Geber Dangdut, Paul Wolfowitz Ikut Berjoget


Geber Dangdut, Paul Wolfowitz Ikut Berjoget
Ketika Yenny-Faris Gelar Perayaan Pernikahan

Zannuba Arifah Chafsoh dan Dhohir Farisi terus ’’mengumbar’’ bahagia. Sejoli yang resmi menjadi suami istri pada Kamis (15/10) lalu itu, merayakan pernikahan dengan menggelar pesta rakyat semalam suntuk di Kompleks Pondok Pesantren Al Munawaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10) malam. Tadi malam, mereka juga menggelar resepsi di Gedung Sampoerna, Jalan Sudirman, Jakarta.

AGUNG PUTU ISKANDAR, Jakarta

SABTU (17/10) sore lalu, sebuah panggung didirikan di halaman belakang Pondok Pesantren Al Munawaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan. Di latar belakang panggung, dipasang spanduk merah besar bertulisan Pesta Rakyat. Gambar Yenny Wahid dan Dhohir Farisi yang mengumbar senyum terpampang di salahsatu sudutnya.

Di atas panggung itu, digelar pesta semalam suntuk hingga Minggu dini hari kemarin (18/10). Karena namanya pesta rakyat, hiburannya pun khas rakyat. Antara lain, hiburan lagu-lagu dangdut dan pembawa acara merangkap pelawak. Juga ada hiburan beberapa grup band dari teman kuliah Faris di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja.

Gus Dur pun memanjakan para pengunjung dengan kuliner mak nyus. Paling tidak, ada lebih dari 15 pedagang keliling yang diborong dan mangkal di lokasi acara. Semua pengunjung bebas makan. Sajiannya antara lain ketupat sayur, sate ayam, bakso, siomay, dan lain sebagainya.

Mereka adalah para pedagang yang biasanya mangkal di kawasan Ciganjur. Gus Dur sendiri memborong mereka dengan harga spesial. ’’Saya sering diundang ke sini mas. Baik acara Maulid Nabi, khataman Al-Quran, wayangan, dan selamatan lainnya. Satu gerobak saya muter-muter dapatnya Rp 400 ribu, sama Gus Dur diborong Rp 600 ribu,’’ kata Slamet, pedagang ketupat sayur asal Pemalang, Jateng.

Tak perlu lama, ribuan massa memadati halaman belakang pondok. Mereka merapat ke sisi depan panggung. Karena acaranya sampai larut malam, penonton yang ngantuk digojlok oleh pembawa acara. ’’Heh, ini nonton orkes apa nonton film. Baru jam segini udah ngantuk,’’ katanya.

Selain masyarakat sekitar, beberapa simpatisan Gus Dur dari Jatim pun ikut hadir. Jawa Pos sempat menemui rombongan dari Surabaya yang datang dengan dua bus. ’’Kami berangkat tadi pagi dari Surabaya. Sampai sini jam dua belas malam,’’ kata Rakhmad, lelaki asal Wonokromo.

Tak ketinggalan, para santri ikut memeriahkan hiburan gratis yang langka itu. Mereka merapat ke depan panggung dengan sarung dan kopyah yang masih dikenakan. Ada yang hanya sekadar nonton, ada juga yang mendokumentasikan konser itu dengan handycam dan kamera digital.

Tamu spesial yang datang di konser malam mingguan itu adalah mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dan mantan Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz. Pengagum berat Gus Dur itu tak hanya duduk dan menikmati sajian hiburan. Wolfowitz pun ikut ’’manggung’’.

Saat Tessa Mariska tampil di panggung, misalnya. Wolfowitz langsung naik ke panggung bersama Yenny (panggilan Zannuba Arifah Chafsoh) dan Faris (panggilan Dhohir Farisi). Mereka meliuk-liuk mengikuti irama musik dan lantunan suara Tessa yang juga anggota DPR RI dari Partai Gerindra itu. ’’Hello, hello, assalamualaikum,’’ kata Wolfowitz sambil ber-dada-dada kepada penonton. Yenny dan Faris pun kompak terbahak.

Sesekali, Tessa menggoda Wolfowitz untuk urun suara ikut bernyanyi. Tessa yang kenes itu sesekali menyodorkan mik kepada Wolfowitz. Tentu saja, pelafalan suara dan cengkok Wolfowitz jauh dari Tessa. Tiap kali Wolfowitz bercuap, penonton tak henti-hentinya tertawa.

Apa alasan kedatangan Wolfowitz? Lelaki yang mengenakan batik dan bawahan gelap itu mengatakan, kehadirannya disebabkan rasa cinta dan kagum terhadap sosok, pemikiran, dan perilaku politik Gus Dur. ’’Saya datang karena cinta Gus Dur,’’ kata Wolfowitz di depan ribuan massa. Yenny yang mendampinginya sesekali ikut menerjemahkan bahasa bule Amerika itu kepada penonton.

Wolfowitz terlihat sangat menikmati keberadaannya di tengah massa. Dia merasakan suasana guyub dan komunal antara yang kaya dan miskin dalam hiburan bernama Pesta Rakyat itu. ’’Pokoknya, saya ini cinta Indonesia,’’ ujarnya.

Usai nyanyi bareng bule, Yenny dan Faris memberikan sambutan. Sejoli pengantin baru itu menyatakan sangat berterima kasih kepada masyarakat yang menghadiri pesta rakyat tersebut. Yenny lantas memperkenalkan Faris sebagai warga baru Ciganjur. Kata putri kedua Gus Dur itu, kalau ketemu Faris di jalan boleh disapa. ’’Yang penting jangan dicolek, karena sudah ada yang punya,’’ ujar Yenny lantas tersenyum.

Tak lama kemudian, Gus Dur, Shinta, dan Wolfowitz meninggalkan panggung. Hanya Yenny dan Faris saja yang menikmati sajian hiburan dari pinggir panggung. Di akhir pertunjukkan, beberapa band kampus rekan Faris di UGM beraksi. Salahsatu dari mereka membawakan lagu khusus untuk Gus Dur. Hanya dengan iringan gitar, para penonton diajak bernyanyi. Di akhir lagu, penonton bersorak bersama. ’’Kami akan selalu bersamamu Gus Dur,’’ kata mereka kompak. Faris mengacungkan jempol kepada penyanyi gondrong itu.(*)

http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=42353

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: