Gubernur Jatim Soal Deklarasi Jogja


Gubernur Jatim Soal Deklarasi Jogja
3-7-2001 / 1:17 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya: Gubernur Jawa Timur Imam Utomo setuju seratus persen terhadap isi Deklarasi Jogja meski dia hanya membubuhkan paraf lewat pembantunya, sekaligus tidak bisa menghadiri pertemuan yang merumuskan pernyataan tersebut. Bagi Imam, deklarasi itu untuk menunjukkan terjadinya perkelahian elite politik sekaligus penolakan gubernur se-Jawa Bali terhadap rembesan konflik ke daerah-daerah yang melibatkkan massa akar rumput.

Apresiasi Imam semacam itu sekaligus sebagai bantahan terhadap sejumlah komentar analis politik yang melihat Deklarasi Jogja sebagai ungkapan ketidakserasian pemerintah pusat dengan kalangan kepala daerah. “Tidak begitu. Deklarasi itu memperlihatkan adanya konflik di atas, sekaligus penolakan daerah-daerah dijadikan ajang pertikaian yang berkaitan dengan ketegangan di Jakarta. Kalau mau konflik ya di sana saja. Jangan sampai diperluas ke daerah,” ujar Imam menjawab pertanyaan Tempo, Senin (1/7) sore.

Ia mengakui sengaja memerintahkan Wakil Gubernur Bidang Kesra Imam Supardi dan Sekretaris Wilayah Daerah Soenarjo untuk mewakili dirinya dalam pertemuan para gubernur se-Jawa Bali tersebut. Pasalnya, pada hari yang sama, ia mesti melakukan ekpose rencana pembangunan jembatan Surabaya-Madura dengan Menteri Pemukiman Erna Witoelar. Selain jadwal ekspose itu telah ditentukan jauh-jauh hari, menurut Imam, yang lebih penting lagi proyek itu menyangkut kepentingan rakyat Jawa Timur.

Sebagai gubernur yang membawahi daerah rentan konflik berkaitan terpojoknya Presiden Abdurrahman Wahid, Imam Utomo sebenarnya telah berkali-kali menyerukan kepada rakyatnya untuk tenang dan hidup damai. Ia juga menyerukan agar elite-elite politik di Jakarta segera merumuskan solusi damai serta tidak saling mempermalukan. Beberapa waktu lalu, Imam sempat mengeluhkan jalan kompromi tak segera direspons. Akibatnya, sebagian arus bawah Jawa Timur bergolak.

Menurut Imam, tidak ada kelanjutan dari Deklarasi Jogja. Namun, ia mengharapkan ada kearifan pada elite-elite politik di Jakarta untuk tidak terperosok pada pengambilan keputusan yang mudah menyulut konflik massa rakyat, ibarat membakar jerami kering. “Follow up dari deklarasi itu ya kembali pada diri kita masing-masing. Mari saling menjaga, menciptakan hidup damai dan tenteram. Itu saja,” tegasnya. (adi sutarwijono)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: