Peserta Tahlilan Satu Kilometer


Rabu, 06 Januari 2010 , 07:11:00
Peserta Tahlilan Satu Kilometer
KASI: Gua Dur Perwujudan Bodhisattva

JOMBANG – Tahlilan tujuh hari wafatnya KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Makam Ponpes Tebuireng, Diwek, Jombang, Jawa Timur, Selasa (5/1) tadi malam diikuti ribuan jamaah. Massa dari berbagai daerah di Indonesia itu tidak hanya memadati kompleks makam. Di tengah hujan gerimis, massa memenuhi Jalan Raya Cukir di depan Ponpes Tebuireng, dalam radius 1 km. Ruas jalan yang menghubungkan Jombang-Kediri dan Malang itu ditutup sejak selepas Maghrib.

Doa tahlil dipimpin oleh KH Masduqi Abdurrochim dari Jombang. Hal itu dilakukan di atas panggung berketinggian 1 m, di samping timur kompleks makam. Selanjutnya, secara bergantian, KH. Salahudin Wahid selaku Pengasuh Ponpes Tebuireng dan Zannuba Arifah Chofsoh atau Yenny Wahid sebagai wakil keluarga besar Gus Dur diberi kesempatan untuk menyampaikan ceramah singkat.

Yenny Wahid yang berdampingan dengan suaminya, Dhohir Al Farisi menyampaikan sejumlah pesan Gus Dur untuk ummat. Antara lain jangan melakukan sesuatu karena ingin dipuji atau karena ingin mendapatkan jabatan. ’’Lakukan karena ingin mendapat ridha Allah,’’ kata Yenny.

Pesan berikutnya, agar mengutamakan ilmu pengetahuan. Semasa hidup, lanjut Yenny, Gus Dur rajin menambah pengetahuan dengan membaca buku. Karena keterbatasan indera penglihatan, teks buku diubah menjadi materi audio. ’’Bahkan saat dirawat di RSCM akhir Desember lalu, Gus Dur tetap minta bisa diperdengarkan buku,’’ ujarnya.

Selain itu Yenny juga menyebut, ayahandanya semasa hidup tidak hanya merangkul orang baik seperti cerita Pandawa dalam mitos pewayangan. Bahkan, kelompok Kurawa pun didekati. ’’Sebab, bapak yakin bahwa para kurawa itu tengah berproses menjadi orang baik,’’ beber Yenny.

Yenny juga mengibaratkan, Gus Dur lautan. Lautan, tempat penyatuan semua mahluk dan benda yang mengalir melalui sungai-sungai. Hal itu menunjukkan semangat Gus Dur untuk memperjuangkan pluralisme.

Terakhir, Yenny mengajak jamaah tahlil untuk melantunkan syair Abunawas.

BIKSU ZIARAH

Puluhan biksu dari Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), kemarin berziarah ke makam Gua Dur. Menurut mereka, Gus Dur merupakan perwujudan Bodhisattva, mahluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan mahluk semesta.

Sekretaris Jenderal KASI Bhiksu Vidya Sasana Sthavira menilai, Gus Dur selalu membantu setiap orang yang mengeluh. ’’Ia juga tak takut bahaya yang akan menimpanya,” ujarnya usai mengunjungi makam.

Sosok putra KH Wachid Hasyim itu bisa menerima risiko dengan selalu merangkul orang-orang yang menderita. Terkait banyaknya usulan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur, dia mengatakan, tanpa gelar pahlawan, nama Gus Dur sudah melebihinya. ’’Itu tugas pemerintah,” ujar Bhiksu Vidya.

Ketika menjadi pahlawan nasional, dikhawatirkan kebesaran Gus Dur hanya akan diceritakan hanya di bangku sekolah. Namun, seharusnya cerita tentang Gus Dur, diceritakan secara turun temurun, lewat sekolah keluarga, masyarakat. “Gus Dur harus menjadi bagian dari kita. Jadi secara berkelanjutan, kita harus meneruskan cita-citanya,” katanya.(fen/lal/jpnn)

http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=49023

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: