boros takbir


boros takbir

Oleh : Rumadi
USIANYA belum genap 40 tahun. Perawakannya ceking, berpenampilan kalem, murah senyum, selalu memakai kopyah hitam dan berambut panjang sebahu. Dia biasa dipanggil Gus Yusuf, lengkapnya KH. Yusuf Khudhori. Dia kini menjadi pengasuh sebuah pesantren yang cukup tua di Magelang. Masyarakat menyebutnya Pesantren Tegal Rejo. Ada juga yang menyebut Pesantren API (Asrama Perguruan Islam). Gus Yusuf adalah putera Kiai Khudhori, seorang kiai yang sangat dihormati, dimana Gus Dur pernah menjadi santrinya.

Malam itu (30/12/10) Gus Yusuf menjadi bintang dalam haul pertama wafatnya Gus Dur di Ciganjur. Setelah ritual baca tahlil, Ratib Haddad dan surat Yasin selesai, beberapa tokoh memberi tausiyah. Malam itu ada sahabat dekat Gus Dur, Mahfud MD yang mendadak dipanggil kiai haji. Gus Yusuf mendapat giliran bicara berikutnya. Dengan duduk bersila, suara bariton yang teratur, kalimat tertata sambil diselingi guyonan khas pesantren, Gus Yusuf mulai membius ribuan orang yang datang malam itu.

Gus Yus bicara tidak lebih dari 30 menit. Namun, dalam waktu yang pendek itu dia berhasil menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan menggunakan Gus Dur sebagai ikonnya. “Kalau ada orang mengatakan Gus Dur itu rumit dalam beragama, bagi saya itu keliru”. Demikian dia mulai membuka cerita. “Gus Dur itu orang yang sangat simple, sederhana dan tidak bertele-tele dalam beragama. Karena, sikap-sikap Gus Dur itu jelas dan tidak abu-abu”.

Gus Yusuf juga menyampaikan satu cerita yang menurut pengakuannya sudah berulangkali diceritakan Gus Dur padanya. “Kadang saya bosen mendengarnya. Setiap kali sowan Gus Dur, ini terus yang disampaikan. Tapi kemudian saya renungkan, ternyata hal yang diceritakan Gus Dur itu sangat penting, sehingga pantas kalau terus diulang”, kata Gus Yusuf.

Malam itu Gus Yusuf mengulang cerita Gus Dur ketika masih tinggal di Pesantren Tegal Rejo. Suatu hari, ada serombongan orang dari desa sebelah yang ingin bertemu Kiai Khudhori. Gus Dur yang kala itu masih menjadi santri diajak Kiai Khudhori untuk menemui tamu tersebut. Tamu itu mulai menceritakan masalahnya.

Di desa itu ada kekayaan sebagai hasil bondo deso. Warga bersitegang, akan digunakan untuk apa uang tersebut. Sebagian minta supaya uang tersebut digunakan untuk merenovasi masjid; dan sebagian lagi digunakan untuk membeli gamelan karena waktu itu kebetulan ada orang yang menjual seperangkat gamelan dengan harga murah.

Kiai Khudhori tahu bahwa orang-orang yang datang tersebut adalah kelompok orang yang menginginkan agar uang tersebut digunakan untuk merenovasi masjid. Mereka menduga, tokoh agama seperti Kiai Khudhori akan mendukung gagasan mereka. Tapi kiai Khudhori justru berpendapat sebaliknya, “uang tersebut sebaiknya dibelikan gamelan dahulu”. Mengapa? Menurut Kiai Khudhori, melalui gamelan bisa dijadikan sarana untuk mengumpulkan banyak orang, termasuk yang belum sholat. “Di pertemuan itulah kita bisa memberi nasehat kepada mereka. Kalau orang sudah mau berkumpul, maka membangun masjid adalah sesuatu yang gampang”, kata Kiai Khudhori.

Cerita sederhana yang sering disampaikan Gus Dur dan diulang lagi oleh Gus Yusuf tersebut menunjukkan betapa pesantren, yang diwakili Kiai Khudhori, begitu ramah dengan tradisi lokal yang disimbolisasi melalui gamelan.

Cerita lain yang dikemukakan Gus Yusuf adalah fenomena orang yang sering teriak takbir di jalan-jalan, di forum-forum pertemuan, bahkan takbir sering menjadi ungkapan kebencian. “Kenapa sih sekarang orang kok boros takbir. Sedikit-sedikit takbir. Kalau kiai-kiai dulu, takbir itu ya hanya waktu sholat atau wiridan”, kata Gus Yusuf. Kalau dalam fiqih, orang yang mengulang-ulang perbuatan yang sama namanya orang was-was. Ada orang yang takbiratul ihram dalam sholat selalu diulang karena dia ragu apakah takbiratul ihram-nya sudah sah atau belum.

Dalam fiqih, orang yang was-was seperti itu dekat dengan setan, sehingga harus dijauihi. “Jangan-jangan orang yang suka takbir di jalan-jalan itu adalah orang yang was-was dan dekat dengan setan”, sindir Gus Yusuf yang disambut tepuk tangan orang-orang yang hadir malam itu.

Dua cerita tersebut menunjukkan betapa sederhananya cara beragama kiai pesantren. Mereka tidak gila simbol Islam, tidak boros takbir. Cara beragama yang sederhana ini pelan-pelan mulai redup diganti dengan beragama yang suka hiruk pikuk.

* Penulis Kepala Program the Wahid Institute dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: