“Saya Akan Melawan”


“Saya Akan Melawan”
25-6-2001 / 20:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Abdurrahman Wahid kembali mengeluarkan pernyataan keras untuk lawan-lawan politiknya. Ia mengultimatum, siapa pun yang bersikeras memaksakan kekuasaan politik tanpa mengindahkan aturan main yang digariskan Undang-Undang dan UUD 1945, Wahid berjanji akan melakukan perlawanan habis-habisan. “Saya akan melawan. aya tidak ragu-ragu kepada siapa pun yang melanggar UUD dan memaksakan kekuasaan politik tanpa UU,” tegas Abdurrahman dalam forum dialog yang berlangsung di Masjid Darul Arqom Pasuruan, Rabu (20/6).

Presiden juga menepis tudingan bahwa dirinya berusaha mengibaskan lawan-lawan politiknya dengan menggerakkan Jaksa Agung Baharudin Lopa yang terkenal lurus dan tanpa kompromi itu. Ia juga tidak pernah memberi titah sama kepada Kapolri (non-aktif) Jenderal Bimantoro. “Tanya saja kepada Pak Lopa atau Pak Bimantoro. Biarlah hukum yang menentukan. Saya tidak pernah melindungi mereka-mereka yang melanggar hukum,” tegas Abdurrahman.

Kepada kalangan pendukungnya, Wahid berpesan agar tidak menebar kebencian pada mereka yang saat ini mati-matian memusuhinya. Ia menyebut kalangan yang memusuhi dirinya dengan istilah ‘penjepit’ dan ‘perongrong’. Pesan agar sabar tersebut disertai keyakinan bahwa kelak akan terbongkar siapa yang sebenarnya belang dan siapa pula yang bersih. “Kepada penjepit maupun perongrong saya, haruslah kita tetap bersikap baik,” tegas Presiden. Ia juga menyitir sebuah pepatah Jawa. “Sing becik ketitik, sing olo ketoro (yang baik akan terlihat dan yang jelek akan terungkap).”

Kunjungan Presiden ke Pasuruan itu dirancang selain untuk menemui para pendukung fanatiknya, juga berdialog dengan korban-korban kerusuhan. Masjid Darul Arqom itu sendiri milik Muhammadiyah yang ikut menjadi sasaran amuk massa pada kerusuhan akhir bulan lalu. Di forum itu, Presiden juga bertemu kalangan tokoh agama lain, di antaranya pimpinan umat Kristen Protestan dan Kristen Katolik.

Presiden juga menandatangani prasasti pembangunan kembali gedung tua Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Pasuruan, yang dibangun pada tahun 1829 lalu dan kini tinggal puing-puing arang karena dibakar massa. (Adi Sutarwijono)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: