Gus Dur Berada di Ukuran Kaping Sekawan


Gus Dur Berada di Ukuran Kaping Sekawan

Gus Dur adalah yang “sedikit” dan yang “banyak”. Yang “sedikit”,…ada pada wilayah sedikitnya dari kita yang memahami kedalaman pemikiran Gus Dur. Saking sedikitnya, kedalaman pemikiran dan pemahaman Gus Dur justru tidak jarang mengalirkan kran kontroversi. Tidak jarang pemikiran dan pemahaman yang juga banyak diilhami oleh keIslaman Gus Dur ini dianggap menabrak dan melawan pemikiran dan pemahaman yang telah diakui kebenarannya oleh kebanyakan umat Islam itu sendiri. Dan karena inilah para ulama, tokoh agama, tidak segan-segan memberikan label sesat kepada Gus Dur. Kontroversi dalam hal pemikiran, pemahaman, dan bahkan sikap perilaku Gus Dur ini tidak hanya diwilayah pemahaman keberagamaan yang membuahkan label sesat kepada Beliau tetapi ketika Gus Dur menjadi Presiden pun juga banyak sekali keputusan kebijakan yang controversial terhadap lawan politiknya. Dalam hal-hal inilah Gus Dur ada diwilayah yang “sedikit”, yang sebenarnya disebabkan oleh kebelum sampainya tataran pemikiran dan pemahaman kita terhadap Gus Dur.

Yang “banyak” dirasakan oleh khalayak masyarakat luas atas pembelaan; perjuangan; dan pengorbanannya kepada kaum minoritas juga kaum tertindas. Gus Dur seolah memiliki cita-cita ingin sekali bangsa Indonesia ini mengetrapkan (mempraktikkan) demokrasi secara hakiki dan benar. Seolah Gus Dur benar-benar yang terdepan dalam garda demokratisasi bangsa secara hakiki, dengan sebuah cita: bangsa yang menganut demokrasi ini harus menghapus diskriminasi terhadap kaum minoritas dan penindasan kepada rakyat kecil, baik penindasan secara hukum-sosial-dan politik. Pembelaan dan pengorbanan Gus Dur ini sangat-sangat dirasakan oleh kedua masyarakat di atas.

Sebagai bukti kecil saja, bagaimana masyarakat Tionghoa benar-benar merasakan kehadiran Gus Dur dalam hal diakuinya agama Konghucu sebagai salah satu agama resmi bangsa ini. Kemudian juga pembelaan Gus Dur terhadap Ahmadiyah, ditengah-tengah kontroversi posisi Ahmadiyah dalam aktivitas keberagamaannya—ditengah banyaknya para ulama dan tokoh agama Islam memberikan fatwa sesat kepada Ahmadiyah—justru Gus Dur bersikap sebaliknya, membela mereka. Menempelnya Bapak Pluralisme pada Gus Dur dari masyarakat, seolah memberikan peneguhan bahwa Gus Dur lebih melihat kepada kemanusiaan manusia itu sendiri. Seolah Gus Dur tidak melihat identitas (ciri) seseorang—manusia adalah pusat dari segalanya, karenanya kita tidak bisa berpaling bahkan menafikan sisi kemanusiaan. Siapapun kau—apapun kau—kau manusia—kau adalah aku—aku adalah kau—karena itu kau kubela. Inilah pesan yang disampaikan oleh Bapak Pluralisme, Gus Dur yang memberikan inspirasi perjuangan kepada anak negeri yang ditinggalkannya. Termasuk GUSDURian. Dan masih banyak sekali seabreg bukti, dan ini dirasakan oleh masyarakat luas khususnya rakyat kecil.

Gus Dur adalah yang “banyak” inilah yang saya katakan Gus Dur berada diwilayah ukuran kaping sekawan (ukuran keempat) dalam khasanah Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram.

Rasa dalam kawruh jiwa ki Ageng Suryomentaram diartikan sebagai jiwa itu sendiri, “…jiwa menika raos”. Rasa dibedakan antara rasa kramadangsa dan rasa tanpa ciri. Kramadangsa adalah rasa yang bergandengan dengan namanya sendiri, rasa yang melekat dalam diri manusia itu sendiri, termasuk rasa namanya sendiri.

Salah satu pembentuk identitas rasa kramadangsa adalah cathetan-cathetan. Manungsa menika cathetan(manusia itu adalah catatan). Catatan adalah segala pengalaman yang masih kita ingat, dari manapun dan apapun sumbernya ketika masuk dalam ingatan kita, bukan sesuatu tulisan di atas kertas. “kramadangsa punika kadadosaken saking cathetan, cathetan wonten ing engetan lan dede cathetan wonten ing kertas”. Catatan-catatan inilah yang kemudian muncul sebagai “aku”. Sebagai serba aku. Contoh: namaku; mobilku; gelarku; bojoku; agamaku; dll yang serba aku.

Rasa kramadangsa ini juga bisa kita sebut sebagai rasa yang penuh dengan ciri (rasa kang kebak ciri), atau manusia dengan ciri. Cirinya adalah yang serba aku tadi. Rasa kramadangsa inilah yang “sedikit” pada diri Gus Dur di atas. Dan ini juga dimiliki oleh setiap orang. Setiap orang memiliki rasa kramadangsa, memiliki identitas yang membedakan dirinya dengan sang liyan, manusia yang masih tertempeli ciri pada dirinya.

Karenanya, seseorang yang mempertebal rasa kramadangsa-nya justru akan mempertegas identitas perbedaan terhadap sang liyan. Dan ketika seseorang ketemplekan (tertempeli) rasa kramadangsa ini, maka ia akan mengagungkan ke-diri-annya; ke-aku-annya; egonya. Seseorang yang mempermasalahkan perbedaan agama, bahkan sampai terjadi konflik SARA, dan konflik-konflik kecil karena perbedaan catatan yang ada dipikiran juga pemahaman atas sesuatu adalah wujud dari masih beradanya seseorang itu diwilayah rasa kramadangsa ini.

Padahal ketika kita menginginkan keharmonisan dan keselaran dalam kehidupan ini, ketika kita menginginkan terwujudnya perdamaian (rasa damai) dengan sang liyan—yang mewujud dalam sikap toleransi (tepa salira), kita harus mulai beranjak meninggalkan rasa kramadangsa menuju kepada rasa yang berikutnya.

Rasa yang berikutnya adalah rasa tanpa ciri. Dalam rasa ini, manusia sudah tidak berada pada rasa kramadangsa lagi. Ia sudah mengesampingkan yang serba ciri; serba aku; serba egois. Manusia tanpa ciri sudah berada di wilayah kasih.

Manusia dalam Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram memiliki empat dimensi. Pertama adalah Juru catat, merupakan dimensi fungsi kesadaran inderawi manusia yang menghasilkan catatan-catatan. Kedua adalah berisi sejumlah catata hasil juru catat. Ketiga disebut sebagai kramadangsa “si tukang pikir”, kesadaran fungsi kognisi. Sementara diantara dimensi tiga dan empat terdapat wilayah “jalan simpang tiga”, ini adalah fungsi integritas diri. Ki Ageng Suryomentaram menjelaskan dalam “jalan simpang tiga” ini dengan kemampuan memilih antara mengikuti catatan atau tidak mengikuti catatan. Dan yang ke lima adalah dimensi jiwa sehat, penuh kasih, memahami dan merasakan perasaan orang lain.

Dari empat dimensi Jiwa manusia di atas, cukup jelas menurut saya bahwa terjadinya serta maraknya budaya kekerasan di negeri ini karena orang-orang didalamnya masih pada wilayah rasa kramadangsa bahkan kalau perlu sangat lekat (ketemplekan). Sementara, jalan perdamaian dalam Kawruh Jiwa ada dalam wilayah ukuran kaping sekawan. Yaitu manusia tanpa ciri, manusia yang sudah tidak lekat (ketemplekan) kramadangsa. Inilah menurut saya bentuk penyebab kekerasan dan solusi kekerasan.

Kata kunci untuk mencapai perdamaian adalah raos sami. Raos inilah yang seharusnya kita jadikan pedoman atau dasar dalam hidup bermasyarakat (urip bebrayan). Raos sami akan berbuah rasa damai dengan siapapun dan dimanapun. Karena raos sami disini memiliki pandangan bahwa semua manusia itu sama. Dan puncak dari perjalanan raos sami ini adalah hilangnya identitas ke-akuan (ke-egoisan), hilangnya rasa kramadangsa—puncaknya adalah menjadi manusia tanpa ciri.

Gus Dur ada diwilayah ukuran kaping sekawan. Inilah paling tidak hasil analisis saya. Dan saya pikir bagi kita yang membutuhkan teladan, juga bagi kita para pengagum Gus Dur—harus terus mengupayakan sehat pada sisi psikologis, yaitu berupaya secara optimak dan maksimal berada pada wilayah “ukuran kaping sekawan”.

Ramadhan sebagai wahana untuk melakukan ritual puasa, seharusnya mampu mengembalikan kejatidirian fitrah manusia. Puasa di bulan Ramadhan ini, menjadi salah satu metode untuk berproses menuju “ukuran kaping sekawan”, menuju dimensi jiwa sehat, penuh kasih, memahami dan merasakan perasaan orang lain. Ramadhan dengan demikian dapat kita jadikan momentum kembali meneguhkan indahnya kebersamaan, nikmatnya persaudaraan sesame manusia dalam Kebhinekaan. Pluralisme yang membawa rahmat. Perbedaan yang membawa kesatuan antar umat manusia.

Balaa man aslama wajhahu lillaahi wahuwa muhsinun falahu ajruhu ‘inda rabbihi walaa khoufun ‘alaihim walaahum yahzanuun. (2:112)

“sing sopo wonge kang masrahake jiwa ragane marang Allah, lan dheweke tumindak becik, mangka tumprap dheweke ganjaran ana ing ngarsane Pengerane lan ora ana kekuwatiran tumprap dheweke lan (uga) dheweke ora padha susah”

oleh :
Sunarno Mantingan
Magister Sains Psikologi Sosial, Pemerhati dan Penggiat Nilai-nilai Kearifan Lokal.

sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/04/gus-dur-berada-di-ukuran-kaping-sekawan/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: