Sederhananya Gus Dur ketika ‘jalan-jalan’ ke luar negeri


Jalan-jalan dengan Gus Dur, pertama, tidak menghabiskan uang karena naik pesawat yang sudah bobrok sekali. Bahkan, dari sini ke Bangkok harus berhenti di Medan untuk mengisi bensin.

Pulangnya ada yang harus naik Garuda karena bensinnya kurang. Di sana saya tinggal di hotel yang biasa. Saya tinggal berdua sekamar. Beda dengan sekarang saya di InterMatrix Communications tidak pernah berdua sekamar tapi sendiri karena cukup ada uang untuk bayar kamar hotel.

Gus Dur hemat sekali. Di sana boro-boro jalan-jalan. Dari mulai bangun tidur pukul 05.00 sampai tidur pukul 23.00, Gus Dur bergiliran menerima bermacam-macam tamu. Contoh, saat Sidang Umum ASEAN di Singapura.

Saya selalu ikut karena Gus Dur kurang bisa melihat dan senang diajak bicara, saya selalu mendampinginya. Pukul 05.00 saya sudah di kamar Gus Dur menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad. Sesudah itu, Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura). Kalau di sarapan yang resmi, saya duduk agak jauh karena jabatan saya rendah, juru bicara. Kalau dalam pertemuan yang penting saya hadir.

Kemudian di sidang, saya juga beruntung karena ruang sidang hanya kepala pemerintahan saja yang boleh masuk, tapi karena Gus Dur kurang bisa melihat maka ada izin khusus untuk saya menemani. Jadi saya selalu ikut sidang dengan kepala pemerintahan. Saya mengikutinya sangat serius, tanpa catatan tapi jauh lebih paham daripada beberapa perdana menteri yang lain.

Apakah yang diperjuangkan adalah kepentingan nasional kita?

Tidak, kepentingan manusia. Itulah kehebatan Gus Dur karena ia tidak membatasi diri semata pada kepentingan nasionalisme. Kita memerdekakan manusia agar sama-sama makmur. Juga memberantas kekerasan dan korupsi. Gus Dur percaya kalau kita meningkatkan derajat manusia, negaranya juga akan maju. Gus Dur bukan seperti orang yang misalnya mempropaganda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau Merah Putih agar kita maju tapi orang lain sengsara.

Jadi, Gus Dur selalu bertemu dengan tamu-tamu, saya juga buktinya. Kalau di luar negeri, Gus Dur dan rombongan sudah tidak bisa jalan-jalan. Misalnya, wartawan yang ikut 40 orang maka pulangnya pasti ada 10 orang sakit.

Jadi Gus Dur ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan tapi untuk membersihkan nama Indonesia, betulkah?

Gus Dur tidak perlu jalan-jalan karena sebelum menjadi presiden sudah 35 kali ke Australia, dan 20 kali ke AS. Barangkali presiden lain yang belum pernah ke luar negeri, kecuali Habibie yang memang belum pernah ke Indonesia karena tinggalnya di luar negeri. Itu adalah hal yang tidak dimengerti orang dikira jalan-jalan itu senang, padahal ini pekerjaan.

Anak-anak Gus Dur misalnya, kalau ke Singapura tidak kemana-mana. Kalau ke luar hotel diam-diam dan saat kembali lalu saya tanya, “Belanja nih?” Mereka menjawab, “Iya nih Om.” Namun saat isi kantong belanjaan dibuka ternyata isinya buku bukan Barbie doll ataupun gadget.

Masyarakat banyak yang punya persepsi negatif mengenai Gus Dur dan kepresidenannya. Kapan kira-kira masyarakat bisa melihat dengan perspektif jernih bahwa Gus Dur adalah aset bangsa, punya legasi kuat dan kita bisa menikmati hasilnya sampai sekarang?

Gus Dur tidak akan meminta supaya orang melihat dia dengan baik. Ia hanya mengharapkan bahwa nilai-nilai yang dianut menjadi nilai bersama. Dia mengatakan, “Tidak penting saya menjadi presiden. Saya tidak care, saya dijatuhkan.” Yang dia care adalah bahwa koleksi CD Beethoven milik dia jangan hilang.

Ide-ide dia berjalan atau tidak bagi dia tidak penting karena dunia ini terlalu banyak orang yang punya kebebasan pendapat, dan memang harus demikian. Jadi tidak ada gunanya untuk menyeragamkan pendapat. Yang penting adalah mengoptimalkanhasil bersama.
Sumber: DUTA MASYARAKAT, 07 Februari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: