‘Potret Asli’ Seorang Gus Dur


Mengapa Barton? Doktor asal Australia ini memang satu di antara banyak Indonesianis di Negeri Kanguru yang merasa dekat dengan Gus Dur. Dan peneliti studi keagamaan ini juga merasa sangat tertarik untuk menulis buku tentang Gus Dur, jauh sebelum mantan Ketua PB NU itu menjadi presiden. ”Saat itu ‘kan belum ada yang menulisnya,” kata Barton. ”Memang saya akui waktu penyelesaiannya sangat lama. Butuh satu setengah tahun untuk menyelesaikan tulisannya. Saya juga nggak pernah memperkirakan dia akan menjadi orang nomor satu di Indonesia.”

Gus Dur, baginya, adalah presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis. Setelah dua tahun menjabat, dia terpaksa mundur dari tampuk kepemimpinannya dalam situasi yang sangat memalukan. ”Selain itu banyak sekali tindakan Gus Dur yang disalahartikan. Makanya saya tertarik untuk menuangkannya ke dalam bentuk biografi,” ungkap Barton yang fasih berbahasa Indonesia.

Dalam buku terbitan Equinox Publishing (2002) yang dikemas dalam lima bagian ini, Barton menyebutkan semestinya sejak awal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merintis kerja sama dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). ”Jika itu dilaksanakan, tak mungkin terjadi ‘pelengseran’ dengan cara seperti itu. Saya harap ke depan bisa terwujud kerja sama itu.”

Barton menganggap secara politik Gus Dur terlalu naif dan kurang memperhatikan modal politik yang cukup, sehingga akhirnya membahayakan posisinya. Apalagi, Gus Dur tidak mendapat dukungan dari parlemen. Di samping kelemahannya, lanjut Barton, sumbangsih Gus Dur bagi demokratisasi di Indonesia cukup banyak.

”Dia menunjukkan contoh pemerintahan yang mendengarkan rakyat, Istana yang terbuka, dan presiden yang demokratis,” katanya. ”Itu terbukti dengan kasus Imlek bagi masyarakat Cina di Indonesia. Sementara, di Dili Gus Dur sempat meminta maaf atas segala kengerian yang terjadi di sana.”

Di balik kelemahan fisiknya — kemampuan penglihatan yang kurang serta penyakit stroke yang membahayakan — kata Barton, Gus Dur adalah sosok yang punya banyak daya tarik. ”Dalam pemikirannya ia mampu menggabungkan dunia Islam yang tradisional dengan dunia modern, bahkan dunia Barat. Pemikiran semacam itu saya sebut sebagai: Merambah jalan menuju masa depan.”

Gus Dur merupakan orang yang tak terlalu mempedulikan orang yang bertentangan pendapat dengan dirinya. Bahkan, menurut Barton, Gus Dur termasuk orang yang cukup eksentrik. ”Kita mengenal istilah ‘biarnisme’ di era Gus Dur. Ini merupakan kelemahan politik sekaligus salah satu ciri khas yang positif, tanpa pretensi. Kejujuran itulah yang paling penting.”

Proses penulis buku setebal 144 halaman ini diakuinya telah berjalan cukup lama. Setidaknya ia mulai mengumpulkan bahan sejak jauh sebelum Gus Dur terpilih sebagai presiden, tahun 1996 tepatnya. Untuk mendapatkan bahan-bahan yang diperlukannya, Barton melakukan ‘first-hand observation.’ ”Saya turut mengikuti Gus Dur ke banyak tempat, termasuk ke Istana. Dari situlah saya belajar mengerti banyak hal tentang situasi Indonesia serta memahami sebab Gus Dur bertindak,” kilahnya.

Buku terbitan Equinox Publishing ini, menurut Barton, adalah ‘potret asli’ Gus Dur yang bisa dipercaya, yang ditujukan bagi kawan-kawan Gus Dur utamanya yang berasal dari luar negeri. Kesan terdalam yang didapat Barton dari proses penulisan biografi resmi Gus Dur ini dirasakannya ketika mengikuti Gus Dur di Istana. ”Sama sekali tidak ada perubahan sikap ketika sebelum dan setelah menjadi presiden. Itu yang menurut saya itu cukup luar biasa.”

Kendati demikian, Barton yang juga seorang dosen senior di Deakin University ini mengaku bukunya tak terlepas dari bias dan subjektivitas. Barton mengaku cukup sulit untuk membuat biografi ini. ”Terlalu banyak yang harus dikritik. Saya mengalami semacam pergumulan pribadi. Walaupun saya suka Gus Dur tetap saja banyak kritik. Sempat frustasi juga.”

Di mata isteri Gus Dur, Sinta Nuriah Rahman, buku ini bisa menjadi alat bantu untuk mengungkapkan kebenaran. ”Saya senang sekali ada buku seperti ini. Nantinya semua kebenaran akan terungkap dengan sendirinya ketika orang membacanya,” ujarnya.

Bagi Yenny Abdurrahman Wahid, putri Gus Dur yang setia menemani ayahnya, buku ini bermakna serupa. ”Buku ini sangat baik. Ini bisa menjelaskan banyak ketidakmengertian yang dialami oleh masyarakat tentang sosok Bapak. Siapa dia sebenarnya,” katanya. ”Banyak kesalahpahaman yang bisa terpecahkan. Misalnya tentang mengapa Gus Dur membuat suatu kebijakan. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan dikeluarkannya kebijakan tersebut. Orang ‘kan tidak tahu alasannya. Orang hanya bisa mengomentari itu buruk. Padahal ada kebutuhan politik yang pada saat itu sangat mendesak. Saat menjabat dulu kan Bapak tidak punya banyak waktu untuk meluruskan persepsi orang. Terlalu banyak persoalan yang harus diselesaikan.”

Yang menarik dari biografi sang ayah, menurut Yenny, ialah kejujuran Barton dalam mengungkapkan fakta-fakta tentang diri Gus Dur. Barton menulis secara jujur kesan yang didapatnya ketika berinteraksi dengan Gus Dur. ”Kita sama sekali tak pernah mengarahkan isinya harus bagaimana. Apa yang dilihat dan dianalisis oleh Bartonlah yang ada di buku ini. Mungkin banyak juga yang akan tak suka dengan buku ini karena mungkin dianggap subjektif. Tapi masyarakat harus belajar menghormati biografi ini karena ditulis oleh orang yang mengenal Bapak. Kebanyakan kan orang hanya menilai dari luar saja,” tandas Yenny.

Tak hanya berisikan penjelasan tindak-tanduk Gus Dur, biografi ini juga menyingkap kehidupan rumah tangga pasangan Gus Dur-Sinta Nuriah. ”Barton juga mewawancarai saya tentang lingkungan rumah tangga kami,” sebut Sinta.

Kelemahan biografi resmi Gus Dur ini, menurut Yenny, ialah ketidakmampuannya untuk mengungkap secara menyeluruh pribadi ayahnya. Karenanya, ia mengharapkan di masa mendatang akan ada buku serupa yang bisa mengungkapkan sisi lain dari Gus Dur.

Gus Dur sendiri menyambut baik biografi dirinya ini. ”Ini adalah bagian dari cara kita berkomunikasi. Sehabis buku ini saya akan bikin kumpulan artikel dengan judul ‘Kolom dan Artikel Era Lengser’,” tandasnya disambut gelak tawa para tamu yang hadir saat peluncuran biografinya.

http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=6&artid=58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: