Tiga Jurus Selamatkan Sektor Usaha Penyerap Tenaga Kerja


Jakarta, RMOL.

Sektor properti termasuk sektor usaha yang pertama ambruk setelah Indonesia didera krisis ekonomi sejak tahun 1997. Kredit macet para pengembang di perbankan membuncah. Pembangunan perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung perkantoran, tak pelak lagi harus berhenti total.

Pemerintahan Abdurrahman Wahid, pada waktu itu, menjadikan sektor properti sebagai prioritas utama yang harus diselamatkan. Karena, sektor properti ini memiliki multiplier effect yang besar.

Sektor properti terkait dengan lebih dari 100 jenis industri, mulai dari semen, besi baja, keramik, saniter, kayu, cat, alat listrik, dan elektronik, hingga furnitur. Yang tak kalah penting, sektor properti merupakan bidang usaha yang banyak menyerap tenaga kerja.

Misalnya, jika satu rumah dikerjakan 10 orang pekerja, itu berarti 50 ribu unit rumah akan bisa mempekerjakan 500 ratus pekerja. Tentu ini, sektor yang paling pas untuk mengurangi angka pengangguran yang tinggi.

Sebelumnya, pengurus Real Estate Indonesia (REI), sibuk melobi DPR, pemerintah, Departemen Keuangan, Komite Kebijkan Sektor Keuangan (KKSK), dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) meminta agar sektor properti ini diupayakan agar beroperasi. Akan tetapi, hasil nihilnya. Semua lempar tanggung jawab. Karena tida ada yang berani memberikan keringanan utang kepada para pengembang yang nota bene para pengusaha besar.

Untung pada saat itu, Gus Dur mempercayakan ketua KKSK kepada Rizal Ramli. Dengan nada enteng Rizal menjawab amanah yang diberikan Gus Dur, ”Tidak ada yang berani melakukan restrukturissi sektor properti. Padahal sektor itu paling mudah merestrukturissinya karena aset utamanya adalah lahan.”

Dengan sigap, Rizal langsung bergerak merestrukturisasi sektor properti yang dituangkan dalam SK No 01/KKSK pada tanggal 11 April 2001 tentang Pola Kebijakan Restrukturisasi Uang Pengembang.

Tak tanggung-tanggung, melalui SK tersebut, Rizal mengeluarkan tiga opsi sekaligus untuk merestrukturisasi sektor ini. Pertama, jika pengembang mau membayar utangnya yang tercatat di BPPN secara tunai, pemerintah akan memberikan diskon bagi utang maupun bunga yang tertunggak.

Sebagai pejabat yang pro pengusaha kecil, Rizal tidak mau memukul rata memberikan diskon kepada semua pengembang.

Rizal memutuskan, pengembang Rumah Sederhana Sehat (RSS) akan mendapat diskon 50 persen, pengembang non-RSS mendapat potongan utang pokok 20 persen, sedangkan pengembang besar untuk komersial seperti mal, hotel tidak dikurangi utang pokoknya.

Untuk bunga tertunggak, bagi yang berutanga di bawah Rp 50 miliar mendaoat potongan bunga 100 persen, sedangkan di atas 50 persen potongan bunga tertunggaknya 75 persen.

Kedua, skema restrukturisasi. Opsi kedua ini hanya berlaku bagi pengembang RSS yang mendapat diskon pokok, itu pun hanya sebesar 25 persen. Sedangkan diskon bunga tertunggaknya, berkisar 50 persen untuk pengembang komerisal dan 65 persen untuk pengembang RSS. Para pengembang diberi waktu 10 tahun dengan masa tenggang oembayaran pokok maksimal tiga tahun dan bunga maksimal dua tahun.

Ketiga, skema aset setlement. Opsi terakhir ini, yang mendapat diskon hanya pengembang RSS sebsar 2 5 persen. Sedangkan diskon bunga tertunggak diberikan kepada semua pengembang berskisar antara 50 sampai 65 persen.

Seiring dengan keluarnya kebijakan tersebut, sontak langsung disambut para pengembang untuk tancap gas lagi, setelah hampir mengalami mati suri akibat krisis yang mendera. Ini bisa dilihat dari nilai kapasitas bisnis properti yang naik, Rp 9,88 triliun tahun 2001 menjadi Rp 26, 95 triliun tahun 2003.

“Begitu direstrukturisasi, aset-aset properti keluar BPPN dan para pengembang pun, bisa kembali menjalankan bisnisnya,” kata Rizal.

Para pengembang tentu merasa bangga atas kerja dan perhatian pemerintahan Gus Dur terhadap dunia properti. Tidak heran jika Wakil Ketua REI Lukman Purnomosidhi menyebut Rizal sebagai “Dewa Penyelamat Sektor Rel Estate.” [zul]

sumber :

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2010/01/17/86517/PRESTASI-GUS-DUR-Tiga-Jurus-Selamatkan-Sektor-Usaha-Penyerap-Tenaga-Kerja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: