Gus Dur Dimintai Nama


Gus Dur Dimintai Nama

ADA-ADA saja ulah masyarakat Solo. Begitu berjumpa dengan mantan presiden Gus Dur di Warung Soto Ledokan, Kartasura, pemilik warung langsung menghampiri. ”Gus, niki kula gadhah anak kalih nembe mbobot. Nyuwun dipun paringi asma benjing menawi nglahiraken (Gus ini saya punya dua anak sedang hamil, minta diberi nama kalau melahirkan),” kata dia.

Kontan Gus Dur sedikit tergelak. ”Walah, ya sudah, kalau nanti lahir laki-laki diberi nama Irfan, kalau perempuan Arifah. Yang satunya, kalau laki-laki diberi nama Arif, kalau perempuan Rafiah,” ujar Gus Dur. (Tim SM-78e)

Said Aqil Jadi Selebiriti

SEUSAI memimpin sidang pertanggungjawaban PBNU periode 1999-2004, Rois Syuriyah PBNU Dr KH Said Aqil Siradj MA diserbu muktamirin. Mereka langsung naik ke panggung. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk salaman dan minta berfoto bersama di panggung raksasa itu. ”Wah Pak Aqil jadi selebriti,” komentar wartawan yang melihatnya. Karena sambil melayani foto bersama dan diwawancarai wartawan, akibatnya kiai itu tak memperhatikan arah jalan. ”Kiai ke sini jalannya,” tutur anggota Banser yang mengawalnya. (Tim SM-78e)

Posko Kota Semarang

MESKI mendapat jatah tempat tidur di Gedung Makkah Asrama Haji Donohudan, utusan PCNU Kota Semarang memilih tinggal di luar asrama. Rombongan pengurus mengontrak sebuah rumah di depan barat asrama haji. ”Sejak satu bulan yang lalu kami sudah pesan rumah ini,” tutur Rois Syuriyah Drs KH Ahmad Hadlor Ihsan. Karena lokasinya strategis, di halaman posko sekaligus digelar kafe dan warung makan. ”Alhamdulillah, warungnya rame. Tidak sampai siang sudah bersih,” tutur beberapa aktivis IPNU dan Ansor Kota Semarang yang menunggu dagangan. Warung itu menyediakan nasi murah dan goreng-gorengan seperti tempe, bakwan, dan lain-lain. ”Kalau di dalam asrama kan keluarga yang akan mampir susah. Kalau di rumah kontrakan bebas keluar masuk,” tutur KH Rohibin Hamdan menjelaskan alasan memilih tinggal di luar. (Tim SM-78e)

Mejeng di Panggung

PANGGUNG megah untuk muktamar kali ini rupanya menarik perhatian muktamirin. Karena itu, mereka pun banyak yang memanfaatkan untuk mejeng dan berfoto. Berdiri di atas mimbar yang digunakan berpidato Presiden SBY dan KH Hasyim Muzadi, mereka minta jepretan fotografer profesional yang banyak beroperasi di arena muktamar. Cukup dengan Rp 15.000 foto diri mejeng di panggung megah pun jadi. ”Wah, seperti Ketua PBNU,” kata salah seorang muktamirin mengomentari fotonya sendiri. (Tim SM-78e)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: