Bila NU ke kandang Wahabi


Bila NU ke kandang Wahabi

NI kunjungan yang sangat bersejarah. Untuk pertama kalinya, ulama Arab Saudi mengundang ulama NU untuk menjelaskan beberapa pertanyaan.

Misalnya, benarkah NU suka menyembah kubur serta memelihara bid’ah? Berbagai pertanyaan itu tampaknya sudah lama mengganjal benak kalangan ulama Saudi di Darul Ifta.

Maklum, ulama Saudi berbeda dengan NU — dikenal sebagai pengikut Wahabi yang tidak berpegangan kepada ketentuan mazhab dalam pelaksanaan ritual agama. Darul Ifta, lengkapnya Idaratul Buhutsil Ilmiyah wal-ifta wad-da’wah wal-Irsyad, adalah sebuah lembaga kajian Islam tertingi Arab Saudi yang sangat berpengaruh dan bergerak di bidang hukum, fatwa, dakwah, dan bimbingan keagamaan.

Ini berarti rentangan tangan pertama setelah, puluhan tahun lalu, NU mengutus K.H. Wahab Hasbullah menghadap penguasa baru Saudi, untuk menghargai perbedaan-perbedaan ritual. Maka, kunjungan 13 hari akhir Februari lalu itu punya makna sangat penting, terutama untuk mempertemukan dua paham yang berbeda. K.H.M. Sahal Mahfudl (Rais Syuriah NU Ja-Teng), K.H. Mustofa Bisyri’, Fahmi Dja’far Saifuddin (Wakil Ketua PB NU), dan Abdullah Syarwani (Ketua Lajnah Kajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia) mendampingi Ketua Umum PB NU Abdurrahman Wahid dalam rombongan tersebut.

“Bagi kami, kunjungan ini memiliki nilai historis yang tinggi, dan telah banyak menghasilkan titik temu,” kata Abdurrahman Wahid.

Misalnya kalangan ulama Saudi kini telah memahami, qunut Subuh yang diamalkan warga NU bukan lagi sebagai bid’ah.

Ziarah kubur juga telah dapat dimengerti: bahwa NU bukan pemuja kuburan, bahkan NU mengarahkannya agar tidak menjadi syirik.

Menurut Abdurrahman, citra NU di Arab selama ini memang kurang baik, karena informasi mereka tidak lengkap.

Adanya pengertian ini tentu saja merupakan kabar baik buat semua, terutama dalam ihwal peruncingan khilafiyah antara NU dan Persis atau Muhammadiyah.

Apalagi jika pengertian yang mendalam itu justru muncul dari ulama tertinggi dalam Darul Ifta, yang memiliki kedudukan yang sangat menentukan dalam masalah keagamaan di Saudi. Rais Am Darul Ifta, Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, tampak gembira sekali.

Selain menemui para tokoh Darul Ifta, rombongan NU juga mengunjungi Rabithah Al-Alamil Islami (Liga Muslim se-Dunia) dan WAMY (World Assembly of Muslim Youth). Ternyata, yang paling ingin didengar mereka justru soal penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas, yang pernah mereka dengar sayup-sayup . “Ya, maklum, mereka memang tidak begitu paham soal Pancasila.

Mereka hanya tahu Islam sebagai hukum nasional negara mereka, karena 100 persen penduduknya beragama Islam,” kata Abdurrahman Wahid. Menurut Abdurrahman, delegasinya telah menjelaskan bahwa penerimaan NU terhadap Pancasila bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran bernegara.

Pancasila bukan bermaksud menggusur Islam, malah menyuburkan. “Hukum Islam harus menjadi tanggung jawab kaum Muslimin sendiri dalam kehidupan mereka. Bukan menjadi hukum formal, tapi hukum positif yang harus dikerjakan sehari-hari. Tanpa diundangkan.

Tanpa menunggu negara. Ini yang saya terangkan kepada mereka. Dan mereka paham,” ujarnya. Karena itulah dia menyimpulkan bahwa kunjungannya cukup berhasil. Para ulama Saudi memahami semua persoalan umat Islam di Indonesia. Hasil lain: Darul Ifta, juga Rabithah Al-Alamil Islami, dan WAMY sepakat untuk memberikan beasiswa dan membantu usaha pengembangan sumber daya manusia NU. Namun, yang bakal membahagiakan para ulama NU adalah kesediaan ulama Saudi ikut serta dalam pembahasan masalah-masalah keagamaan bersama, nanti. Musthafa Helmy, Laporan Choirul Anam (Biro Surabaya)

catatan

21 Maret 1987

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/03/21/NAS/mbm.19870321.NAS30987.id.html

Iklan

5 Komentar (+add yours?)

  1. habib hidayatulloh
    Okt 11, 2012 @ 11:52:37

    top mas …raka wiryawan…trims infonya,..ini membantu kita sebagai warga NAHDLIYIN di Indonesia

  2. Raka yusna Wiryawan
    Okt 22, 2012 @ 07:26:29

    sama sama habib … semoga bermanfaat buat warga NAHDIYIN

  3. Rafi
    Mar 05, 2013 @ 11:22:16

    Paling tidak menghilangkan kesalahpahaman Hai’ah Kibaril Ulama Saudi dalam memandang Islam Indoesia yang dibawa oleh para walisanga dimana mereka hanya mendengar dari pembisik yang tidak senang kepada NU

  4. Ilman Barkah
    Sep 27, 2014 @ 07:00:24

    no comment

  5. tomii
    Jan 28, 2016 @ 17:10:27

    Bilangnya bukan pemuja kuburan. Lah kenyataan di lapang gimana???? Pffftt…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: