Berebut Diinjak Gus Dur


Berebut Diinjak Gus Dur

Wafatnya KH Abdurrahman Wahid sungguh me-ninggalkan sejuta kenangan bagi rakyat Indonesia. Lihat saja postingan mengenang Gus Dur yang mengalir deras di Kompasiana.

Maklum, Gus Dur adalah tokoh dengan banyak kemampuan. Mampu menjadi presiden, budayawan hingga ulama atau kyai. Bahkan sebagai kyai, Gus Dur diyakini memi-liki ilmu laduni. Yakni ilmu dengan kemampuan “weruh sak durunge winarah” (mengetahui kejadian sebelum kejadian itu terjadi).

Terkait kemampuan terakhir itulah, para santri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa-Timur, memiliki tradisi unik setiap kali menyambut kedatangan Gus Dur.

Selain untuk ziarah ke makam kyai sepuh pelopor pesantren itu, kedatangan Gus Dur di pesantren itu juga bermaksud berbagi ilmu dan motivasi kepada para santri.

Sebelum Gus Dur tiba di pondok, biasanya ratusan satri sudah berpakaian necis mengenakan stelan baju-sarung, berkopiah dan membawa kain sajadah. Mereka berbaris di kanan-kiri jalan di sepanjang jalan yang akan dilalui Gus Dur. Berbeda dengan penyambutan Gus Dur sebagai presiden yang biasanya digelar karpet merah, para santri menyambut kedatangan Gus Dur dengan menggelar kain sajadah sepanjang jalan masuk yang hendak dilalui Gus Dur menuju pondok.

Begitu Gus Dur turun dari mobil, para santri langsung berebutan meletakkan kain sajadah di depan jalan yang hendak dilalui Gus Dur. Tujuannya agar kain sajadah miliknya terinjak kaki Gus Dur. Aksi rebutan gelar sajadah ini terus dilakukan hingga Gus Dur memasuki ruangan penyambutan. Sedangkan sebagian santri yang tidak ikut berebut menggelar sajadah, memilih bersalaman sambil mencium tangan Gus Dur.

Tradisi rebutan gelar kain sajadah dan cium tangan ini, selain dimaksudkan untuk memberi penghor-matan kepada Gus Dur sebagai tamu agung, sebagian santri sangat yakin dengan merelakan sajadahnya diinjak Gus Dur, mereka akan mendapatkan berkah. “Saya dan teman-teman berebut menggelar sajadah untuk diinjak Gus Dur agar kami mendapat berkah,” ujar Atiqullah, mantan santri Ponpes Darul Ulum. Berkah itu dapat berwujud kemudahan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan kemudahan mengatasi berbagai persoalan hidup.

Usai disambut hangat para santri, Gus Dur biasanya melakukan ziarah dan dilanjutkan dengan pembe- rian ceramah kepada para santri. Salah satu isi ceramah Gus Dur yang paling popular di kalangan para santri adalah kisah santri pulang kampung menjadi kyai..

Dalam ceramahnya Gus Dur berkisah,

ada seorang santri, sebut saja namanya Si Kandur, memiliki sikap
dan perilaku yang berbeda dengan para santri umumnya. Selama enam tahun tinggal di pondok pesan-tren, Si Kandur jarang mengkuiti kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan para kyai di pondok. Sehari-hari, kegiatan pokok Si Kandur di asrama pondok hanya makan dan tidur.

Suatu ketika, Si Kandur pulang ke kampung untuk minta bekal kepada orang tuanya. Saat itulah ada seorang tetangganya yang punya hajatan dan minta tolong Si Kandur untuk ikut acara Tahlilan dan Si Kandur kebagian tugas memimpin do’a penutup. Bagi warga kampung, Si Kandur bukan lagi santri tapi sudah dianggap sebagai kyai karena sudah mondok di pesantren selama lebih enam tahun.

Ketika Tahlilan berakhir dan tiba waktunya membaca do’a penutup. Dengan tampilan sangat meyakin-kan, Si Kandur langsung memanjatkan do’a dalam bahasa arab. Dasar santri bonek tak memiliki stok hapalan do’a, rangkaian kalimat do’a yang diucapkan Si Kandur berbelit-belit tak tentu arah. Puluhan warga peserta hajatan yang yakin akan kemampuan Si Tandur, terus saja mengamini doa hingga sebagian di antara mereka terkantuk-kantuk dan suaranya makin lama makin melemah. (kaya’ mutar pita kaset batterynya mau habis gitu loh)

Melihat tamu hajatan yang mengamini do’anya mulai terkantuk-kantuk, Si Kandur mulai panik. Karena bingung tak tahu cara mengakhiri do’a yang dibawakannya, saat warga sedang terlena ngantuk itulah, wuz…wuz…wuz… Si Kandur nekad kabur dari arena hajatan. Warga yang semula ngantuk, semua terperanjat dan beramai-ramai mengejar Si Kandur yang lari kencang terbirit-birit karena sarung yang dipakainya melorot lepas. “Woi… mau kemana? Kenapa lari kyai? “ ujar seorang warga ikut kebingungan. Setelah kejar-kejaran bak adegan film action, Si Kandur akhirnya tertangkap di tengah sawah.

“Saya sebenarnya suka ikut Tahlilan, tapi larinya itu lho yang bikin saya tak tahan,” ujar seorang warga terengah-engah sambil memegang tangan Si Kandur. Warga ini rupanya belum ngeh dan mengira larinya Si Kandur itu merupakan bagian dari prosesi ritual Tahlilan.

Dia juga belum paham kalau yang membuat Tahlilan itu terlalu lama karena Si Kandur tidak hapal do’a dan tidak bisa mengakhiri do’a penutup.

Mendengar keluhan warga tadi, Si Kandur enggan menjelaskan penyebab acara Tahlilan terlalu lama karena khawatir aibnya terbongkar. Dengan wajah pucat pasi karena malu, Si Kandur hanya bisa minta ma’af dan dan untungnya warga mema’afkannya. Si Kandur akhirnya ngacir pulang ke rumah orang tuanya dan tak berani kembali memasuki arena hajatan.

Para santri yang mendengar celoteh Gus Dur ini, banyak yang tertawa. Sementara Gus Dur mengakhiri kisah ini tanpa tersenyum sedikit pun. Inilah gaya khas sekaligus kehebatan Gus Dur. Menyuruh para santri untuk rajin belajar dan ngaji tidak disampaikan dengan nada perintah langsung namun lewat cerita lucu yang bisa membuat para santri terpingkal-pingkal.

Usai mendengarkan ceramah Gus Dur ini, para santri umumnya lebih rajin belajar dan ngaji karena tak sudi bernasib seperti Si Kandur. Motivasi yang disampaikan dengan nada guyonan ini, terbukti mampu membekas di benak para santri dan terus terpatri sepanjang masa. Gus Dur, Gus Dur, sampeyan memang kyai hueeebat.

Itulah salah satu kenangan manis para santri yang pernah mendapatkan wejangan Gus Dur. Di mata para santri, sosok Gus Dur memang beda karena memiliki ilmu laduni dan metode ceramahnya beda dengan kyai lain. Selamat jalan Gus Dur, selamat jalan Kyai. Ya Allah, terimalah semua amal ibadahnya, ampunilah semua dosanya dan terimalah dia di sisi-Mu. Amin ya rabbal alamin.***

Salam Hangat dan Tetap Semangat
Imam Subari

http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/01/berebut-diinjak-gus-dur/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: