Gus Dur Dalam Kenangan Istri dan Putri-putrinya


” Kalau aku orang dermawan, karena ayahku yang mengajarkan
Kalau aku jadi orang toleran, itu karena ayahku yang menjadi panutan
Kalau aku jadi orang beriman, itu karena ayahku yang menjadi imam
Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi,
Kalau aku jadi orang cinta kasih, itu karena ayahku memberi tanpa pamrih
Kalau aku bikin puisi, ini karena ayahku yang rendah hati”

Puisi yang berjudul Karena Ayahku tersebut dibacakan Inayah Wulandari, putri bungsu KH Abdurrahman Wahid-Sinta Nuriyah di acara tahlilan 7 hari wafatnya Gus Dur di kediamannya, Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (5/1) malam lalu. Lewat puisi itu, Ina mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Gus Dur baik sebagai ayah maupun tokoh masyarakat.

Meski Gus Dur telah pergi, semua yang dilakukannya akan selalu dikenang bangsa Indonesia. Dan kenangan-kenangan manis akan selalu terpatri di hati keempat putri Gus Dur: Alissa Qotrunada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Anitta Hayatunufus, Inayah Wulandari.

Menurut keempat putrinya, momen yang paling istimewa yang mereka rasakan bersama Gus Dur, adalah saat bicara panjang lebar. “Yang paling saya suka adalah hal-hal yang simpel, ngobrol sama Bapak sambil tertawa-tawa dalam jangka waktu yang lama, karena saya jarang melakukan itu. Bisa mengobrol panjang dengan bapak dan diisi dengan tawa adalah kemewahan buat kami. Terakhir kali saya lakukan, di rumah sakit ketika Bapak sakit. Kami tertawa-tawa, bertukar joke. Teman-teman saya menantang saya membuat Bapak tertawa ngakak. Karena selama ini Bapak yang selalu membuat kami tertawa. Ternyata enggak berhasil, hahaha, saya kalah lucu,” ujar Inayah, yang biasa disapa Nanay.

Dalam urusan keluarga, Gus Dur mempercayakan sang istri untuk merawat anak-anak. Bukannya ia tidak mau ikut-ikutan repot, tapi lagi-lagi kesibukannya menjadi “biang keladi”. “Kalau di rumah, ibu jenderalnya. Bapak sangat menghormati Ibu,” jelas Alissa. Sesekali, Gus Dur mendengar laporan perkembangan anak-anaknya dari bibir sang istri. “Beliau itu meski sibuk, selalu tahu apa yang terjadi pada kami. Mungkin karena dikasih tahu ibu,” papar Alissa. Sinta mengiyakan. “Bapak menyerahkan urusan anak-anak kepada saya, saya dipercaya Bapak untuk memberikan dasar agama, mengaji, shalat berjamaah. Tapi ketika ada hal-hal yang saya tidak bisa (tangani), baru Bapak yang menjawab,” ujarnya.

Ketika Alissa duduk di bangku SMA, Gus Dur rela terbang dari Surabaya menuju Jakarta hanya untuk mengambilkan rapor putri sulungnya itu. “Waktu itu Ibu jadi panitia sebuah acara, jadi tidak bisa datang. Bapak sedang keliling Jawa Timur. Pas dia tahu saya harus ambil rapor, dia langsung terbang ke Jakarta. Setelah ambil rapor, Bapak terbang lagi menuju Surabaya,” kisah Alissa.

Perhatian Gus Dur juga menenangkan Nanay saat mengalami masa transisi dari SD ke SMP. Saat itu Ina mengalami guncangan akibat ibunya mengalami kecelakaan dan neneknya meninggal. Puncaknya, Nanay merasa tidak menyukai sekolahnya. “Saya bolos 17 hari dalam 1 semester. Tidak ada orang yang tahu, sampai wali kelas saya mengirimkan surat kepada orangtua,” bilang pendiri LSM Positive Movement ini.

“Bapak enggak pernah marah soal itu. Itu pertama kalinya saya memiliki pembicaraan panjang dengan bapak. Bapak tanya, apa sih yang kamu inginkan dalam hidup. Kamu ingin jadi apa. Menggali itu, memperjelas keinginan-keinginan saya,” papar Alumni Sastra Indonesia UI ini.

Seperti itulah Gus Dur di mata keluarga. Jika merasa ada hal yang sangat penting, meski berada di tempat yang jauh ia akan datang. Dan baginya, pendidikan instrumen yang cukup penting. Gus Dur membebaskan keempat putrinya masuk ke sekolah yang mereka suka. Tidak pernah memaksa anaknya untuk mengikuti keinginannya.

“Bapak sangat terbuka tentang pendidikan anak-anaknya. Ia tidak pernah memilihkan sekolah apa pun bagi kami. Bapak ingin anaknya bisa bertanggung jawab dan mandiri. Karena bagi Bapak, ilmu itu pada tergantung kami yang mempelajarinya. Jadi mau sekolahnya bagus atau pun tidak, itu tidak penting,” urai Anitta.

Canda dan tawa menjadi hiasan sehari-hari di kediaman Gus Dur. Baik ketika masih di Jombang atau pun ketika sudah berada di Jakarta dan mendirikan Pesantern Ciganjur di depan rumahnya kini. “Apa yang masyarakat lihat tentang Gus Dur, begitu pula Bapak di mata keluarga. Tidak berbeda,” urai Anitta. “Kalau sedang kumpul nih keluarga besar, kami seperti sedang nanggap bapak. Bapak di tengah, terus dia bercanda, kami semua habis terpingkal-pingkal,” cerita Anitta.

Di sisi lain, Gus Dur di mata keluarga sebisa mungkin menghindari konflik. Contohnya, ketika dia dilengserkan saat menjabat presiden keempat RI dan harus meninggalkan istana. Alissa tahu, Gus Dur sedang dicerca banyak orang. Dukungan masyarakat tidak lagi mengalir. Diminta keluar dari istana, Gus Dur sebenarnya sudah bersiap-siap.

“Bapak bilang kepada saya, siapa lagi yang kuat di masa transisi seperti ini, tidak ada yang mau jadi korban, cuma Bapak saja. Dia sadari, dia hadapi peran yang sangat tidak enak. Dari Orba ke masa keterbukaan Waktu itu saya ngotot, kenapa Bapak mau keluar dari istana. Jujur saya menolak hal itu. Tapi Bapak bilang, kalau kami tidak pergi, maka akan terjadi pertumpahan darah. Akhirnya saya mengiyakan maunya bapak,” ungkap Alissa.

Biasanya, Gus Dur lebih memilih diam ketika sedang dilanda masalah berat. “Kalau Bapak sedang diam, berarti sedang ada masalah. Kami dan anak-anak sudah memaklumi dan tidak mau mengganggunya,” jelas Sinta.

Sosok Tanpa Pamrih

Kepada keluarga, Gus Dur menanamkan pemikirannya tentang kesetaraan hak manusia. “Beliau menanamkan nilai-nilai yang selalu ia perjuangkan, seperti penghargaan kepada kesetaraaan manusia tanpa terkecuali,” jelas Alissa. Contohnya, ketika Alissa dan Anitta menyelenggarakan pernikahan, Gus Dur menegaskan tidak ada tamu yang dapat perlakuan khusus. “Dia bilang tidak ada yang VIP, semua tamu adalah VIP di mata dia,” lanjutnya.

Alhasil, pemikiran Gus Dur yang seperti itu sering diartikan masyarakat sebagai pembelaan bagi kaum minoritas. “Padahal bukan masalah mayoritas dan minoritas. Semua manusia mempunyai hak yang sama. Itu yang diperjuangkan Bapak. Makanya ada sekolah Kristen diblokade dia berjuang, ada suami-istri Konghucu mau menikah dia menyaksikan,” papar Alissa.

Keikhlasan Gus Dur juga menjadi pembelajaran yang sangat berarti untuk putri-putrinya. “Enggak cuma ikhlas dihina dan dihujat orang, bahkan juga ikhlas dibohongi, ditipu. Dulu, pernah ada orang datang ke Bapak, kelihatannya mampu kok bilang enggak mampu, minta uang. Kata Bapak, kalau dia bohong, itu urusan dia sama Gusti Allah. Tugas Bapak hanya membantu. Lagi pula, bagus dia menipu Bapak, jadi dia enggak perlu menipu orang lain,” tutur Anitta.

sumber :

http://www.tabloidbintang.com/berita/polah/418-gus-dur-dalam-kenangan-istri-dan-putri-putrinya-.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: