Operasi Penyelamatan PLN


Jakarta, RMOL.

Apa yang tersisa dalam memori kolektif masyarakat Indonesia dari masa pemerintahan mendiang Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang kurang dari dua tahun?

Bisa dipastikan, masyarakat umumnya hanya ingat Gus Dur keluar dari Istana Negara memakai celana pendek, mengeluarkan Dekrit Presiden, atau paling tidak ingatan tentang brunneigate dan buloggate yang pernah dikaitkan dengan dirinya.

Padahal, sebagai presiden pertama setelah pemerintahan Orde Baru tumbang, Gus Dur telah melalukan sejumlah terobosan besar. Tapi sayang, terobosan tersebut seolah dari dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Salah satunya adalah melakukan operasi penyelamatan Pembangkit Listrik Negara (PLN) dari kebangkrutan.

Sebagaimana tersiar, pada tahun 1996, ada sebuah perjanjian antara PLN dengan 27 perusahaan listrik swasta yang tertuang dalam Purchasing Power Agreement (PPA) atau Energy Sales Contract (ESC). Dalam perjanjian tersebut dijelaskan, ke-27 perusahaan swasta itu akan melego energi listirik ke PLN selama 30 tahun. Selepas 30 tahun, pembangkit listrik tersebut, menjadi miliki pemerintah.

Akan tetapi celakanya, harga jual energi listriknya melambung tinggi berkisar antara 7-9 sen dolar AS per kWh. Bandingkan dengan penjualan listrik swasta di negara-negara Asia lainnya yang hanya 3,5 sen dolar AS per kWh.

Perlu diketahui, perusahaan-perusahaan swasta ini didirikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional dengan menggandeng keluarga dan kroni Soeharto. Artinya, keluarga dan kroni Soeharto turut mencicipi manisnya laba tersebut.

Sebagai presiden yang memiliki tugas utama mereformasi semua kebijakan Orde Baru yang tidak menguntungkan negara dan rakyat, Gus Dur tampil di front terdepan untuk menyelamatkan PLN dari kebangkrutan yang by design ini.

Tak tanggung-tanggung, Gus Dur membentuk Tim Keppres 133/2000 yang bertugas merestrukturisasi PLN dan renegoisasi kontrak-kontrak pembelian swasta. Untuk tugas mulia ini, Gus Dur mempercayakan kepada Rizal Ramli, selaku Menteri Koordinator Perekonomian.

Bak mengejar jam tayang, tim yang dipimpin Rizal tersebut langsung bergerak cepat meminta Tim Restrukturisasi PPA yang dipimpin Dirut PLN waktu itu, Kuntoro Mangkusubroto, untuk melakukan renegoisasi harga jual listrik swasta ke PLN sesuai standar internasional, 3,5 sen dolar AS per kWh.

Tim Restrukturisasi PPA memang mengabulkan. Dengan catatan, masa kontraknya harus diperpanjang menjadi 40 tahun, dari sebelumnya 30 tahun. Rizal tidak mau mengamini. Karena menurutnya, hal ini sama saja menambah beban PLN.

Langkah Rizal tidak surut. Alumnus ITB ini kemudian meminta perwakilan Bank Dunia dan IMF untuk Indonesia turut membantu negoisasi, baik secara teknis maupun lobby. Sayang, langkah kedua ini juga kandas.

Pasalnya, perusahaan multinasional tersebut melibatkan perusahaan, bank, dan tokoh- tokoh besar dari negara-negara maju. Perwakilan Bank Dunia dan IMF hanya mengaku terfikir, tapi tidak tergerak untuk membantu meringankan beban besar PLN tersebut.

Seolah tidak kehabisan akal, Rizal mencoba “peruntungan” berikutnya. Dia kemudian memanfaatkan koran berpengaruh Wallstreet Journal, sebagai media untuk mensiarkan praktik KKN perusahaan listrik swasta di Indonesia ke seluruh penduduk bumi.

“Saya membeberkan praktik-praktik KKN itu. Saya berpandangan, sebuah kontrak sudah ditandatangani tapi mengandung unsur KKN, maka terbuka kemungkinan untuk direnegoisasi,” katanya mantap.

Sontak, berita Wallstreet Journal tersebut menjadi bahan “pergunjingan” manusia sejagat. Mata dunia kemudian terbelalak menyaksikan praktik KKN yang dilakukan perusahaan-perusahaan listrik swasta di Indonesia.

Usaha Rizal dan iktikad Gus Dur untuk menyelamatkan PLN dari kebangkrutan pun akhirnya berbuah manis. Perusahaan-perusahaan listrik swasta mau melakukan renegoisasi. Harga listrik swasta bisa ditekan menjadi di bawah US$ 4 per kWh

Akan tetapi, karena keterbatasan waktu, tim yang dipimpin Rizal, hanya mampu menyelesaikan 16 dari 27 kontrak pembelian listrik swasta tersebut.

“Total kewajiban pemerintah dan PLN turun drastis dari 80 miliar dolar AS menjadi 35 miliar dolar AS,” demikian Rizal. [zul]

sumber :

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2010/01/13/86278/PRESTASI-GUS-DUR-Operasi-Penyelamatan-PLN-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: