Gus Dur Pertanyakan DukunganTNI/Polri


Gus Dur Pertanyakan DukunganTNI/Polri
17-7-2001 / 11:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan untuk mengeluarkan dekrit presiden dibutuhkan alat-alat untuk memaksakan keadaan darurat yaitu TNI dan Polri. Hingga kini, dukungan TNI dan Polri tersebut masih dipertanyakan oleh Presiden Abdurrahman Wahid dalam sebuah acara Diskusi Besar” Refleksi Perjuangan Reformasi,” yang digelar oleh panitia bersama dari berbagai elemen mahasiswa, di Ball Room Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (15/7)

Menurut Presiden, dekrit tidak akan dikeluarkan jika para pimpinan partai politik dan elit politi sepakat untuk melakukan kompromi. Dengan kompromi tersebut, perbaikan politik dilakukan setapak demi setapak. Sebagaimana diberitakan berbagai media, ketika berkunjung ke Presiden Wahid di Cirebon beberapa waktu lalu juga pernah menawarkan jalan kompromi. Dan bila sampai tanggal 20 Juli belum ada kesepakan kompromi, maka dirinya akan memberlakukan keadaan darurat.

“Kalau tercapai kompromi, kita akan melakukan perbaikan setapak demi setapak. Jadi bukannya sekaligus dengan dekrit. Sebab, jika sekaligus dekrit, itu artinya membutuhkan alat-alat untuk memaksakan dekrit tersebut. Masih menjadi pertanyaan saya, apakah Polri dan TNI benar-benar mau menjalankan dekrit kalau tidak terpaksa. Penglihatan saya begitu, jadi dengan demikian, Saya melihat, penting sekali arti kebijaksanaan itu,” papar Presiden kepada Mahasiswa yang menanyakan kenapa Presiden tidak saja langsung mengeluarkan dekrit dan membubarkan parlemen.

Acara yang semestinya dihadiri empat tokoh Ciganjur tersebut, yakni Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Sri Sultan HB X, hanya dihadiri oleh Abdurrahman Wahid, dan tampak pula adik kandung Megawati yakni Rachmawati Soekarnoputri.Sementara ketiga tokoh lainnya, menurut Ketua Gerakan Mahasiswa UI, Hanvitra, berhalangan hadir.

Namun hal itu tidak menghambat jalannya acara diskusi yang digelar oleh berbagai elemen mahasiswa, antara lain Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) se-Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Krisnadwipayana, Universitas Mercu Buana dan sebagainya. Sekitar 500 mahasiswa itu begitu antusias menyambut kehadiran Gus Dur. Dari sekitar 8 orang yang bertanya, rata-rata mereka mengajukan permintaan agar Gus Dur segera membubarkan Golkar dan melakukan percepatan pemilu tanpa Golkar.

Menanggapi hal tersebut, seperti biasa, Gus Dur dengan lugas mengatakan, “Kalau sudah mengambil tindakan membubarkan suatu golongan tanpa keputusan MA (Mahkamah Agung), maka Saya bertindak tidak demokratis. Oleh karena itu, Gus Dur mengajak agar MA mengeluarkan fatwa dan pendapatnya dalam permasalahan ini. ”Saya akan melaksanakan keputusan tersebut dengan konsekuen dan tuntas, tidak usah takut-takut,” kata Gus Dur disambut tepuk tangan mahasiswa.

Sementara itu, menanggapi permintaan mahasiswa agar juga membubarkan parlemen, Gus Dur dengan enteng menjawab, “Untuk membubarkan parlemen bisa saja dilakukan dan saya punya kekuatan untuk itu. Tetapi sebagai seorang yang tinggal di lingkungan bangsa yang besar, apakah itu bijaksana, bukankah lebih baik Golkar di bekukan dulu? Kan cukup dibekukan, tidap perlu dibubarkan,” tandas Gus Dur disambut yel-yel bubarkan Golkar dan percepat pemilu tanpa Golkar. (Siti Marwiyah)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: