Keliling Berbagai Kota untuk Rajut Jaringan Gusdurian


Cara Putri Gus Dur Kenang Sosok Sang Ayah
Keliling Berbagai Kota untuk Rajut Jaringan Gusdurian

Prinsip mikul duwur mendem jero, tampaknya dilakukan empat putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kepada sosok orang tuanya. Setelah meninggalnya Presiden RI ke-4 itu, putri-putrinya terus berjuang untuk mengharumkan nama sang ayah dan melanjutkan perjuangannya.

SUBCHAN ZUHRIE, Jepara

Pada Selasa (9/8) lalu, satu dari empat putri almarhum Gus dur yakni Alissa Qotrunnada, datang ke Kabupaten Jepara untuk mengisi diskusi yang diadakan Lakpesdam NU. Diskusi di Gedung PC NU Jalan Pemuda itu, mengangkat tema Strategi dan Tantangan Melanjutkan Perjuangan Gus Dur.

Kehadiran Alissa itu, seolah mampu mewakili sosok Gus Dur. Putri sulung Gus Dur dan Sinta Nuriyah ini, bercerita banyak tentang sepak terjang mantan ketua PB NU itu semasa hidupnya.
Dalam perjalanannya sekarang, putri-putri Gus Dur ingin perjuangan yang telah dirintis ayahnya, dapat dilanjutkan generasi sekarang.

Menurutnya, banyak nilai-nilai yang mesti dilanjutkan. Di antaranya tentang demokrasi, perjuangan kemanusiaan, perlindungan kaum minoritas, pluralisme, dan sebagainya.
Menurut Alissa, saat ini sudah tersebar kelompok-kelompok yang mengaku sebagai Gusdurian.

Yakni sebuah paham kelompok yang berusaha mengkaji pemikiran-pemikiran Gus Dur, dan melanjutkan perjuangannya. Sebagai anak biologis dari Gus Dur, Alissa tentu bangga perjuangan ayahnya banyak yang melanjutkan.

”Di Indonesia ini kelompok Gusdurian sudah ada di 30 kabupaten atau kota. Bahkan setiap kabupaten atau kota tidak hanya satu kelompok. Di jakarta ada tiga, di Jogja ada dua,” katanya.

Hal itulah yang membangkitkan tekad dari putri-putri Gus Dur bersama kelompok Ciganjurnya, untuk terus mengkomunikasikan kelompok-kelompok Gusdurian di Indonesia.

”Kami ingin menjahit jaringan Gusdurian di Indonesia ini, agar ada kesamaan persepsi dan visi. Kami dengan kelompok Ciganjur terus berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya, untuk sekadar berdiskusi menggali pemikiran Gus Dur,” paparnya.

Memang kewajiban anak kepada orang tua adalah harus bisa mengangkat hal-hal positifnya, dan memendam dalam-dalam jika ada kekurangannya. Dalam pepatah Jawa, seorang anak wajib mikul duwur mendem jero.

Namun, meski sudah banyak terbentuk kelompok Gusdurian, Alissa menegaskan jika jaringan itu tidak akan dilegalformalkan seperti organisasi kemasyarakatan (ormas).
”Biarkan saja kelompok Gusdurian ini tumbuh secara alami. Kami dari kelompok Ciganjur tidak akan melegalkan, apalagi menerbitkan SK (surat keputusan, Red),” tandasnya.

Dalam perjalanannya, kelompok Gusdurian ini telah terbagi dalam tiga generasi. Generasi pertama tahun 1970-an yang turut berjuang bersama Gus Dur. Generasi kedua tahun 1980 dan 1990-an,yang masih mengalami perjuangannya. Dan gerenasi saat ini (2000 ke atas) merupakan genenerasi ketiga yang tahu Gus Dur hanya lewat buku-buku saja. (*/mer)

http://www.radarjogja.co.id/nusantara/21-nusantara/20954-keliling-berbagai-kota-untuk-rajut-jaringan-gusdurian.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: