Gus Dur di Mata Para Kerabat Dekatnya


Gus Dur di Mata Para Kerabat Dekatnya

Megawati Kehilangan Kakak, Mahfud Belum Serahkan CD

Kepergian Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyisakan banyak kenangan bagi para kerabatnya. Bagaimana sosok Gus Dur di mata para kerabat dekatnya? Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menjadi wapres ketika Gus Dur memimpin negara pada 1999-2001, merasakan kehilangan sangat mendalam. Bagi ketua umum DPP PDIP itu, Gus Dur adalah sosok sahabat sekaligus kakak yang sangat mengayomi.

“Kedekatan mereka lahir secara alamiah karena pemahaman ideologi dan paham kebangsaan yang sama,” kata Sekjen DPP PDIP Pramono Anung tadi malam (30/12).

Begitu mendengar Gus Dur telah wafat, kata pria yang akrab disapa Pram itu, Megawati langsung berangkat ke RSCM. Selanjutnya Mega juga datang untuk bertakziyah ke rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta.

Saat itu Megawati dan keluarga besarnya berada di Bogor. Dia tengah menyiapkan peringatan ulang tahun (HUT) ke-67 suaminya, Taufiq Kiemas, yang jatuh pada 31 Desember (hari ini). Rencananya ultah ketua MPR yang bertepatan dengan momentum pergantian tahun ini dirayakan di Bogor.

Pram menuturkan bahwa dirinya adalah saksi mata saat Gus Dur dan Megawati bertemu untuk pertama kali setelah dilengserkan dari presiden dalam Sidang Umum MPR pada Juli 2001. Keduanya bertemu di kediaman Megawati di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Saat itu Megawati menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Taufik Kiemas juga hadir dalam silaturahmi tersebut.

Tidak seperti dibayangkan banyak orang, kata Pram, pertemuan itu sama sekali tidak menegangkan. Suasananya justru sangat gayeng layaknya pertemuan dua sahabat karib. “Mereka seperti lupa dengan politik. Asyik bicara soal makanan dan kesehatan,” tutur Pram.

Kapan pertemuan itu terjadi? “Saya lupa. Yang jelas sebelum 2004,” kata tangan kanan Megawati itu. Menurut Pram, Gus Dur dan Megawati tetap saling menghormati setelah tak menjabat. “Bahkan secara periodik keduanya tetap saling mengunjungi,” lanjut wakil ketua DPR itu.

Amien: Gus Dur Ikon Pluralisme

Sementara itu, mantan Ketua MPR Amien Rais memuji Gus Dur sebagai ikon pruralisme di Indonesia. Mantan presiden itu juga dinilai berhasil membawa organisasi yang pernah dia pimpin, Nahdlatul Ulama (NU), dari kondisi marginal menjadi arus utama atau mainstream gerakan sosial politik di Indonesia.

Amien yang mengakui dirinya adalah sahabat sekaligus lawan berpikir Gus Dur memuji jebolan Al Azhar dan Universitas Bagdad itu sebagai anak bangsa yang telah berhasil memajukan pondok pesantren menjadi lebih terbuka serta mampu mendorong partisipasi pesantren dalam pembangunan nasional dan dunia Islam. “Kita kehilangan besar dengan tutup usianya Gus Dur. Saya berharap mudah-mudahan akan muncul tokoh baru dari kalangan Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan perjuangan almarhum,” kata Amien di Jakarta kemarin.

Amien juga mencatat Gus Dur selama menjabat presiden berhasil berhasil mengubah lembaga kepresidenan menjadi lembaga yang tidak angker dan dapat diakses seluruh elemen bangsa. “Karena itu kita ucapkan selamat jalan, semoga Allah menerima amal salehnya dan mengampuni kesalahan dan dosanya. Semoga Gus Dur mendapat husnul khotimah,” katanya.

Amien yang sempat disebut-sebut terlibat perang dingin sejak lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden mengaku hubungannya secara pribadi tetap baik. Setelah peristiwa itu, Amien dan Gus Dur tetap berkomunikasi dengan hangat, mayoritas ketika bertemu di ruang tunggu bandara. “Dulu waktu Indosat mau dijual ke Singapura, saya sempat berbicara setengah jam dengan Gus Dur. Enam bulan lalu saya terakhir ketemu tetap ger-geran sambil ngrasani pemerintah sekarang. Jadi tidak benar kalau disebut kami perang dingin,” katanya.

Jaya Suprana: Gus Dur Wariskan Humanisme

Kelirumolog Jaya Suprana menilai, Gus Dur adalah negarawan yang berhasil mewariskan humanisme pada bangsa Indonesia. Hingga akhir hayatnya, Gus Dur dinilai konsisten memperjuangkan kerukunan beragama serta penghormatan atas hak asasi manusia di atas kepentingan lain.

“Beliau bukan sekadar politikus, tapi benar-benar negarawan. Beliau yang konsisten untuk mewariskan kerukunan beragama, bukan hanya sebatas di mulut, namun melaksanakannya secara konsekuen, apa pun risikonya. Inilah yang membuat Dalai Lama dan Yasser Arafat menghormati beliau,” katanya.

Jaya yang dikenal publik sebagai sahabat dekat itu menilai Gus Dur bukan sekadar tokoh bangsa, melainkan kakak, sahabat, dan gurunya. “Dari Gus Dur saya belajar humanisme, kemanusiaan, Islam, dan tata negara. Saya tahu beliau gagal ginjal, namun saya tidak menduga secepat ini,” katanya.

Gus Dur yang dikenal humoris itu dikenal Jaya sebagai pribadi yang senang menentang arus. Itu terbukti ketika Gus Dur tengah sakit, dia justru memaksa pergi ke Semarang untuk menghadiri pernikahan keponakan Jaya Suprana. Ketika masih menjadi presiden, dokter kepresidenan memintanya berpantang makanan yang berbahaya bagi kesehatan.

Namun Gus Dur justru kerap meminta Jaya Suprana datang ke Istana dengan membawa makanan-makanan favoritnya yang dilarang dokter itu. “Jadi saya juga belajar dari Gus Dur bagaimana menyelundupkan makanan ke Istana dan bagaimana melarikan diri dari rumah sakit,” katanya sambil terkekeh.

Titip CD Beethoven saat ke Eropa

Sementara itu, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mendapat berita duka tentang meninggalnya Gus Dur tadi malam ketika menerima tamu di rumah dinasnya di kawasan Widya Chandra, Jakarta, pukul 19.00. Tamunya adalah Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PKB Alwi Shihab, dan mantan Ketua Umum PKB (kubu Gus Dur) Ali Masykur Musa.

Saat itu Mahfud dan para tamunya sedang makan malam. “Kami semua kaget. Sempat terdiam agak lama, lalu membaca Al-Fatihah. Setelah itu kami menuju RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, red),” kata Mahfud saat dihubungi tadi malam (30/12).

Mahfud selama ini sangat dekat dengan Gus Dur. Berkat Gus Dur-lah, Mahfud menjadi tokoh yang diperhitungkan di panggung nasional. Saat Gus Dur menjadi presiden, Mahfud diangkat menjadi menteri pertahanan. Banyak kalangan menilai jabatan itu sebenarnya tidak pas dengan kompetensi Mahfud yang dikenal sebagai pakar hukum tata negara.

Sejak itu hubungan Gus Dur dan Mahfud sangat dekat. Ketika Gus Dur akan dilengserkan dari kursi presiden, Mahfud termasuk salah satu bumper yang berupaya menangkis setiap serangan pelengseran tersebut. Kedekatan Mahfud dan Gus Dur tetap terjalin sampai guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut menjabat ketua MK. Bahkan setelah dilantik sebagai ketua MK, Mahfud juga langsung sowan kepada Gus Dur.

Mahfud bertutur, pertemuan terakhirnya dengan Gus Dur terjadi pada 29 November lalu. Ketika itu Mahfud berpamitan akan pergi ke Jerman. Gus Dur pun titip agar dicarikan CD lagu Beethoven. “Beliau sangat senang lagu-lagu Beethoven, terutama ‘Symphony No 9’,” kata mantan pembantu rektor (purek) I UII tersebut.

Selama di Eropa, Mahfud menyempatkan waktu untuk mencari CD lagu Beethoven tersebut. Dia pun berhasil mendapatkan koleksi lagu kesukaan tokoh yang sangat dihormatinya itu. “Tapi belum sempat saya berikan, beliau sudah meninggal,” kata Mahfud.

Saat kondisi Gus Dur anjlok di Jombang minggu lalu dan sempat dilarikan ke Surabaya, Mahfud menghubungi Sulaiman, ajudan Gus Dur. Saat itu Mahfud diberitahu bahwa kondisi Gus Dur sudah membaik dan siap kembali ke Jakarta. “Sebenarnya malam ini (tadi malam) jam 21.00 saya berencana menjenguk ke RSCM,” kata suami Zaizatun Nihayati itu.

Menurut Mahfud, bukan hanya bangsa Indonesia yang kehilangan atas wafatnya Gus Dur. Dunia juga kehilangan tokoh sekaliber Gus Dur. Banyak kelebihan Gus Dur yang selama ini tidak dimiliki tokoh mana pun. “Saya kira semua kehilangan,” katanya.

Meski dikenal berpendirian keras, Gus Dur berhati lembut. Gus Dur juga orang yang pemaaf. Orang-orang yang sempat memusuhi tetap diterima Gus Dur dengan tangan terbuka.(jpnn)

http://www.jambi-independent.co.id/jio/index.php?option=com_content&view=article&id=6750:gus-dur-di-mata-para-kerabat-dekatnya&catid=25:nasional&Itemid=29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: