Ijtihad Politik Membela Minoritas


Ijtihad Politik Membela Minoritas

Para pemimpin Republik Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri dalam ijtihad politiknya. Kekhasan itu membentuk ciri khas politik yang dijalankan dalam membentuk gerak langkah Indonesia. Bung Karno menancapkan laju politiknya dengan slogan nasionalisme. Spirit nasionalisme yang digelorakan Bung Karno mampu menyatukan perjuangan bangsa Indonesia melawan imprealisme. Bung Hatta hadir dengan politik ekonomi kerakyatan yang teguh memperjuangkan nasib kaum kecil. Soeharto hadir lewat ideologi pembangunan yang menata jalan kemajuan Indonesia. Habibie datang dengan teknologinya yang membuat Indonesia terbang ke angkasa.

Bagaimana dengan Presiden Indonesia yang lain? Buku berjudul “Ijtihad Politik Gus Dur” hadir untuk membedah jalan politik yang digerakkan KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, dalam menata bangunan kebangsaan di Indonesia. Membaca ijtihad politik Gus Dur tak, bagi penulis buku ini, tak bisa dilepaskan dari latar belakang kehidupannya dalam menggali ilmu dan nilai kearifan hidup.

Gus Dur lahir di lingkungan bangsawan santri. Baik dari jalur ayah maupun ibu, Gus Dur merupakan putra mahkota dalam lingkungan pesantren di tanah Jawa. Darah biru Gus Dur menjadi melekat dalam dirinya, terlebih dengan silsisah kekek buyutnya yang sampai pada Pangeran Benowo dan Raja Brawijaya.

Semua itu menjadi bekal kepercayaan diri Gus Dur dalam menjalankan roda politiknya. Sementara konstituen yang melekat dalam dirinya dalah konstituen masyarakat pesantren. Dia sejak lahir hidup dalam dunia pesantren. Keilmuan yang ditekuni juga teguh dengan prinsip kepesantrenan. Karena pesantren dekat dengan rakyat, jalan politik Gus Dur juga melekat dengan rakyat kecil yang berada di pinggir pesantren. Dari sinilah, jalan kehidupan politik Gus Dur terbentuk. Gus Dur selalu menyapa rakyat kecil agar tidak lagi dikebiri oleh kooptasi kekuasaan. Rakyat kecil harus mendapatkan haknya yang layak, tidak boleh lagi ada diskriminasi.

Visi kerakyatan ini terbentuk sangat kuat dalam pribadi Gus Dur. Selain visi kerakyatan, Gus Dur juga seorang Bapak Demokrasi Indonesia yang teguh berjuang menegakkan kebebasan, pluralisme dan kaum minoritas. Demokrasi, bagi Gus Dur, jangan sampai dikooptasi oleh kaum mayoritas, karena kooptasi kaum mayoritas sebenarnya merupakan “pembunuhan” terhadap visi demokrasi kaum mayoritas itu sendiri. Untuk itu, kaum mayoritas harus bersuara lantang membela kaum minoritas.

Dalam hal pluralisme, Gus Dur dikenal teguh menjaga keberagam, karena Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa, maka pluralisme merupakan harga mati bagi berdirinya Indonesia. Dalam keberagaman itulah sebenarnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibangun para pendiri bangsa. Keberagaman mengandung potensi besar yang harus dikembangkan sebagai dasar kebangsaan dalam menegakkan NKRI. Semakin beragam potensi bangsa, maka Indonesia akan semakin berwibawa dalam menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan. Potensi antar suku bangsa menegakkan panji-panji kebangsaan dalam NKRI.

Sementara dalam berdemokrasi, komitmen yang diperjuangkan Gus Dur lebih mengarah kepada perjuangan mengangkat harkat dan martabat kaum marginal. Bukan hanya warga muslim yang Gus Dur perjuangkan, tetapi juga warga Tionghoa, warga agama non-Islam, pengikut aliran kepercayaan, dan kaum minoritas lainnya. Perjuangan Gus Dur kepada kaum Tionghoa, misalnya, akhirnya sukses menjadikan agama mereka (Konghuchu) sebagai salah satu agama yang diakui di Indonesia.

Bahkan hari raya Imlek dirayakan begitu meriah diberbagai sudut kota di Indonesia. Bahkan tokoh-tokoh mereka seringkali diajak Gus Dur untuk bertemu dengan para kiai pesantren dan tokoh-tokoh nasionalis lainnya di Indonesia. Terbukti, warga Tionghoa sekarang merasa at home di Indonesia. Setiap perayaan Imlek, Gus Dur mengajak umat Islam (khususnya warga NU) untuk bersama merayakannya dengan warga Tionghoa. Tidak salah kalau Gus Dur pergi ke China atau Hongkong mendapatkan penghormatan yang sangat istimewa dari Negara dan warganya.

Memperjuangkan nasib kaum marginal menjadi kode utama perjuangan Gus Dur dalam demokratisasi di Indonesia. Dengan mengangkat kaum marginal, maka diharapkan tidak terjadi penindasan dan pengistimewaan kepada warga negara. Di titik inilah, Gus Dur mampu memperkuat basis gerakan demokrasi. Tanpa suara kaum marginal, maka demokrasi hanya akan menjadi cerita kesuksesan kaum elite politik. Demokrasi hanya menyajikan hiruk-pikuk kaum modal menumpuk lumbung harta yang berlimpah-ruah. Ya, demokrasi nantinya malah menjadi ajang melanggengkan status quo yang begitu angkuh dengan atribut kuasa. Gus Dur berusaha meruntuhkan elitisme demokrasi, dimana demokrasi hanya diisi dengan oleh mereka yang “menang”. Mereka yang “kalah”, marginal, bagi Gus Dur, juga harus dilibatkan secara penuh dan setara. Disitulah hakikat demokrasi.

Komitmen mengangkat kaum marginal harus terus diperjuangkan. Karena disitulah demokrasi mampu menjadi alat memberdayakan civil society.

Dan Gus Dur mampu menjadi jembatan bertemunya demokrasi dan civil society secara sinergis, setara, dan berkesinambungan. Kini, Gus Dur telah tiada. Diharapkan spirit perjuangannya mengalir kepada generasi muda bangsa untuk memegang estafet perjuangan membela kaum marginal. Kaum muda bangsa harus tangkas dan taktis dalam mendiskusikan ihwal demokrasi, pluralitas, globalisasi, dan sekaligus tergerak membangun basis pergerakan untuk mewujudkan cita-cita Gus Dur yang masih tercecer.

Ingat, ide itu makhluq. Dan ide Gus Dur adalah makhluq yang butuh “organ tubuh” agar terus mengalir dan mencerahkan warga. Buku ini menjadi salah satu “kaki” yang mencerahkan pembaca ihwal ide-ide Gus Dur.

Judul buku : Ijtihad Politik Gus Dur

http://hminews.com/news/ijtihad-politik-membela-minoritas/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: