Yusuf Sobari Tukang Cukur Gusdur


Jika Tertidur, Kepala Gus Dur Dipegang Sampai Cukuran Tuntas. TIDAK banyak orang mengenal Yusuf Soebari. Namun, lelaki ini sangat dikenal di kalangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), termasuk keluarga besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Siapa sebenarnya Yusuf Soebari? Dia lah yang selama puluhan tahun paling ‘berani’ memegang kepala Gus Dur. Sebab, Yusuf lah yang selama itu menjadi tukang cukur Presiden ke-4 RI tersebut.
Yusuf Soebari membuka usaha bernama Barber Shops International berlokasi di Lantai IV Blok II Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Yusuf Soebari memang telah tiada. Tukang cukur itu sudah meninggal pada Juli 2009 lalu, lima bulan mendahului kepulangan Gus Dur ke pangkuan Allah SWT.
Sabtu (2/1) siang, tempat usaha Yusuf Soebari terlihat lengang. Seorang wanita parobaya yang di kalangan pedagang di sana disapa sebagai Ibu Tuty, dengan ramah menyambut kedatangan persdanetwork.

“Mau potong rambut, mas. Apa sekalian dikeramas,” tanya wanita itu.

Perbincangan kemudian mengarah pada berita meninggalnya Gus Dur akhir tahun lalu.
Ibu Tuty membenarkan Gus Dur sering mampir mencukur rambut di kios ini. “Gus Dur sudah menjadi langganan tetap sejak tahun 1990. Hampir sebulan sekali beliau mencukur rambut di sini,” ungkap wanita berusia 52 tahun itu.

Kios cukur itu memang tidak terlalu besar, hanya 3 x 10 meter. Di dalamnya terdapat lima kursi empuk berwarna hitam berjejer rapi di depan cermin yang menempel di dinding. Gunting elektrik, gunting cukur manual, silet, dan peralatan barber shop lainnya tertata rapi di meja.

Menurut Tuty, tukang cukur langganan Gus Dur bernama Yusuf Soebari telah meninggal Juli 2009 yang lalu. Wanita itu kemudian menolak bicara banyak tentang kebiasaan Gus Dur saat mencukur rambut di kios tersebut. “Maaf ya, saya takut salah bicara,” ujarnya.

Informasi yang diperoleh, Gus Dur kerap mengunjungi kios Yusuf Soebari di Senen. Setiap kunjungannya, Gus Dur selalu meminta dicukur rambutnya. Saat dipangkas rambutnya,
Gus r Dur sampai mengantuk-ngantuk. Jika sudah demikian, biasanya Yusuf memita anak buahnya memegang kepala Gus Dur sampai cukuran selesai.

Gus Dur memilih tempat cukur Yusuf bukan hanya karena hasil cukurannya bagus. Tapi, juga karena tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor PBNU, yang dengan Pasar Senen tidak sampai 2 kilometer.

Meski tokoh penting, Gus Dur rela antre menunggu giliran jika Yusuf tengah kebanjiran pelanggan. Bahkan, Gus Dur juga tidak malu menggunakan toilet umum di Pasar Senen.

Burung Cucakrowo

Bicara soal kegemaran, selain suka mendengarkan musik, Gus Dur juga gemar memelihara burung, khususnya jenis cucakrawa. Jika burung kesayangannya itu tidak terdengar berkicau, Gus Dur langsung menanyakannya kepada tukang kebun yang bertugas memelihara burung tersebut.

“Kadang kalau Bapak lewat mau ke masjid, terus nggak dengar burungnya bunyi, Bapak pasti langsung tanya. Apakah burungnya sakit atau kenapa,” ungkap Mono, tukang kebun Gus Dur yang ditugasi mengurusi burung-burung tersebut.

Mono mengatakan, saat ini ada tujuh ekor burung Gus Dur yang dirawatnya. Burung-burung itu terdiri dari empat ekor jenis cucakrawa, dua ekor jalak suren, satu ekor jalak ijo, dan satu ekor beo. Dari kesemuanya, Gus Dur paling suka dengan cucakrawa.

“Cucakrawa itu jenis burung yang suka nyanyi. Biasanya bunyi di pagi hari. Dan Bapak senang kalau dengar dia nyanyi,” ujar Mono.

Sepengetahuan Mono, burung-burung Gus Dur sudah berusia cukup tua. Sayangnya, tukang kebun yang sudah bekerja selama tiga tahun itu tidak tahu persis usia ketujuh burung tersebut. “Sejak saya kerja di sini burung-burung itu sudah ada,” kata Mono.

Dijelaskan Mono, tidak ada perawatan khusus terhadap burung-burung tersebut. Mereka itu ditempatkan dalam sangkar yang terbuat dari bambu. Setiap pagi, sangkar-sangkar tersebut digantung di garasi mobil di depan rumah Gus Dur. Garasi itu sendiri hanya terdiri dari tiang beton dan atap sehingga kicauan burung pun dapat terdengar jelas.

Pada sore hari, lanjut Mono, burung-burung Gus Dur dimasukkan ke ruangan yang ada di belakang pos jaga di pintu gerbang rumah. Sangkar burung kemudian ditutup dengan sarung yang terbuat dari kain.

Sepeninggal Gus Dur, Mono mengaku belum tahu nasib burung-burung yang selama ini dipeliharanya. “Apakah akan diwariskan ke siapa atau bagaimana, saya belum tahu. Yang pasti ya dipelihara seperti biasa aja,” katanya.

Dan kini, tak ada lagi yang menanyakan apakah burung-burung tersebut berkicau atau tidak setiap harinya.

http://www.surya.co.id/2010/01/04/tukang-cukur-pasar-senen-langganan-kh-abdurrahman-wahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: