Ide-Ide yang Datang dari Tidur


Oleh Moh. Mahfud M.D.

Bersamaan dengan ulang tahunnya yang ke-2, Kamis (21/9/06), The Wahid
Institute meluncurkan buku karya Gus Dur berjudul Islamku, Islam Anda, Islam
Kita. Tak mudah menimbang keseluruhan isi buku tersebut melalui sebuah
artikel. Apalagi, isinya merupakan kumpulan lebih dari 100 tulisan Gus Dur
dengan topik yang beragam yang sebenarnya bisa diresensi sendiri-sendiri
karena memuat gagasan-gagasan yang tajam.

Cukuplah dikemukakan bahwa secara umum buku itu mengekspresikan gairah Gus
Dur untuk menjadikan Islam sebagai agama yang ramah, toleran, jauh dari
kebengisan, dan tidak membuat golongan minoritas takut.

Setelah mendengarkan ulasan Wimar Witular, Bambang Harimurti, dan Syafi’i
Anwar serta membaca beberapa bagian buku tersebut, saya terpukau oleh
ketajaman gagasan dan keluasan wawasan Gus Dur dalam banyak hal, bukan hanya
dalam masalah keislaman. Yang menakjubkan, sepanjang yang saya ketahui,
gagasan Gus Dur yang tajam dan luas itu sering dikemukakan Gus Dur setelah
tiba-tiba terbangun dari tidur pulas seperti yang sering terlihat di
televisi dan koran-koran.

Segi lain yang “ringan” itulah yang ingin saya kemukakan untuk turut
menyambut kehadiran buku tersebut. Soal isi, bukunya jauh lebih baik dibaca
langsung tanpa harus diresensi.

Tidur, tapi Menyerap

Tokoh perburuhan nasional Agus Sudono pernah menulis, bahwa ketika dirinya
menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Gus Dur menjadi presiden,
dia kerap dibuat heran oleh perilaku Gus Dur tersebut.

Betapa tidak. Ketika DPA menyampaikan saran dan nasihat sesuai hasil kajian
DPA, biasanya Gus Dur tertidur pulas, tak mendengarkan hal yang disampaikan
DPA. Tetapi, begitu Ketua DPA Achmad Tirtosudiro selesai berbicara, presiden
terbangun dan langsung menanggapi dengan runtut uraian ketua DPA itu. Tak
ada yang lepas dari konteks masukan DPA. Padahal, ketika masukan tersebut
diuraikan, Gus Dur benar-benar tidur.

Selama saya duduk di kabinet, menjadi menteri Presiden Gus Dur, hal itu juga
saya saksikan. Saat sidang kabinet, biasanya Gus Dur membuka sidang dengan
pengantar singkat, kemudian menyerahkan kepada Mbak Megawati (wapres) untuk
memimpin sidang. Gus Dur kemudian tertidur.

Tapi, begitu sidang kabinet selesai dan forum dikembalikan kepada presiden
untuk ditutup, ternyata resume serta ulasan yang dibuat Gus Dur sangat cocok
dengan yang dibicarakan dalam sidang kabinet itu. Padahal, Gus Dur tertidur
ketika para menterinya berdiskusi.

Ketertiduran Gus Dur tersebut tak terkecuali saat sedang bertemu resmi
dengan pimpinan negara lain. Ketika pada 2001 Perdana Menteri India Rajvaje
beserta rombongannya diterima resmi oleh rombongan Presiden Gus Dur,
lagi-lagi dia tertidur. Padahal, PM India itu sedang berbicara serius persis
di seberang meja Gus Dur. Ajudan Gus Dur mengantarkan permen kepada saya
sambil berbisik. “Pak, ini berikan kepada presiden. Mohon presiden diajak
berbicara agar tak tertidur,” kata ajudan itu.

Saya yang memang duduk persis di samping kiri Gus Dur mencolek pahanya
sambil ngajak bicara. “Gus, rencana kunjungan ke Mesir…,” Belum selesai saya
berbicara, Gus Dur sudah memotong. “Ssst, tak usah laporan dulu, nanti saja.
Ini ada tamu penting harus kita dengarkan,” ujar Gus Dur. Saya tertawa.
Apalagi, Gus Dur tidur lagi, bukan mendengarkan.

Tapi, begitu tiba giliran berbicara, Gus Dur menanggapi satu per satu dengan
tepat masalah-masalah yang dikemukakan PM India dan para menterinya
tersebut, bahkan memberikan arahan tertentu untuk menteri-menterinya tentang
segi-segi penting yang harus ditindaklanjuti dari pertemuan itu.

Tak Usah Cuti, Tidur Saja

Demikian pula ketika saya ikut rombongan Gus Dur berkunjung ke beberapa
negara di Timur Tengah dan Afrika. Dalam acara pembicaraan resmi antara
pemerintah Indonesia dan pemerintah Yaman, setelah memberikan pengantar
singkat, lagi-lagi Gus Dur tidur. Menlu Alwi Shihab dan saya berpresentasi
secara bergantian.

Begitu saya selesai berpresentasi, Gus Dur dibangunkan untuk berbicara.
“Wah, saya baru tahu bahwa menteri pertahanan Indonesia bisa berpidato dalam
bahasa Arab. Menlu Alwi yang orang Arab saja tadi pidatonya pakai bahasa
Inggris, ” katanya. Setelah itu, Gus Dur mengelaborasi pidato Alwi dan saya
dengan sangat cerdas mengenai politik luar negeri, pertahanan, dan hubungan
sipil-militer di Indonesia.

Karena dalam tidurnya Gus Dur tetap produktif menyimak dan berpikir, entah
bagaimana caranya, tak heran ketika pada suatu saat dia tak setuju Presiden
Megawati mengambil cuti istirahat karena lelah. Dalam rangkaian kunjungan ke
berbagai negara pada akhir 2001 yang tampak sangat melelahkan bagi Mbak
Mega, ada teman dari PDIP yang mengusulkan agar Mbak Mega mengambil cuti
beberapa hari.

Alasannya, kasihan presiden yang sejak dilantik pada 23 Juli 2001 itu tak
pernah beristirahat sama sekali karena urusan-urusan kenegaraan yang sangat
banyak menyita waktu, tenaga, serta pikirannya.

Namun, ketika Gus Dur diminta tanggapan atas usul itu, dia tak setuju.
“Cuti? Waaah, urusan negara teramat penting untuk ditinggal cuti oleh
presidennya hanya karena lelah bekerja. Kalau lelah, ya tidur saja, tak usah
cuti segala. Waktu jadi presiden, saya tak pernah cuti. Kalau lelah, ya
tidur, meski sedang sidang kabinet,” ungkapnya yang kemudian disambut tawa
riuh para wartawan.

Gus Dur bukan hanya bisa menangkap dan menguraikan ide yang disampaikan
orang saat dirinya tidur, tetapi juga bisa mengurai idenya dengan cara
bergurau, tapi memukau seperti ide tentang demokrasi berikut ini
(bersambung).

Moh. Mahfud M.D., mantan menteri pertahanan pada era Gus Dur; saat ini
anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: