Kepedulian Gusdur Pada Masyarakat Pengungsi Kedung Ombo


KEPEDULIAN GUS DUR PADA MASYARAKAT PENGUNGSI KEDUNGOMBO

Oleh: Romo Y. Suyatno Hadiatmojo Pr

Bagi saya , mengenang Gus Dur tidak bisa lepas dari sahabat kentalnya, yakni Romo Mangunwijaya. Kisah ini berpangkal pada keterlibatan saya mengikuti perjuangan romo Mangunwijaya sejak tahun 1987 yang melakukan pembelaan terhadap masayarakat Kedungombo.

Saya hanyalah salah satu dari ratusan relawan romo Mangun, yang kebetulan sejak tahun 1996 tinggal serumah dengan beliau di Pastoran Jetis Yogyakarta. Seringkali romo Mangun menceritakan kedekatannya dengan Gus Dur.

Romo sering mengatakan bahwa bersama Gus Dur dan Ibu Gedong Oka, mereka satu iman namun berbeda agama. Untungnya menjadi salah satu cantrik romo Mangun, sering nebeng beliau saat bertemu dengan orang-orang penting di negeri ini.

Kebetulan sejak peristiwa demonstrasi besar-besaran di Kedung Ombo tanggal 17 Juni 1989, romo Mangun menunjuk saya sebagai salah satu orang yang sering diperintah untuk menyusup ke Kedungombo, dengan segala resiko yang harus saya tanggung. Misalnya, saat diperintah untuk mengecek logistic yang disusupkan ke Kedungpring, saya harus harus mengalami ditangkap dan diinterogasi dan dibuang di hutan dekat Salatiga.

Pengalaman yang tak mungkin terlupakan saat kami berdua dengan sdr Hengky sedang mengantar logistic ke dusun Kedungpring, Mlangi, Klewor, Bulu, Pelembinatur dll. Waktu itu kami mengendarai Jeep Taft tahun 1981, karena jalan menuju posko seperti sungai kering, kami terperosok di lereng jalan yang berbatu-batu. Akibatnya Jeep terjebit diantara bebatuan.

Mundur tidak mungkin, kalau maju bamper belakang jebol. Maka saya paksa untuk maju. Akibatnya bamper belakang jebol. Biarlah bamper jebol asal kiriman logistic untuk masyarakat Kedungombo dapat mencapai sasaran. Ketika sudah kembali ke Kedungombo melewati Kacangan, saya agak trauma. Maka, selanjutnya kami melewati Kemusu-Klewor dengan naik perahu untuk mencapai daerah Kedungpring sebagai posko utama. Pengalaman itu saya sampaikan kepada romo Mangun, ternyata tanggapan romo Mangun tidak mengenakkan. “Yaah itu lah perjuangan, kalau mau cari yang enak gak usah ikut berjuang. Wong berjuang kok mau cari yang enak.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun kegiatan ke Kedungombo berjalan terus. Suatu hari romo Mangun memanggil kami di Wisma Kuwera untuk diajak makan bersama dengan lauk ikan Gurami dari Jetis. Tanpa babibu, romo Mangun mengatakan: ”Besuk kalau saya meninggal jangan ditangisi ya. Nanti tongkat kayu cendana milik saya bisa digergaji dan dibagi-bagi, Kalian dapat sepotong-sepotong” (romo Mangun sambil menunjuk beberapa orang). Saya protes: ”Kok romo bicara kayak gitu to, apa sudah merasa?. “Lho orang mati itu kan tidak bisa dinyana-nyana.

Wong semua orang sebenarnya hanya nunggu antrian kok” kata romo Mangun sambil terkekeh. “Romo, lha saya kok tidak dijatah dapat potongan tongkat kayu cendana?”, protes ku. “ Untuk romo Yatno, tidak saya beri potongan” katanya. Kemudian beliau mengambil tongkat yang sudah agak usang, sambil berkata: ”Ini tongkat saya, tolong kamu rawat dan kamu simpan ya”. Saat menerima tongkat itu, hati saya sudah tidak karuan, apa benar romo Mangun akan segera meniggalkan kami.

Ternyata benar. Tanggal 10 Februari 1999 Romo Mangun wafat saat mengadakan seminar di hotel Le Meredian Jakarta. Kami para relawan dan teman-teman seperjuangan romo Mangun lemas, seakan tidak percaya. Kami seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya. Tidak tahu ke mana akan berlindung. Gelaap! Gelap!

Di waktu-waktu selanjutnya kami mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Dan, ternyata tongkat yang diwariskan romo Mangun terasa makin berat untuk dipikul.

Perjuangan demi perjuangan untuk relokasi Kedungombo kami jalani terus, tanpa pelindung. Namun roda terus berputar, kami masih ada harapan untuk mendapat perlindungan saat Gus Dur menjadi presiden Indonesia yang ke 4.

Namun, kami masih pessimis. Karena saat Presiden RI dipegang pak Harto, masyarakat Kedungombo telah menjadi tumbal pembangunan, Ketika estafet kepresidenan dipegang pak Habibie, kami tidak punya harapan.

Meski kecil kami masih berharap Gus Dur yang adalah sahabat karib Romo Mangun akan peduli kepada kami. Tetapi apalah artinya kami? Para relawan telah tercerai berai. Sejauh saya ingat kawan-kawan kami yang masih setia adalah Kh. Mahfud Iskandar, Bunyamin dan mbak Sita dari Solo yang bagai Srikandi berjuang sampai sekarang.

Ternyata, Tuhan tidak kekurangan dalam cara berkarya. Suatu hari saya diajak oleh Romo Pujosumarto (yang sekarang menjadi Uskup di Bandung) untuk menemani mbak Allissa (putri sulung Gus Dur) ke Pertemuan para petani di Sangkal Putung Klaten.

Selama perjalanan saya bercerita banyak tentang perjuangan di Kedungombo. Rupanya mbak Allisa menanggapi cerita saya dengan penuh perhatian. Dan, beliau mengatakan akan mengusulkan kepada Gus Dur agar berkunjung ke Kedungombo untuk menguatkan masyarakat tertindas. Terus terang saya seakan tidak percaya. Mungkinkah seorang Presiden akan berkenan menemui kami beserta masyarakat miskin dan tertindas.

Ternyata, tiga minggu sebelum perayaan Nyepi tahun 2000, mbak Allisa menelphone saya, bahwa Gus Dur jadi akan berkunjung ke Kedungombo “Romo Yatno, bapak (Gus Dur) jadi akan berkunjung ke Kedungombo, bertepatan dengan undangan dari teman-teman Hindu untuk menghadiri perayaan Nyepi di Candi Prambanan.

Saya minta romo menyiapkan teman-teman di Kedungombo. Bapak pesan, romo minta oleh-oleh apa?” Saat menerima telephone, saya gemetar dan berkeringat dingin. Tidak bisa berkata-kata. Yang muncul dari mulut saya hanya: ”Ya mbak, makasih mbak. Saya belum bisa berfikir mbak, nanti atau besuk saya akan telephon ke Bapak di Ciganjur”. Campur aduk dalam pikiran saya.

Sangat gembira namun takut karena belum pernah kami mengkoordinir seluruh masyarakat Kedungombo apalagi dalam menyambut kedatangan RI 1. Saya hanya lemas bingung tetapi gembira, tanpa bisa memejamkan mata semalam. Pagi harinya saya langsung telephon teman-teman di Surakarta untuk menyampaikan berita yang luar biasa itu.

Di Jogya mulai kami kumpulkan beberapa rekan untuk membicarakan berita rencana kedatangan Gus Dur ke Kedungombo. Ternyata teman-teman angkat tangan, “Waah kalau penyambutan RI 1 saya tidak berani romo. Ini namanya kriwikkan jadi grojogan (perkara kecil menjadi perkara besar) Saking takutnya menanggapi tawaran dari mbak Allisa, saya terpaksa mengadu ke makam romo Mangun sambil memohon penerangan Tuhan. Akhirnya, kami menemukan beberapa point yang akan kami usulkan kepada Gus Dur melalui mbak Yeni.

1. Kami tidak mampu mengkoordinir acara penyambutan kedatangan Gus dur di Kedungombo. Namun, kami menyanggupi untuk mengkoordinir warga Kedungombo. Tanggapan yang kami terima sangat menggembirakan: ”Urusan protokoler dan lain-lain akan ditangani oleh Pemda Jateng dan para bupati Sragen, Boyolali dan Purwadadi”

2. Kami mohon, Gus Dur untuk menuju ke Kedungombo tidak menggunakan pesawat Helycopter, tetapi melalui jalan darat. Dengan alasan waktu pengusiran warga Kedungombo dari lokasi waduk, salah satu cara yang dipakai adalah untuk latihan perang-perangan dari tentara, sehingga waktu itu banyak warga yang mengalami trauma. Jawaban yang muncul dari mbak Allisa: ”Bapak memang lebih suka naik mobil kok”. Ini sangat melegakan kami.

3. Kalau Gus Dur jadi datang, kami mohon agar perwakilan warga Kedungombo yang ada di pengungsian diperbolehkan bertatap muka dengan Gus Dur. Jawaban yang kami terima: ”Pasti, Bapak memang mau ke Kedungombo untuk bertemu dengan warga kurban Kedungombo”.

4. Berhubung perahu-perahu yang kami masukkan ke Kedungombo untuk transportasi warga sudah banyak yang bocor dan usang, kalau diperbolehkan kami mohon oleh-oleh mesin perahu 17 PK. Hal itu disanggupi.

Jawaban-jawaban yang kami terima sungguh mengharukan kami, namun kami masih bertanya-tanya. Benarkah Gus Dur berkenan datang pada masyarakat tersingkir yang telah menjadi kurban Pembangunan Nasional?

Tanpa menunda-nunda waktu, setelah koordinasi di Jogya, kami segera berangkat ke Solo untuk berkoordinasi dengan Bunyamin dan Mbak Sita dan menemui para tokoh masyarakat Kedungombo. Kami sungguh kaget, ternyata jalan dari Gemolong menuju Kemusu sedang dimulai diperbaiki.

Bahkan kata salah seorang penduduk, perbaikan jalan dilakukan 24 jam non stop karena akan kedatangan Presiden Gus Dur. Dalam hati, saya sangat gembira dan senyam-senyum. Karena, memang itulah maksudnya, saat saya mengusulkan agar Gus Dur tidak menggunakan pesawat Helicopter.

Dengan perbaikan jalan, maka mobil saya tidak akan terperosok lagi ke bongkahan batu-batu seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Bagitu sampai di Kedungpring, sebelum turun dari perahu, beberapa orang sudah mulai berteriak: ”Pak Romo datang, pak romo datang”.

Kemudian orang yang mendengar teriakan segera melanjutkan teriakan ke tetangga dekatnya. Sesampai di posko, dekat rumah pak Darsono, mereka langsung menanyakan benarkah presiden Gus Dur akan datang ke Kedungombo? Saya jawab “benar”.

Hanya terlalu berbahaya untuk sampai di Kedungpring, maka beliau hanya akan datang ke pendopo kecamatan Kemusu. Menjelang kedatangan Gus Dur, kami selalu kontak dengan mbak Allisa yang akan mengiringi Gus Dur. Jam 18.00 kami sudah meluncur ke Solo, menginap di Purbowardayan, Jam 06.00 kami sudah meluncur ke Kedungombo, ternyata jalan menuju ke Kecamatan Kemusu. Lha dalah, ternyata sudah ramai sekali, namun kami belum melihat warga Kedungombo yang telah menjadi warga tersingkir selama ini, yang ada adalah warga masyarakat sekitar Gemolong, Kacangan dan para pejabat serta aparat.

Setelah kami mendapatkan berita bahwa warga Kedungombo sedang berdatangan dan menunggu kami di pinggir waduk, saya dan beberapa rekan segera menemui mereka. Mereka sangat bersuka cita saat kami tiba.

Mereka seperti anak ayam yang pating cruwet, seakan ingin mengadukan beban mereka kepada induknya. Wakil warga Kedungombo bpk. Darsono mengatakan kepada kami, bahwa kemarin utusan pemerintah mengatakan kepada warga bahwa Presiden Gus Dur yang temannya romo Mangun akan datang,

Untuk menyambut kedatangan Presiden Gus Dur warga harus mengenakan baju batik. Hal ini menimbulkan keresahan:” Bagaimana kami mau memakai baju batik, wong pakaian yang baik saja tidak punya?”.

Dengan sabar saya harus menjelaskan bahwa kedatangan Presiden Gus Dur atas undangan saya. Beliau sangat tahu keadaan kita. Kedatangan beliau justru untuk menyapa kita yang sudah sekian lama tertindas. Maka, untuk menemui presiden Gus Dur akan saya pimpin sendiri.

Saya bertanggungjawab agar minimal sebagian perwakilan warga bisa berbicara langsung dengan beliau. Tidak mengenakan baju batik tidak apa-apa, yang penting memakai baju yang terbaik yang kita miliki. Akhirnya, saya memberanikan diri memimpin barisan warga yang berpakaian seadanya untuk berjalan menuju kecamatan Kemusu.

Ternyata, saat barisan warga mendekati pendapa Kecamatan Kemusu, kami telah dihadang oleh aparat keamanan dengan wajah sangar. Karena diperkirakan akan demontrasi, maka warga tidak boleh masuk ke gedung pertemuan.

Yang diperbolehkan adalah mereka yang membawa kartu undangan, padahal hanya beberapa warga pengungsi Kedungombo yang mendapatkan kartu undangan. Saya pun sebagai inisiator tidak boleh masuk ke pendapa. Karena itu, kami bersepakat daripada yang masuk pendapa hanya perwakilan, lebih baik kami tidak masuk ke pandapa kecamatan.

Akhirnya, warga hanya diperbolehkan duduk di luar pendapa di bawah pohon singkong yang tidak mendapat vasilitas apa-apa. Waktu itu bpk. Permadi SH dan bpk. Mudrik Sangidu yang pernah menjadi pendamping warga Kedungombo ada di sana. Saya sempat bersitegang kenapa warga tidak diperbolehkan masuk? Jawaban yang muncul karena alasan protokoler dan keamanan.

Karena itu terpaksa saya telphon ke mbak Allisa yang baru mau berangkat ke Bandara untuk mengantar Gus Dur. Saya melaporkan bahwa warga pengungsi Kedungombo ternyata mengalami nasib sial, tidak diperbolehkan masuk ke gedung pertemuan. Mereka hanya boleh di luar pagar tepat lurus di depan panggung kehormatan.

Mbak Allisa menyarankan agar Bapak disediakan rumah khusus untuk bisa bertemu dengan perwakilan warga. Saya sangat terharu dengan jawaban Mbak Allisa. Namun celaka, selesai menelphon mbak Allisa, saya dicegat Pampres dan sempat diinterogasi kecil. “Anda siapa, nelphon siapa, hubungan dengan Gus Dur apa, ada kepentingan apa, dll”. Rupanya aparat kurang puas atas jawaban saya, sehingga ke mana pun saya pergi dikuntit terus.

Setelah bernegosiasi dengan beberapa petugas, terpaksa saya mengatakan presiden Gus Dur menghendaki ada ruangan khusus, agar beliau dapat berbicara langsung dengan warga Kedungombo, ruangan tersebut harus sterill dan dijaga. Yang boleh menemui hanya enam warga Kedungombo, mbak Sita dan pak Mudrik Sangidu, Bunyamin dan pak Permadi”.

Kami meminta bapak Permadi agar beberapa Satgas PDI-P dan Banser untuk menjaga dan mengamankan ruangan terebut. Selesai mempersiapkan ruangan khusus, kami harus melaporkan secara detail lewat telephone wartel tentang ruangan yang telah kami sediakan dan orang-orang yang akan bertatap muka dengan Presiden Gus Dur. Dan, ternyata aparat keamanan menguntit dengan setia. Setelah persiapan tertata, saya harus menjelaskan kepada warga Kedungombo yang berpanas-panas di kebun singkong, ”Saudara-saudara, sebenarnya kedatangan Gus Dur adalah untuk menemui kita.

Tidak apa-apa kita kepanasan, sedang yang di pendapa itu anggap saja orang sedang makan di warung sambil menikmati hidangan. Tetapi tidak apa-apa, nasib kita memang seperti ini, namun saya telah mengatakan kepada Mbak Allisa bahwa warga Kedungombo yang asli, yang mau disapa Gus Dur adalah yang ada di kebun ketela, bukan yang ada di pendapa”.

Hati saya runtuh dan terharu ketika mereka seperti orang yang terlunta-lunta duduk dekat orang berpesta pora, maka saya mengatakan kepada pak Permadi dan beberapa kawan untuk membuka dompet masing-masing dan membelikan minuman dan makanan kecil untuk warga Kedungombo.

Karena risih oleh pengamatan aparat, dan tidak tega melihat keadaan warga Kedungombo, dan seperti yang disarankan mbak Allisa, saya diam-diam meninggalkan Kemusu untuk menuju Kalasan Yogya. Karena mbak Allisa telah mengatakan bahwa kalau ingin berbicara dengan Bapak nanti malam bisa ketemu di perayaan Nyepi di Candi Prambanan.

Bertemu Gus Dur di Candi Prambanan

Saat Perayaan Nyepi yang dilaksanakan di Panggung Trimurti Ramayana Ballet Prambanan, saya sudah siap duduk di kursi dekat gang yang akan dilewati Gus Dur.

Saya kaget dan heran, ternyata anggota Paspampres yang menguntit saya di Kemusu, telah ada di dekat saya. Sewaktu MC mengumumkan bahwa Presiden akan segera memasuki gedung, hati saya dag-dig-dug. Rombongan Presiden hampir melewati tempat duduk saya, terpaksa saya memberanikan untuk berteriak: “Mbak Allisa!”. Dan, mbak Allisa segera membisiki Gus Dur dan Gusdur bersalaman dengan saya sambil berkata:

”Romo, janji saya sudah saya penuhi, saya sudah ketemu dengan warga Kedungombo dan oleh-oleh mesin perahu sudah saya berikan. Perjuangkan terus warga Kedungombo ya!” Saya sangat terharu, sambil terbata-bata saya menjawab: ”Baik Gus. Terima kasih sekali”.

Gus Dur segera melanjutkan menuju ke kursi VVIP. Saya tidak peduli pada rombongan pengiring presiden sampai melongok ke depan, karena perjalanan rombongan sempat berhenti beberapa saat.

Setelah semua hadirin dipersilahkan duduk, barulah anggota Paspampres yang sejak ketemu di Kemusu berwajah garang, saat itu tersenyum ramah dengan saya. Bahkan, beliau yang saya lupa namanya, dengan ramah mengajak berbicara ngalor ngidul dengan saya.

Sapaan dan kepedulian Gus Dur pada orang kecil dan tersingkir bukan berhenti pada diskusi. Kehadirannya adalah kekuatan. Kata-katanya adalah api yang menyemangati untuk terus berjuang demi kemanusiaan dan perdamaian

Gus Dur yang terhormat

Empat puluh hari sudah engkau menghadap Sang Khalik. Dua sahabatmu telah menantimu untuk bercengkerama dan bertukar cerita. Mereka adalah Romo Mangunwijaya dan Ibu Gedong Bagus Oka.

Gus Dur, waktu saya berinisiatif mengundangmu menyapa warga Kedungombo, ternyata pada tanggal 19 Maret 2000, engkau yang adalah presiden sungguh mengabulkan.

Engkau hadir di tengah warga yang tertindas. Warga Kedungombo tak kan melupakan kerelaan hatimu yang tulus ikhlas. Saya juga mohon maaf, karena waktu itu, saya ngotot agar Gus Dur melewati jalan darat.

Tujuan saya sebenarnya adalah agar jalan dari Gemolong ke Kedungombo diperbaiki. Karena waktu saya mengantar logistic untuk warga Kedungombo, jeep saya terperosok dan kegencet batu, sehingga bampernya copot. Terima kasih ya Gus.

Bersama ini, saya yang telah 13 tahun bersama dengan Warga Kedungombo, sejak bersama Romo Mangun saat pengusiran warga sampai sekarang, meski mereka tetap dalam ketersingkiran, namun telah mengalami kemajuan dan semangat untuk maju.

Mesin Perahu Yamaha Remote Control 27 PK, yang engkau berikan ternyata terlalu besar. Dulu sebenarnya yang kami minta 17 PK. Namun tak apalah.

Mesin perahu tersebut semula akan mereka pasang di tugu batu sebagai monumen, namun akhirnya kami jual. Hasil penjualan Mesin perahu telah kami berikan mobil Colt T untuk kegiatan kemasyarakatan. Dan, bulan November 2009 yang lalu, mobil Colt saya jual juga dan saya belikan Traktor untuk pertanian di Kedungombo. Traktor tersebut kami beri nama Traktor Barokah, sekarang sedang digunakan untuk membajak sawah masyarakat Mlangi Kedungombo.

Gus, dipertemuan terakhir kita di rumah Mbak Allisa bulan September yang lalu dan engkau berpesan: ”Perjuangan kalian masih panjang dan tantangan yang menghadang tidak semakin ringan, maka kompak-kompaklah”. Pesan ini akan selalu kami pegang. Maka, doakan kami agar mampu bergandeng tangan dengan yang berkehendak baik mewujdukan cita-citamu.

Somohitan Lereng Merapi, 21 Januari 2010
Rm. Y. Suyatno Hadiatmojo Pr.

sumber :

http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry100122-020419

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: