Sulaiman, 8,5 Tahun Menjadi Asisten Pribadi Gus Dur


Jum’at, 01 Januari 2010 , 07:22:00
Tugasnya Menyeleksi Makanan hingga Tamu yang Berurusan Politik
Sulaiman, 8,5 Tahun Menjadi Asisten Pribadi Gus Dur

Selain keluarga, ada orang yang sangat setia mendampingi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dia adalah Sulaiman. Pria yang sering terlihat mendorong kursi roda atau menuntun presiden Republik Indonesia ke-4 itu. Banyak cerita dari asisten pribadi Gus Dur tersebut.

TOMY C GUTOMO, Jombang

RAUT muka Sulaiman, Kamis kemarin (31/12), sempat kesal. Hampir saja dia tidak bisa masuk ke areal Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur (Jatim), tempat Gus Dur dimakamkan. Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang menjaga pintu gerbang ponpes tersebut tidak mengenalinya. Pria 33 tahun itu memang bukan tokoh terkenal. Namun para santri dan pengurus Ponpes Tebuireng tentu mengenali wajahnya. Akhirnya dia lolos dari hadangan Paspampres. Hanya Sulaiman, asisten Gus Dur yang lain, Bambang Susanto, tetap tidak dihadang Paspampres.

Sulaiman memang tidak datang bersama rombongan jenazah Gus Dur. Sebagai mantan presiden, jenazah mantan ketua umum PB NU tiga periode itu sudah ditangani oleh pasukan TNI. Sejak Rabu malam (30/12), pukul 18.45 WIB, pria kelahiran 26 Agustus 1976 itu kehilangan pekerjaan yang dia tekuni selama 8,5 tahun terakhir. Tentu sejak Gus Dur wafat, dia tidak lagi bertugas menuntun kursi roda.

’’Saya akan sulit melupakan Gus Dur. Terlalu banyak cerita indah bersama beliau,’’ kata Sulaiman kepada media ini usai pemakaman Gus Dur kemarin.

Sulaiman merupakan asisten Gus Dur yang bertahan paling lama. Sebelumnya Gus Dur punya asisten pribadi, yakni Sastro Al-Ngatawi, tapi tidak bertahan lama. Sulaiman rasanya yang paling awet. Rupanya Gus Dur cocok dengan pria asli Jakarta tersebut.

Awalnya Sulaiman bukan siapa-siapa. Sebagai Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Jagakarsa, dia otomatis aktif juga sebagai pasukan Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Wilayah tugasnya termasuk Ciganjur, kediaman Gus Dur. Setiap ada kegiatan-kegiatan di rumah Gus Dur, di Jalan Warung Silah, Sulaiman selalu aktif membantu. ’’Mungkin karena melihat saya fanatik dengan Gus Dur, saya diminta bantu-bantu di keluarga Gus Dur,’’ kata Sulaiman. Yang mengajak saat itu adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor Saifullah Yusuf.

Tugasnya saat itu serabutan. Apa saja yang diperintah keluarga Gus Dur dia jalankan. Tidak lama setelah itu, Gus Dur terpilih menjadi presiden. Pendiri Forum Demokrasi itu pun boyongan ke Istana Merdeka. Sulaiman ikut diboyong. ’’Tugas saya waktu itu menyiapkan makan untuk Gus Dur,’’ kata bapak dua anak itu.

Tugas itu hanya bertahan empat bulan. Pekerjaan menyiapkan makan diambil alih oleh rumah tangga kepresidenan. Sulaiman diberi tugas lain, sebagai kepala rumah tangga Ciganjur. Tugasnya mengurusi tetek bengek keperluan di kediaman pribadi Gus Dur tersebut. Sehingga kalau di luar acara kenegaraan, Sulaiman yang bertugas menjadi asisten Gus Dur.

Pada Juli 2001, Gus Dur lengser. Alumnus Universitas Baghdad Iraq itu meninggalkan istana dan kembali ke Ciganjur. Sejak itu Sulaiman mendapat kepercayaan penuh dari keluarga Ciganjur untuk mendampingi Gus Dur. Ada yang menyebut asisten, pengawal, atau ajudan. Sebab Gus Dur maupun keluarga Ciganjur tidak memberi nama khusus untuk jabatannya tersebut. ’’Pokoknya disuruh bantu-bantu Bapak,’’ katanya. Namun Sulaiman lebih senang menyebut dirinya asisten pribadi Gus Dur. Jabatan itu bertahan sampai Gus Dur mengembuskan napas terakhir.

Banyak suka dan duka yang dirasakan Sulaiman selama 8,5 tahun mendampingi Gus Dur. Kadang-kadang emosi Gus Dur meledak-ledak. Biasanya tensi Gus Dur naik gara-gara tamu yang datang membawa masalah. ’’Biasanya masalah PKB,’’ kata Sulaiaman.

Kalau sudah seperti itu, tugas Sulaiman untuk meredakan emosi Gus Dur. Caranya dengan meminta Gus Dur bercerita tentang masa-masa kuliah di Mesir dan Iraq. Menurut Sulaiman, Gus Dur sangat senang menceritakan masa mudanya termasuk saat mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Kalau sudah cerita tentang masa-masa kuliah, Gus Dur lupa dengan kemarahannya.

Untuk menjaga emosi Gus Dur, Sulaiman menyeleksi tamu-tamu yang akan bertemu Gus Dur. Biasanya kalau urusan PKB, Sulaiman meminta tamu tersebut bertemu dengan pengurus DPP PKB yang lain. Tapi gara-gara menyeleksi tamu, Sulaiman kerap mendapat fitnah. ’’Yang saya tolak koar-koar di luar katanya saya minta fee agar bisa ketemu Gus Dur,’’ ujar Sulaiman.

Tapi ada kemarahan Gus Dur yang tidak bisa diredakan Sulaiman. Kalau dilarang makan makanan kesukaannya, Gus Dur bisa marah besar. ’’Kamu itu ngatur-ngatur saya,’’ kata Sulaiman menirukan ucapan Gus Dur. Kalau sudah seperti itu tidak ada pilihan lain bagi Sulaiman kecuali menuruti permintaan Gus Dur. Imbasnya Sulaiman yang kena semprot Ny Sinta Nuriyah (istri Gus Dur) atau Yenny Zannuba Wahid (putri kedua Gus Dur).

Soal makanan, kata Sulaiman, Gus Dur memang paling bandel. Padahal daftar pantangan makanan dari dokter sangat panjang. Suatu ketika, Gus Dur mencium bau durian. Langsung seketika itu, Gus Dur minta diambilkan buah berkulit tajam tersebut. Tentu saja Sulaiman mengingatkan kalau Gus Dur tidak boleh makan durian. ’’Kalau satu boleh, yang tidak boleh itu kalau satu truk,’’ ujar Sulaiman menirukan ucapan Gus Dur saat itu.

Meski penyakit ginjalnya parah dan harus cuci darah tiga kali seminggu, Gus Dur boleh dibilang tidak pernah membatasi diri soal makanan. Semua pantangan dilanggar. Sulaiman yang harus pandai-pandai menjaga. Gus Dur sangat suka makan Soto Betawi, terutama yang berisi jerohan. Kalau Gus Dur minta Soto Betawi, Sulaiman minta ke penjualnya untuk mengurangi porsi jerohan dalam Soto yang akan dimakan Gus Dur. ’’Paling saya kasih paru sedikit dan daging. Jerohan yang lain saya minta disingkirkan,’’ kata Sulaiman. Kadang-kadang Gus Dur protes karena sotonya tidak seperti yang dahulu biasa dia makan.

Soal minum juga demikian. Seharusnya dalam sehari, Gus Dur tidak boleh minum lebih dari 700 cc. Kalau kelebihan air, badannya bisa bengkak dan bisa menyumbat jantung. Tapi itu juga dilanggar setiap hari. Bagi Sulaiman Gus Dur daya tahan tubuh Gus Dur melebihi daya tahan orang biasa. ’’Kata dokter nyawa Gus Dur itu ada sembilan,’’ tambahnya.

Hampir semua waktu Sulaiman tersita untuk mendampingi Gus Dur. Untung saja, istri dan dua anak Sulaiman bisa mengerti. ’’Saya bilang kepada istri, ini pengabdian. Alhamdulillah istri saya mengerti,’’ ujar Sulaiman.

Sulaiman ikut Gus Dur saat masih bujangan. Kira-kira setahun menjadi asisten Gus Dur, Sulaiman menikahi Rosmayanti, gadis yang usianya delapan tahun lebih muda darinya. Awalnya, Sulaiman tidak ingin memberitahukan ke Gus Dur. Alasannya karena sungkan. Tapi Gus Dur akhirnya tahu juga. Bahkan Gus Dur menawarkan diri untuk menjadi wali nikah. ’’Nanti saya saja yang menikahkan, mau bahasa Arab, Tiongkok, atau Indonesia?’’ tanya Gus Dur waktu itu. Dan Sulaiman pun dinikahkan oleh Gus Dur dengan bahasa Arab. Tidak hanya itu, Gus Dur juga memberi uang Rp 15 juta untuk mas kawin plus membiayai pesta pernikahan Sulaiman.

Dari pernikahannya itu, Sulaiman dikaruniai dua anak, yakni Egi Rifki Syahdan (5), dan Nayana Keisya Aurelifia (4). Nama Syahdan pada anak pertamanya merupakan pemberian Gus Dur. ’’Kalau anak kedua, Gus Dur yang membiayai kelahirannya. Soalnya saat itu harus operasi caesar,’’ ungkap Sulaiman.

Gus Dur sangat perhatian pada Sulaiman. Setelah punya anak, Gus Dur tidak mengizinkan lagi Sulaiman menginap di Ciganjur. Kalau habis perjalanan ke luar kota atau luar negeri, Sulaiman juga disuruh libur beberapa hari. ’’Akan sulit bagi saya melupakan semua itu,’’ ujar Sulaiman.

Sulaiman juga mendampingi perjalanan terakhir Gus Dur. Yakni ke Rembang dan Jombang, pada 24 Desember lalu. Menurut Sulaiman, izin yang dimintakan ke dokter saat itu hanya ke Rembang, Jawa Tengah. ’’Alasan beliau ke Rembang katanya kangen dengan Gus Mus (Mustofa Bisri, Red),’’ katanya.

Setelah sampai di Rembang, Gus Dur minta ke Jombang. Sulaiman sempat mengingatkan izin dari dokter hanya sampai Rembang. Tapi Gus Dur ngotot. ’’Katanya ke Jombang ingin pamit. Mungkin itu isyarat,’’ tuturnya.

Beberapa minggu terakhir, kata Sulaiman, Gus Dur juga sering menanyakan kabar teman-temannya. Mulai dari para kiai hingga orang-orang dekatnya.

Apa rencana setelah Gus Dur wafat? Sulaiman menggeleng. ’’Mungkin saya akan buka usaha,’’ ucapnya.(*)

http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=48658

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: