesi lokal di ruang bedah. Ketika itu, kata Akmal, sempat terjadi episode penurunan denyut jantung, namun akhirnya tim dokter bisa mengatasi. Pukul 13.00 WIB, setelah menjalani operasi kecil, Gus Dur dibawa ke ruang intensive care unit (ICU) untuk dimonitor secara intensif. Saat itu Gus Dur dalam kondisi sadar dan stabil.

Sehari setelah giginya dicabut, Selasa (29/12) pukul 10.00 WIB Gus Dur menjalani cuci darah. Tim dokter telah menyatakan kondisinya layak untuk menjalani cuci darah lagi. Selesai menjalani cuci darah, dari ICU Gus Dur lantas dipindahkan kembali ke ruang rawat inap 116.

Keesokan harinya, Rabu (30/12), kondisi Gus Dur membaik dan tidak mengeluhkan apa-apa. ”Tidak ada keluhan apa-apa waktu itu,” terang Akmal. Namun, pada pukul 11.30 WIB Gus Dur tiba-tiba merasa kesakitan luar biasa di panggul kanannya. Rasa sakit itu, menurut Gus Gur, terasa hingga tungkai dan kaki kanan. Tak urung, tim dokter langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Saat itu diduga terjadi sumbatan pembuluh darah pada tungkai kiri dan kanan.

Pada pukul 12.30 WIB, tim dokter memutuskan melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Hasilnya, ditemukan enam sumbatan lokal pada pembuluh darah arteri panggul kanan dan panggul kiri. Akhirnya, tim dokter memutuskan melakukan pemeriksaan angiografi. Yaitu, pemeriksaan invasif dan membutuhkan izin pasien. Apalagi, saat itu Gus Dur mengalami sesak napas.

Dia langsung dipindahkan lagi ke ICU pelayanan jantung terpadu RSCM untuk pemeriksaan angiografi koroner (kateterisasi jantung). Yaitu, suatu prosedur sinar-x untuk memeriksa pembuluh darah arteri jantung (arteri koroner) dengan kamera khusus untuk melihat apakah pembuluh darah koroner mengalami penyempitan atau penyumbatan.

”Keluarga kami beri penjelasan mengenai kondisi beliau dan memberi persetujuan tertulis untuk dilakukan angiografi,” jelasnya. Pukul 14.22 WIB, tim dokter memberi laporan kepada Menkes ihwal kondisi terakhir Gus Dur. Menkes meminta tim dokter melakukan tindakan medis yang diperlukan dengan sebaik mungkin. ”Kami diminta memberi laporan ke Menkes dari waktu ke waktu,” imbuh Akmal.

Pada pukul 14.40 WIB hingga 15.08 WIB, tim dokter melakukan pemeriksaan kardiografi. Dari pemeriksaan itu ditemukan adanya sumbatan besar dari pembuluh darah besar utama aorta hingga aorta dan arteri panggul kiri dan kanan. Di daerah aorta abdominal, juga terjadi penyumbatan total.

Menurut Ketua Tim Dokter yang menangani Gus Dur, Jusuf Misbach, akibat pembekuan darah di wilayah itu, kerja jantung Gus Dur lebih keras. Akibatnya, irama jantung terganggu. Gangguan pembuluh darah itu, menurut Jusuf, disebabkan beberapa faktor risiko. Antara lain, penyakit diabetes Gus Dur, gangguan ginjal, infeksi pada geragam gigi, maupun faktor obesitas (kegemukan). Apalagi, Gus Dur memiliki riwayat terserang empat kali stroke. Terakhir kali Gus Dur terkena stroke pada September 2009 lalu.

Selain mengganggu irama jantung, sirkulasi darah ke otak juga terganggu. Pasokan oksigen ke otak juga berkurang. Alhasil, kata Yusuf, Gus Dur sempat kehilangan kesadaran pada detik-detik terakhir menjelang meninggal.

Sekitar 20 menit kemudian, tim dokter melakukan pengambilan pembekuan darah. Saat itu sudah terjadi penurunan kondisi pasien disertai penurunan kesadaran. Tak urung, tim dokter memutuskan memasang alat bantu pernapasan. ”Pada pukul 17.00, kami sempat memberi laporan ke Menkes,” ujarnya.

Tim dokter juga memberikan laporan medis kesehatan Gus Dur kepada Presiden SBY. Beberapa saat kemudian diberitakan bahwa presiden akan datang ke RSCM. Pukul 18.15 WIB kondisi Gus Dur kritis. Pada detik-detik itu kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) untuk menyelamatkan nyawanya. RJP adalah usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian.

Sekitar pukul 18.25 WIB Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba di RSCM dan ditemui keluarga pasien yang berada di depan ruang bedah. Presiden sempat masuk koridor ruang bedah, tempat Gus Dur mengalami masa-masa kritis. SBY sempat berdoa di depan pintu masuk ruang tersebut. Saat itu SBY didampingi Menkes dan menantu Gus Dur. Lima menit kemudian, presiden menjauhi ruang tindakan dan berbicara dengan tim dokter dan Menkes. Sementara itu, resusitasi masih dilanjutkan.

Saat itu Gus Dur terus didampingi tim bedah. Tim dokter terus berupaya menolong. Tapi, lima belas menit kemudian, bapak pluralisme itu dinyatakan meninggal oleh tim dokter. Kabar duka itu langsung disampaikan kepada Presiden SBY dan keluarga pasien. Sekitar pukul 18.55 WIB, SBY meninggalkan RSCM.

SEBELAS TAHUN

Alumnus FKUI itu mengatakan, sudah sebelas tahun ini dia dipercaya merawat Gus Dur. Selama itu berbagai penyakit dialami Gus Dur. Mulai masalah pencernaan, diabetes, ginjal, penglihatan, dan kegemukan. Kendati demikian, kata Jusuf, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang kuat dan tidak kenal menyerah. Hanya pada saat-saat terakhir menjelang kepergiannya, kondisi kesehatan Gus Dur drop.

”Biasanya tidak demikian. Beliau ini, meski sakit, suka bercanda dan guyon macam-macam. Kecuali, saat-saat terakhir kemarin,” ujar spesialis dan konsultan saraf RSCM itu.

Tim dokter, menurut dia, telah berupaya keras menyelamatkan alumnus Universitas Baghdad, Iraq itu. ”Kami berupaya yang terbaik,” ujar dokter asal Tasikmalaya itu.

Dia mengatakan, sebelum meninggal, kerapkali Gus Dur membaca video book tentang berbagai hal. Menurut Jusuf, video book itu diberikan oleh teman-teman Gus Dur dari berbagai negara. ”Ya, diberi orang-orang Barat itu. Isinya macam-macam, tentang pemikiran,” ujar bapak lima anak itu. Pada saat-saat terakhir itu, dia juga melihat Gus Dur mendapat video book dari salahseorang koleganya dari Universitas Canberra, Australia.

Kerapkali, kata Jusuf, saat Gus Dur menjalani perawatan di RSCM dan kondisinya melemah, dia memilih membaca dengan video book. ”Ini bukan yang pertama. Sebelumnya, beliau juga sering,” ungkapnya.

Sementara itu, dr Umar Wahid, adik Gus Dur yang juga merawat kesehatannya sehari-hari mengatakan, sejak 1990, Gus Dur berobat di RSCM. Selama itu, kata Umar, pihak keluarga memercayakan pengobatan Gus Dur ke rumah sakit milik pemerintah itu. Karena itu, pihaknya kembali membantah ihwal beredarnya sms yang berisi isu pembunuhan Gus Dur di RSCM.

”Saya tidak menyimpan sms itu. Tapi, salahsatu isi SMS itu berbunyi Gus Dur dibunuh di RSCM. Itu tidak benar,” jelasnya.

Umar mengungkapkan, selama ini Gus Dur sendiri yang menginginkan dirawat di RSCM. ”Sesuai keinginan Gus Dur, kami memercayakan pengobatan beliau di sini (RSCM, Red). Kami ingin mengatakan bahwa keluarga sepenuhnya berterima kasih kepada rumah sakit ini dan seluruh tim dokter,” tuturnya.(nw)

http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=49019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: