Solusi Gaib untuk Aceh


Solusi Gaib untuk Aceh

Menyelesaikan konflik Aceh lewat jalur supranatural (kekuatan gaib) mulai diwacanakan. Bahkan oleh Presiden Gus Dur. Mungkinkah itu sebagai solusi?

Pendekatan dialog, keamanan, hukum, dan politik sudah dicobalakukan untuk menyelesaikan konflik Aceh. Tapi, belum terbukti efektif.

Pendekatan politik-keagamaan pun sudah ditempuh dengan pemberlakuan syariat Islam di Aceh. Ulama se-Aceh bahkan melalui silaturahminya akhir bulan lalu di ibukota propinsi, sudah menawarkan solusi religius. Yakni menyeru umat di Serambi Mekkah ini untuk terus berdoa kepada Allah agar konflik Aceh segera berakhir. Mereka yang bertikai juga disarankan untuk berdamai dan jangan lagi saling bunuh, karena perbuatan itu dikutuk Allah. Tapi, solusi dan imbauan itu seperti berlalu tanpa hasil.

Apakah itu berarti pintu penyelesaian konflik politik antara Aceh- Jakarta memang sudah tertutup rapat? Dan, kalaupun dipaksakan toh hanya akan menemui jalan buntu? Jangan pesimis dulu.

Penyelesaian masalah Aceh itu sebetulnya gampang. Begitu kata Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menyiratkan optimisme baru.

Segampang apa gerangan? Semudah menyatukan dua kuburan yang terpisah!

Saran seperti itulah yang pernah dikemukakan Presiden Gus Dur kepada Dr Hasballah M Saad MS, ketika putra Pidie itu masih menjabat Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia (HAM).

Makam yang harus disatukan itu, menurut Gus Dur, adalah makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jawa Barat, dengan makam suaminya, Teuku Umar Djohan Pahlawan di Mugo, Aceh Barat, sekitar 40 Km arah selatan Meulaboh. “Kalau kedua makam itu menyatu, persoalan Aceh akan beres. Jadi, penyelesaian konflik Aceh itu gampang saja sebenarnya,” kata Hasballah mengutip Gus Dur.

Hasballah termangu sambil merasa tidak yakin pada solusi yang ditawarkan Presiden ke-4 RI itu. Dia juga tak habis pikir ketika Gus Dur menjelaskan dari mana dia mendapat wangsit yang demikian. “Kata Gus Dur, itu merupakan nasihat spiritual yang diberikan seorang ulama Aceh yang bernama Abu Woyla,” kenang Hasballah seperti pernah dia ungkapkan kepada Republika beberapa waktu lalu.

Dosen FKIP Unsyiah itu menuturkan, Abu Woyla bilang kepada presiden, penyebab pertikaian terus terjadi di Aceh adalah karena makam Cut Nyak Dhien dengan Teuku Umar masih terpisah. Kalau kedua makam suami-istri yang sama-sama pahlawan itu menyatu, maka persoalan Aceh pun beres.

Karena ragu, Hasballah bertanya ulang kepada Gus Dur. “Apakah memang benar seperti itu? Apalagi saya sendiri belum kenal dan bertemu dengan Abu Woyla. Jangan-jangan apa yang dikatakannya kepada Gus Dur tidak begitu,” kata Hasballah menanggapi Tuan Presiden saat itu.

Kontras yang coba menelusuri siapa itu Abu Woyla, belum menemukan sosok aslinya. Nama yang berkait dengan Woyla di Aceh, hanyalah merujuk kepada nama sebuah kecamatan di Aceh Barat yang beribukota Kuala Bheh. Di sini memang ada sejumlah ustad dan ulama, tapi umumnya tak punya akses langsung ke Presiden Gus Dur.

Cuma, ada seorang teungku yang dianggap keramat oleh warga di sana, yakni Teungku Ibrahim. Dia ini diposisikan sebagai “orang sakti” atau aulia oleh kebanyakan warganya. Begitupun, ada juga yang melihatnya sebagai insan biasa saja yang terkadang berperilaku aneh. Baju dan pecinya tergolong kumuh dan jarang diganti, tapi tubuhnya tak bau. Selain itu, konon, pasir yang dilemparkannya ke arah orang, bisa mendadak berubah menjadi air. Uang yang diberikannya kepada si peminta, bisa menjadi bekal sukses untuk berusaha. Tapi, tak jarang orang-orang yang tergolong “kotor” dan berniat jahat, tak diberinya sepeser uang pun kendati didesak. Dia sendiri menerima banyak sedekah dari orang yang ingin bersedekah atau bernazar.

Sayangnya, Kontras tak berhasil bertemu Teungku Brahim karena dia sedang tak berada di Woyla. “Beliau sering keliling Aceh bahkan berkelana ke luar Aceh. Sering pula orang melihat sosoknya berada di dua tempat sekaligus,” ungkap seorang warga Woyla.

Kalau informasi terakhir ini benar, bukan tak mungkin Abu Woyla yang dimaksud Gus Dur adalah Teungku Ibrahim. Soalnya, Teungku Ibrahim sering berkelana ke mana-mana didampingi satu atau dua pengawalnya. Bisa jadi, ketika berada di daerah tertentu dia menelepon Gus Dur, atau bahkan saat berada di Jakarta dia bertemu muka dengan Gus Dur, lalu membisikkan “pesan khusus” tersebut. Kemudian, secara beranting sampailah “solusi khas dunia gaib” itu kepada Hasballah.

Di mata Hasballah, Presiden Gus Dur adalah sosok yang perhatiannya sama intens terhadap demokrasi, HAM, humor, dan mistik. Gus Dur juga sering bersikap menggampangkan masalah. “Terkadang, kita malah bingung dengan keinginannya,” tandas mantan Meneg HAM yang kini menjadi tokoh teras ICMI Pusat itu.

Bila Hasballah bingung dan merasa saran yang diajukan Gus Dur itu irasional bagi penyelesaian konflik Aceh, tidak demikian halnya Permadi SH. Dia melihat, Gus Dur selaku kiyai NU dan oleh sebagian orang Jawa Timur dianggap “wali”, tengah merambah wacana supranatural untuk penyelesaian konflik Aceh.

Paranormal kondang ini menganggap ada alur logika –tentunya logika supranatural– atas ide Gus Dur untuk memindahkan ke Aceh makam Cut Nyak Dhien itu. “Alur pikirnya adalah kekuatan Indonesia ini terletak pada perempuan. Di Indonesia tidak ada simbol laki-laki,” tandasnya.

Kekuatan Indonesia ini, menurutnya, ada pada perempuan. Sehebat- hebat Ken Arok, dia menjadi raja karena Ken Dedes. “Sehebat-hebat Pak Harto jadi Presiden RI selama 32 tahun, dia sangat tergantung pada Ibu Tien.”

Mungkin, katanya menduga-duga, pemahaman seperti itulah yang kemudian melahirkan pernyataan perlunya pemindahan kuburan Cut Nyak Dhien ke Aceh. “Saya tak tahu kebenarannya, tapi hanya mencoba menjelaskan alur berpikirnya saja. Kalau seorang ‘Ibu Aceh’, pusaranya ditempatkan di Aceh, maka damailah Aceh,” kata politisi PDI-P ini.

Karena itu, dengan alur berpikir tadi, kata Permadi, dia bisa menerima gagasan pemindahan makam apakah itu Cut Nyak Dhien atau siapa pun, yang diposisikan istimewa di mata Aceh. “Kalau memang Cut Nyak itu betul-betul dihormati sebagai seorang perempuan Aceh, seorang pahlawan Aceh yang mempunyai kekuatan untuk Aceh, ya silakan dipindahkan pusaranya,” saran Permadi.

Dengan alur pikiran itu pula, apakah kalau Megawati yang jadi Presiden RI maka persoalan-persoalan Aceh dan persoalan Nusantara ini bakal beres?

“Secara spiritual, ya begitu,” kata Permadi tangkas.

Karena pertimbangan itulah dulu, menurutnya, kira-kira 10-15 tahun lalu, pada saat Soeharto berkuasa dengan hebatnya, Permadi mengajukan wacana, sebaiknya yang jadi presiden itu nanti Megawati dan wakilnya Siti Hardiyanti (Mbak Tutut) sebagai “dwi tunggal baru”. Soalnya, masyarakat Indonesia ini kan terpecah dua. Ada pengikut Soekarno, ada pengikut Soeharto. Maka, agar tidak terjadi permusuhan di antara kedua pengikut itu, dan sekaligus mendamaikan Orde Lama dengan Orde Baru, Permadi mengajukan usul begitu.

Permadi memilih perempuan untuk diajukan sebagai pemimpin, karena menurutnya, abad Aquarius sekarang ini adalah abad yang menonjolkan sifat-sifat keperempuanan (feminisme). Tapi, karena waktu itu Pak Harto berkuasa, Tutut malah minta dibalik, dia yang jadi presiden sedangkan Mega sebagai Wapres. Nah sekarang, Indonesia memerlukan seorang ibu. Ibu Pertiwi kita sedang sakit. Tetapi, ada kemunafikan-kemunafikan politisi yang menggunakan jargon-jargon agama untuk menentang perempuan menjadi pemimpin. Maka, kacaulah terus-menerus Indonesia ini. “Padahal ada teladan yang baik bahwa seorang bayi yang menangis akan diam bila disusui ibunya,” kata ayah empat anak ini.

Apakah itu bermakna, daerah-daerah yang sedang “menangis” ibarat bayi bakal diam kalau diayomi oleh seorang ibu? “Begitulah kira- kira,” jawab Permadi merespons pertanyaan Kontras di Jakarta.

Kalaulah secara spiritual pendapat Permadi yang anggota DPR RI ini kuat dasarnya, mestinya saran Gus Dur –yang katanya dibisiki oleh Abu Woyla– itu layak juga masuk daftar pertimbangan dalam upaya penyelesaian konflik Aceh. Itu bagi mereka yang percaya akan kekuatan alam gaib.

Tak menguntungkan

Cuma, di tengah kondisi politik nasional yang gonjang-ganjing dan kredibilitas Gus Dur yang sudah mencapai titik nadir sekarang ini, siapa sih yang mau mendengar saran itu. “Buktinya, langkah- langkahnya yang irasional selama ini justru tak pernah menguntungkan Aceh, bahkan diri Gus Dur sendiri,” tandas Irwan Yasin, ketua umum Badko HMI Aceh. Irwan justru melihat ide ini hanya sebagai pengalihan persoalan. “Dari soal ketidakadilan dialihkan ke soal mistis. Itu membuat inti persoalan makin runyam,” ucapnya menanggapi Kontras, Senin (9/7).

Senada dengan Irwan Yasin adalah Drs Teuku Mersal Iman MSi. Paranormal Aceh yang mengaku pernah memelihara jin Islam ini menganggap, pemecahan konflik Aceh dengan cara-cara supranatural tak akan banyak membantu. Terutama dalam hal sulitnya solusi model itu diterima akal sehat. Kalau logikanya saja sulit diterima, maka sulit pula mengharapkan dukungan dan partisipasi masyarakat untuk mengandalkan solusi supranatural itu sebagai modus penyelesaian konflik. “Itu sebabnya, langah-langkah Gus Dur selama ini tak bisa dipahami orang. Dan, itu justru semakin merunyamkan masalah,” tandas pria yang mengaku lebih melihat Gus Dur sebagai “paranormal” ketimbang Presiden RI.

Menurut Mersal, masalah Aceh bisa diselesaikan secara rasional, juga secara irasional. Yang rasional itu adalah langkah-langkah riil yang sudah dilakukan selama ini. Misalnya, jeda kemanusiaan, moratorium kekerasan, dialog menuju damai, termasuk OKPH.

Cara irasional itu, menurut Mersal, merupakan cara yang tak bisa diukur secara ilmiah. Misalnya, ajakan berdoa dengan ikhlas serta mengembalikan hidup dalam ajaran Islam yang kaffah (totalitas). Doa itu bisa dipanjatkan sendiri-sendiri, tanpa harus dikoordinir dan dipanjatkan di depan orang banyak. Ini bisa menimbulkan sifat ria atau takabur. “Jadi, laksanakanlah ajaran Allah dan Rasul-Nya secara murni dan konsekuen. Lagi pula, payung syariat Islam sudah sejak dulu ada di Aceh. Untuk itulah, kita mesti menaati ajaran yang suci itu dan bisa dikedepankan sebagai solusi konflik,” ujar Mersal.

Selain solusi mendekatkan diri pada Allah, Mersal juga setuju cara- cara irasional lain dalam menyelesaikan konflik Aceh. Yakni dengan menghubungi roh-roh para syuhada. Bukan saja yang masih hidup, roh- roh para pahlawan yang telah banyak berguguran pun selama ini, menurut Mersal, sebetulnya juga menginginkan konflik Aceh selesai. “Cuma, masih ada pertanyaan, siapa yang akan menghubungi roh-roh itu?” tanya pria Aceh Selatan ini serius.

Pemerintah RI, misalnya, hampir pasti tak akan melakukannya. “Wong kepada yang masih hidup saja tak pernah ditanyai dan dikomunikasikan berbagai kebijakan yang hendak diambil. Apalagi kepada yang sudah mati,” ucapnya seraya tertawa lebar. Dan, itulah Jakarta.

Bukan cuma itu. Gus Dur, meskipun sering berhubungan dengan alam supranutural, menurut Mersal, itu tak ada hubungan sama sekali dengan upaya penyelesaian konflik Aceh. “Itu dilakukan Gus Dur lebih karena kepentingan kekuasaannya,” papar Mersal lagi.

Respons GAM

Tapi, GAM berpendapat sedikit beda dengan Mersal. Abu Sofyan Daud menilai, di balik idenya itu menyiratkan bahwa Gus Dur akhirnya menyadari bahwa Aceh dan Jawa itu memang berbeda. Oleh karenanya, sesuatu yang khas Aceh, yang milik Aceh, apakah itu makam pahlawan, harus dikembalikan ke Aceh. Demikian pula, sesuatu yang khas Jawa, milik Jawa, tapi masih berada di Aceh, harus dikembalikan atau dipulangkan ke Jawa. “Saya kira, ini bukan saja kesadaran spiritual, tapi juga sekaligus kesadaran kultural. Syukurlah, Gus Dur makin sadar bahwa antara Aceh dengan Jawa memang lain.”

Abu Sofyan lebih bersyukur lagi, “Karena belum kami minta resmi tapi Presiden RI sudah mengemukakan usul agar makam Cut Nyak Dhien dipindahkan ke Aceh. Sungguh GAM berterima kasih untuk itu.”

Tapi, maunya, kata Abu Sofyan menggarisbawahi, jangan cuma makam pahlawan Aceh yang dikembalikan ke Aceh. Yang lebih penting adalah kedaulatan Aceh. “Dengan begitu, konflik Aceh-Jakarta langsung reda,” timpalnya. Nah! (ika/hil/sak)

Sumber:http://www.indomedia.com/serambi/2001/07/kon12.htm

http://putraaceh.multiply.com/journal/item/593

Iklan

4 Komentar (+add yours?)

  1. Muhamad murza
    Apr 17, 2013 @ 17:44:25

    ini iyalah suatu penyelesaian yg efektif
    untk memahami btp penting nya para pejabat untk blajar mengetahui penting nya pembelajaran tntng alam2 lain selain alam manusia agar ke dpn nya negara ini dngn mudah menyelesai kan masalah2 daerah yg memiliki nilai religius yg besar, bnyk orng yg berpendidikan ddk sbgai pejabat pemerintahan akan tetapi tdk berpOla pikir scara intlektual.

  2. Mang Fikir
    Jul 20, 2013 @ 03:20:06

    Assalamu ‘alaikum.
    Kalau rakyat Aceh menghendaki makam Bunda Tjut Nya Dhien dipindah kenapa tidak dipindahkan saja? Segera aja fasilitasi sama Pemda NAD. Tapi di balik itu kita semua harus banyak beristighfar mengingat Aceh dan sebagian wilayah NKRI sering dilanda bencana, sebagai orang yang beriman kita harus MAWAS DIRI kita jangan terlalu bernafsu mengejar kekuasaan.
    Saya adalah orang Sunda, yang masih berdarah Aceh (Meulaboh), tetap berharap agar kita sebagai sesama anak bangsa lebih mendahulukan keselamatan bersama daripada mengejar kekuasaan golongan atau suku.
    Salam perdamaian.

  3. ѕєrbα ѕємαѕα
    Nov 08, 2014 @ 12:27:52

    nice blog.

  4. Acєh pєuhαbα !!
    Apr 22, 2015 @ 12:37:15

    bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: