Presiden Kembali Amcam Berlakukan Negara Dalam Bahaya


Presiden Kembali Amcam Berlakukan Negara Dalam Bahaya
10-7-2001 / 13:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Abdurrrahman Wahid kembali mengancam akan memberlakukan negara dalam bahaya, membekukan MPR/DPR dan mempercepat pemilu. Ancaman itu disampaikan Presiden dalam konferensi pers di Istana Bogor, Senin (9/7). Pernyataan ini dikeluarkan Presiden setelah batalnya rencana pertemuannya dengan para pimpinan parpol.

Batalnya pertemuan tersebut menunjukkan bahwa semakin kecil kesempatan Presiden untuk rekonsiliasi dengan MPR/DPR. Namun Presiden masih yakin, kesempatan rekonsiliasi masih terbuka. “Para staf menteri akan tetap mengusahakan rekonsiliasi sampai dengan tanggal 20,” kata Presiden. Jika gagal ia akan memberlakukan negara dalam keadaan bahaya dan pembekuan MPR/DPR. Selain itu, akan dilakukan percepatan pemilu dalam waktu satu tahun dengan mempergunakan sistem yang ada, bukan distrik.

Dalam konferensi pers di ruangan Garuda, Istana Bogor tersebut, Presiden menunjukan kekecewaannya atas ketidakhadiran para pimpinan parpol yang diprakarsainya itu. Menurut Presiden, sejak semula pemerintah telah berniat untuk berekonsiliasi dengan semua pihak dan tidak menggunakan penyelesaian secara konfrontatif. Pertemuan kali ini, adalah salah satu pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah. “Pihak parpol-lah yang tidak bersedia untuk datang, bukan pemerintah. Ini bukti mereka ingin pemerintahan parlementer, sesuatu yang melanggar kontitusi kita,” kata Presiden.

Presiden membantah opsi-opsi yang ditawarkannya tersebut tidak didukung TNI. “Siapa bilang TNI tidak mendukung, itu kan atasnya, bawahannya kan lain,” kata Presiden. Selain itu, masyarakat akan menanggapinya dengan caranya sendiri. Ia mengaku telah melakukan berbagai cara untuk mencegah masyakat berbuat dengan caranya sendiri. “Siapa yang dapat mencegah, jika masyarakat sudah bergerak.”

Presiden menceritakan, awalnya Akbar Tandjung dan Hamzah Haz akan datang. Tapi karena Megawati tidak datang, Akbar dan Hamzah Haz membatalkan kedatangannya. Mengenai Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, Presiden mengaku dirinya sempat menerima pesan dari Yusril tadi pagi. Yusril mengatakan tidak akan hadir karena sedang di Singapura. Presiden tidak menyebutkan alasan ketidakhadiran para pimpinan parpol lainya seperti Amin Rais dan Presiden Partai Keadilan.

Presiden sempat menceritakan isi pertemuannya dengan Akbar Tanjung, dua hari sebelumnya. “Saya katakan opsi-opsi tadi (negara dalam bahaya, bekukan MPR/DPR, dan percepatan Pemilu), dan sebaiknya hasil Sidang Istimewa itu jangan sampai berupa masalah pertanggung jawaban, tapi berupa masukan bagi pertanggung jawaban itu sendiri,” kata Presiden.

Walaupun fraksi-fraksi melalui Badan Pekerja MPR akan mengundang dirinya untuk meminta pertanggung jawaban, Presiden menegaskan tidak akan memberikan pertanggung jawaban tersebut. Ia akan mengajak MPR untuk meninjau masa depan dan masalah yang akan dihadapi bangsa ini. “Karena itu tidak usah lihat dari nama acaranya, yang penting Tap MPR-nya,” ungkap Presiden. Pertanggung jawaban, kata Presiden, merupakan pelanggaran UUD 1945 dan Presiden berkewajiban mempertahannkan UUD 1945. Waktu itu tanggapan Akbar Tanjung cukup baik. “Tapi kenyataanya dia tidak datang,” kata Presiden. (Dian Novita)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: