Antara Westernisasi dan Bid’ah-phoby: Pembaharuan dalam Islam


Antara Westernisasi dan Bid’ah-phoby: Pembaharuan dalam Islam
Kamis, 14 Oktober 2010 11:06:59

Oleh KH. Abdurrahman Wahid

Ketika K.H. Achmad siddiq melemparkan gagasan tajdid bagi NU (Nahdlatul Ulama) dalam munas alim ulama NU di Cilacap November lalu (1987, peny), banyak orang-orang lalu bertanya-tanya. Pembaharuan macam apakah tajdid yang beliau maui itu? apakah akibatnya bagi NU sendiri, haruskah ia mengubah hukum-hukum agama yang sudah dipakai selama berabad-abad oleh kalangan “ahli madzhab”? akan munculkah usul fiqh baru, disamping yang sudah ada? kalau tidak, bukankah hassilnya sama saja, karena metodologi berfikirnya tetap sama?

Ketika beliau mengundang sebuah tim penyiapan konsep tajdid di lingkungan NU, barulah dijelaskan oleh beliau beberapa hal yang sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Jangan pembaharuan yang bersifat westernisasi , alias menerima demikian saja cara berfikir dan pola hidup orang barat . dasar-dasr pemikirannya saja sudah berbeda dari kita. Pemikiran orang barat dilandasi paham sekularis yang sudah mendarah daging. Kita harus menempatkan agama dalam peranan kreatif dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Orang barat berfikir sentris , atau katakan berpusat pada manusia sebagai subyek atau istilah lain, anthroposentris, Islam tidak demikia . dalam Islam, Allah adalah pusat segala-galanya.

Tajdid yang mau dibikin juga tidak boleh berupa penyimpangan dari ketentuan Allah dan Utusan-Nya yang sudah ada. penyimpangan semacam itu dinamai bid’ah(innovasi). Apalagi kawan-kawan kita sesama kaum muslimin cukup banyak yang bid’ah-phoby. Memang dilingkungan NU sendiri ada dua macam kategori bid’ah, yaitu yang hasanah (baik) dan dhalalah (menyesatkan), namunjustru harus dihindarkan penyerupaan tajdid dengan bid’ah termasuk yang yang baik sekalipun . nanti merisaukan hati mereka yang bid’ah-phoby, takut bid’ah kata beliau.

Di satu ujung ada garis batas westrnisasi. Di ujung yang lain ada garis batas bid’ah. Cukup luaskah lapangan gerak bagi tajdid di kalangan NU itu , jika diikuti versi K.H Achmad Siddik itu? ternyata cukup luas, kata beliau. Tajdid NU harus berintikan upaya memurnikan hukum agama dari penyimpangan-penyimpangan yang fundamentaldari garis ketentuan Al-Qur’an dan sunnah. Juga upaya menampilkan kembali sendi-sendi kehidupan dan wawasan masyarakat muslim di masa kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, dus rekontruksi kembali kehidupan kaum muslim saat ini . dan telisikan mendalam atas metodologi berfikir keagamaan yang dikembangkan para ulama setelah itu, hingga saat ini. yan terakhir tentunya, adalah pemetaan kembali pemikiran keagamaan kita dengan memperhatikan konteks kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini dan di masa depan.

Cukup menarik untuk dikaji , gagasan rais ‘Aam itu. idealisasi masa kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabat memang diperlukan , untuk memungkinkan munculnya butir-butir universal dari ajaran Islam, yang berlaku di semua zaman dan tempat. Karenanya perlu rujukan kesana . pemurnian memang perlu, karena banyak tata cara beragama yang sudah menyimpang dari kehendak syari’at yang sebenarnya. Buktinya masih ada gerakan tasawuf yang berani menjamin pengikutnya masuk surga, jika mengikuti lingkungan mereka. Soal Syafa’at dan berkah, juga masih banyak yang menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya sendiri. Telisikan mendalam atas karya-karya ulama, terutama ulama salaf (yang terdahulu), jelas sekali sangat diperlukan . apakah perbedaan pokok antara usul fiqh madzhab Syafi’i dan hanafi? Jelas jarang diperhatikan orang . bukankah sebagai metodologi berfikir, keduanya dapat direkonstruksikan kembali dalam sebuah model dan kerangka aplikatif?

Yang menarik, justru sisi keempat dari upaya tajdid model NU itu. yaitu memperhatikan konteks kehidupan kita sebagai bangsa dan negara. Berarti memasukan pertimbangan kekinian dan keakanan dalam menyusun hukum agama. Toh, selama ini secara parsial sudah dilakukan, sepert dalam kasus KB (Keluarga Berencana). Juga pendidikan koedukatif (sekelas antara putra dan putri, siswa dan siswi). Karena pertimbangan partikalitas. Kita tunggu hasil rekonstruksi yang memperhatikan sisi lain, karena selama ini belum ada yang menjadikan wawasan kenegaraan dan kebangsaan sebagai bagian dari pemikiran keagamaan. Mudah-mudahan cepat jadi konsep pembaruan atau tajdid yang begitu unik itu.

sumber :
http://www.pesantren-ciganjur.org/

1 Komentar (+add yours?)

  1. Abdul Halim
    Feb 06, 2014 @ 13:49:53

    Disamping Itu Kita Harus Bnyak2lah Mengamalkan Agama Dan Meneguhkan Sunah2rosllah,karna Dngan Kita Mengamalkan Agama Yg Kta Ktauhi Maka Alah Akan Ngash Ilmu Yg Enga Kta Ktauhi, Bisa Aja Kta Dikash Pemikiran2 Yg Benar Oleh Allh,dan Bnyak2 Lah Solat Istkorh,biar D Ksh Ptunjuk Yg Bnar Sm Alh,,dan D Jauhkan Dri Spat2 Yahudi Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: