In Memoriam – Gus Dur dan Peresmian proyek


Pada akhir Oktober 1999, para karyawan di kantor kami sibuk menyaksikan tayangan televisi yang meliput tentang perhitungan suara Pemilihan Presiden di MPR.

Terasa adanya sebuah “excitement” tersendiri disaat melihat jumlah suara Gus Dur dan Megawati saling susul menyusul. Para karyawan yang menyaksikan perhitungan suara tersebut, ada yang bersorak ketika Gus Dur memperoleh suara dan juga ada karyawan lain yang mendukung Mega.

Ketika Gus Dur akhirnya terpilih dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara, suasana di kantor kami bukanlah sebuah suasana sehabis adanya pertentangan politik, tetapi bagaikan suasana setelah melihat pertandingan tinju.

Para karyawan kemudian mengeloyor pergi sambil tertawa-tawa dan membicarakan peristiwa bersejarah, dimana Presiden RI dipilih untuk pertama kali melalui pemungutan suara di MPR. Suasananya “fun”.

Walaupun karyawan banyak yang sudah tidak menonton, tapi saya masih terus terpaku menyaksikan tayangan Gus Dur dikukuhkan menjadi Presiden RI.

Salah satu image yang tidak pernah saya lupakan adalah sewaktu sepasang Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang langsung maju ke kursi Gus Dur untuk menjaga, dan sekaligus menggandeng Gus Dur untuk menuju ke atas podium. Karena Paspampres tersebut mungkin baru pertama kali menggandeng Gus Dur, dan juga sebaliknya Gus Dur belum pernah digandeng oleh para Paspampres tersebut, maka terjadilah kejadian yang sangat membekas dibenak saya.

Sewaktu Gus Dur dan para Paspampres sampai diatas podium, ada sebuah meja didepan kursi yang akan diduduki oleh Gus Dur. Karena mungkin salah dituntun oleh para Paspampres pendamping, maka Gus Dur seakan-akan seperti akan melangkahi meja di depan kursi yang akan didudukinya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa rupanya Gus Dur betul-betul tidak bisa melihat. Entah kenapa, saat itu saya merasa iba dan kasihan melihat Gus Dur.

Sewaktu Gus Dur menjadi Presiden, rapat-rapat koordinasi proyek banyak dilakukan oleh Wapres Megawati dari kantor Wapres.

Saya sempat mengikuti rapat koordinasi beberapa proyek, seperti rapat proyek Semen Kupang, dan proyek PLTP di Dieng. Kami tidak pernah bertemu Gus Dur, kecuali sewaktu proyek kami di Bontang akan diresmikan oleh Gus Dur. Di awal tahun 2000, saya sempat mendampingi Direksi kami untuk menghadap Gus Dur di Istana Merdeka (walaupun saya hanya menunggu diluar), dalam rangka peresmian proyek kami di Bontang.

Terus terang saat itu saya agak heran melihat suasana Istana negara yang banyak dikunjungi oleh para kyai dan tamu yang tidak berpakaian resmi.

Saya sendiri saat itu memakai pakaian jas lengkap. Tetapi banyak diantara para tamu Gus Dur saat itu, yang memakai sarung dan ada juga yang memakai sandal.

Paspamres-pun tampaknya tidak melarang mereka masuk. Jadi saya ingat suasana di ruang tunggu Istana Merdeka yang menjadi agak kikuk, karena ada tamu yang memakai jas dan ada tamu yang menunggu dengan memakai sarung dan bersandal.

Sebagai kepala proyek, saat itu tugas saya adalah mengkoordinir seluruh rangkaian acara peresmian proyek di Bontang bersama jajaran PT Pupuk Kalimantan Timur. Koordinasi ini mencakup seluruh persiapan kedatangan Gus Dur dan ibu Shinta Nuriah ke Bontang.

Pada saat-saat persiapan itulah saya baru tahu bahwa kami harus menyiapkan elevator khusus cadangan untuk menurunkan Gus Dur dan Ibu Shinta dari Pesawat terbang. Elevator ini harus diuji berulang-ulang disaksikan oleh Paspampres.

Juga kami harus membuat ramp-ramp disetiap jalan akses yang akan dilalui oleh Gus Dur. Sebagai contoh, kami harus membuat ramp setinggi hampir 6 meter dan sepanjang 70 meter, untuk mencapai lantai mesjid di Bontang. Sewaktu Gus Dur dan ibu Shinta akhirnya datang dan menggunakan peralatan-peralatan tersebut, timbul kembali rasa iba saya kepada Gus Dur dan juga kepada ibu Shinta.

Pada acara peresmian proyek, ada beberapa pertanyaan yang timbul di benak saya, seperti “Apa kira-kira isi pidato Gus Dur dan bagaimana Gus Dur mengingat nama-nama proyek yang akan diresmikan pada hari itu karena jumlahnya ada 7 (tujuh) proyek ?’.

Setelah dituntun keatas panggung mulailah Gus Dur berpidato, “Tadi pagi disaat saya menuju Bontang, berapa pimpinan TNI melaporkan kepada saya bahwa akan terjadi kembali ledakan Bom di Jakarta”.

Saat itu memang sempat terjadi beberapa ledakan Bom di Jakarta. “Ternyata saudara-saudara sekalian, rupanya ledakannya adalah ledakan…. Bau Bawang….Bom…Bay”. Semua hadirin tertawa dan suasana menjadi cair.

Para mitra asing saya bertanya-tanya kenapa semua orang tertawa, saya hanya bilang, “sulit menjelaskannya”. Lalu kemudian Gus Dur melanjutkan dengan pidato acara peresmian ke-tujuh proyek.

Rupanya beliau meresmikannya dengan cukup menyatakan seperti ini, “Dengan ini saya resmikan proyek milik PT Pupuk Kaltim dan juga ke-enam proyek lainnya”. Gus Dur rupanya tidak perlu menyebut satu per satu nama proyek yang diresmikan…. Gitu aja kok repot, pikir Gus Dur.

Tapi ada satu hal yang saya harus ucapkan terima kasih kepada Gus Dur. Sebelum beliau mengakhiri (diakhiri) masa jabatannya sebagai Presiden RI, Gus Dur melalui Meneg BUMN Rozy Munir, masih sempat mempromosikan saya menjadi Direktur Operasi PT Rekayasa Industri pada bulan Juni 2001.

Terima kasih Gus Dur atas kepercayaannya dan selamat Jalan. Semoga arwahmu diterima disisi Allah SWT dan diampuni dosa-dosanya.Amien

Salam
Hengki

http://www.triharyo.com/cetak.php?id=219

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: