Memahami Abdurrahman Wahid: Guns N’ Roses sebagai salah satu band favoritnya.


Menelusuri jejak langkah masa kecil dan remaja mantan presiden yang bersahabat dengan kontroversi.
Memahami Abdurrahman Wahid

Jakarta –

Tengah malam tepat menjelang tutup tahun 2009 kawasan Warung Silah, Ciganjur mendadak ramai dalam hiruk pikuk manusia. Seorang guru bangsa ini telah ber-pulang ke haribaan untuk selama-lamanya. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur wafat dalam usia 69 tahun karena komplikasi penyakit yang dideritanya sejak lama.

Cuaca yang dingin disertai hujan rintik-rintik membuat suasana duka semakin mendalam. Beberapa mobil dinas Duta Besar negara-negara sahabat tampak hilir mudik, ratusan santri berbaur dengan ribuan pelayat lainnya membacakan doa semalam suntuk, karangan bunga dari tokoh-tokoh nasional membanjir mulai dari pintu masuk hingga pagar rumah.

Di ruang tengah rumah yang terbilang sederhana tersebut terbujur kaku jasad Abdurrahman Wahid yang beralas dipan serta ditutupi kain kafan dan dijaga oleh empat anggota pasukan elit TNI dari tiga angkatan sekaligus dengan bayonet terhunus.

Seorang perempuan Katolik tampak berdoa dengan kerasnya di hadapan jenazah Gus Dur, Berikutnya juga terlihat para pendeta dan bhiksu yang membacakan doa dengan tulus bagi arwah almarhum Presiden RI ke-4 tersebut. Sementara di belakangnya dengan sabar dan tertib mengantri puluhan pelayat yang siap melakukan shalat jenazah secara bergantian.

Ritual penghormatan ini dilakukan semalam suntuk hingga esok paginya (31/12) jenazah diterbangkan ke Surabaya untuk dimakamkan di Pesantren Tebuireng, Jombang dengan upacara militer yang dipimpin oleh mantan bawahannya dulu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Belakangan kemudian di dapat kabar bahwa gereja-gereja Katolik di Indonesia juga melakukan misa requiem khusus bagi Gus Dur. Kepergian Gus Dur sebagai salah seorang pemimpin umat Islam terbesar di Indonesia ternyata meninggalkan duka mendalam pula bagi pemeluk agama lainnya.

Tak banyak tokoh Islam yang ketika wafat menerima simpati yang begitu luar biasa besar dari golongan non-muslim lainnya. Mungkin hanya almarhum Nurcholish Majid dan Gus Dur saja yang memiliki keistimewaan seperti ini.

Gus Dur merupakan sosok pemimpin umat Islam tradisional paling liberal yang pernah dimiliki oleh Nahdhatul Ulama (NU) dan republik ini. Jauh sebelum menjadi Presiden RI dan Ketua Umum NU ia telah menjadi cendekiawan muslim yang moderat dan diakui intelektualitasnya saat bergabung dengan LP3ES dan menulis untuk jurnal terkemuka saat itu, Prisma.

Gus Dur juga merupakan aktivis pro-demokrasi yang diwujudkan olehnya dengan menjabat ketua Forum Demokrasi yang mengakomodir 45 intelektual dari berbagai golongan dan agama di Indonesia. Tujuan utamanya untuk mengimbangi kekuatan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang digagas Soeharto dan menurutnya berpaham sektarian.

Kontroversi sepertinya merupakan nama tengah Gus Dur. Ketika menjabat Ketua Umum PBNU, ia seringkali berseberangan dengan Soeharto yang tengah berkuasa de-ngan ganasnya saat itu. Puncaknya terjadi ketika Gus Dur mengirimkan surat “ancam-an” kepada Presiden ke-2 RI tersebut setelah Rapat Akbar NU yang rencananya mengerahkan satu juta massa disabotase oleh tentara-tentara Soeharto.

Padahal Rapat Akbar NU ini sengaja didesain Gus Dur selain merayakan hari lahir NU ke-66 juga untuk menyatakan secara terbuka dukungan NU terhadap ideologi Pancasila dan UUD 1945. Namun bagi Soeharto, membiarkan satu juta orang massa berkumpul di ibukota sama saja dengan upaya makar dan ini jelas tak dapat ditolerir.

Dalam suratnya kepada Soeharto, Gus Dur menulis: “Dengan mencegah Nahdhatul Ulama mendapatkan legitimasi penuh atas pandangannya, tanggung jawab untuk mengorientasikan gerakan agama di Indonesia sekarang ini pindah ke tangan peme-rintah. Jika pemerintah gagal maka dalam waktu 10 tahun kekuatan mereka yang tidak menerima ideologi nasional akan tumbuh dan akan meng-ancam Republik Indonesia dan Pancasila…. Apa yang tengah terjadi di Aljazair kini akan terjadi lagi di sini… dan jika kecenderung-an ini berlangsung terus, suatu Negara Islam akan menggantikan negara yang kita punyai sekarang.”

Soeharto pun ciut dan berikutnya memberikan dukungan kepada Gus Dur dan NU walau di belakangnya ia bersama antek-anteknya berupaya sedemikian rupa untuk mendongkel Gus Dur dari tampuk pimpinan organisasi Islam tradisional terbesar di dunia tersebut, seperti yang terjadi saat berlangsung Muktamar di Cipasung pada tahun 1994.

Selama 642 hari menjabat sebagai Presiden ke-4 RI dalam kondisi fisik yang nyaris buta dan sakit-sakitan, Gus Dur juga tak pernah sepi dari kontroversi. Di awal masa kepemimpinannya ia melikuidasi Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, keduanya dianggap memiliki dosa pa-ling besar selama rezim Orde Baru berkuasa. Diperbolehkannya pengibaran bendera Organisasi Papua Merdeka yang ditetapkan sebagai simbol budaya lokal olehnya di bawah bendera merah putih juga memicu kontroversi, bahkan kritik keras datang dari wakil presidennya sendiri, Megawati Soekarnoputri.

Usulannya untuk membuka hubungan bisnis dengan Israel juga menyulut kemarahan golongan muslim di tanah air, sama halnya dengan usulannya untuk mencabut Tap MPRS No. XXV/1966 tentang pelarangan PKI dan penyebarluasan ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme. Pemecatan menteri-menteri (Laksamana Sukardi, Jusuf Kalla) hasil koalisi dari beberapa partai yang dilakukan olehnya tanpa penjelasan lebih lanjut juga menimbulkan kecaman.

Dengan tulus ia bahkan meminta maaf atas dosa-dosa kemanusiaan yang dilakukan Soeharto ketika melakukan pembantaian massal 1965-1966, juga meminta maaf atas terjadinya konflik setelah digelarnya referendum di Timor-Timur. Warisan terak-hirnya sebagai presiden adalah dengan memberlakukan libur nasional bagi Hari Raya Imlek dan mencabut peraturan yang bersifat diskriminatif terhadap etnis Tionghoa. Konghucu pun ia akui eksistensinya.

Bahkan di detik-detik terakhirnya menjabat sebagai presiden di tahun 2001 pun ia masih mengeluarkan keputusan yang kontroversial dengan mengeluarkan dekrit presiden yang berisi pembubaran MPR/DPR, mempercepat pemilu dan pembekuan partai Golkar. Dekrit yang tidak mendapat dukungan sama sekali dari TNI/Polri itu malah berujung dijatuhkannya Gus Dur dari tampuk kepemimpinan nasional melalui mekanisme Sidang Istimewa MPR.

Untuk memahami pemikiran dan tindak-an Gus Dur yang kerap kontroversial tersebut memang sangat kompleks. Namun jika kita coba menelusuri perjalanan hidupnya di masa kecil dan remaja yang sangat penuh lika-liku dan tragedi niscaya akan membuat kita memahaminya dengan sepenuh hati.

Salah satu buku yang mampu mengungkap cikal bakal dan masa lalu Gus Dur de-ngan sangat komprehensif adalah karya Greg Barton, penulis otobiografi Abdurrahman Wahid asal Australia yang telah mengikuti Gus Dur sejak akhir dekade ‘80-an. Ia bahkan mengaku tak pernah bermimpi jika orang yang ditulisnya suatu hari akan menjadi presiden dari sebuah negara berpopulasi lebih dari 200 juta jiwa.

Perjalanan hidup beliau sejak dilahirkan di Jombang hingga menyelesaikan kuliahnya di Baghdad dan berkeliling Eropa selama hampir satu tahun lamanya membawa pengaruh besar bagi perkembangan kepribadiannya. Diduga pada momen-momen signifikan inilah watak lugas, nyeleneh, eksentrik dan kontroversial seorang Abdurrahman Wahid terbentuk.

* * *

Sebelumnya banyak pihak percaya Abdurrahman Wahid dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1940, bahkan pihak keluarga pun kerap merayakan hari kelahirannya pada tanggal tersebut. Namun jika merujuk pada kalender Islam, 4 Sya’ban 1940 sebenarnya adalah 7 September 1940, itulah hari kelahiran Wahid yang sebenarnya.

Wahid lahir di pesantren milik kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri di daerah Denanyar, dekat kota Jombang, Jawa Timur. Kakeknya ini adalah orang pertama di Indonesia yang membuka kelas bagi perempuan di pesantren. Sementara kakek dari pihak ayahnya adalah Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri pesantren Tebuireng di akhir abad 19. Kedua kakek Wahid ini, terutama Kiai Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Nahdhatul Ulama (NU) pada tahun 1926.

NU yang artinya “kebangkitan para ulama” merupakan organisasi Islam tradisional terkuat di pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur serta di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, tempat dimana banyak orang Jawa tinggal.

Nama yang diberikan kepadanya saat itu adalah Abdurrahman Addakhil. Yang terakhir disebut artinya adalah “Sang Penakluk.” Belakangan karena Addhakil kurang populer ia mengganti nama belakangnya dengan Wahid, seperti nama depan ayahnya. Namun uniknya ternyata ia malah lebih populer dipanggil Gus Dur. Gus dalam masyarakat pesantren di Jawa Timur adalah panggilan kehormatan yang artinya serupa dengan “abang” atau “mas.”

Kiai Hasyim Asy’ari tergolong ulama yang sedikit menyalahi kelaziman untuk ukuran ulama pada jamannya karena ia menikahi seorang puteri dari keluarga ningrat Jawa. Ini kemudian berpengaruh pada gaya ibunya ketika membesarkan Wahid Hasyim, ayah Gus Dur. Ibunya mempersiapkan Wahid Hasyim menjadi anggota masyarakat elit perkotaan dan tidak ingin anaknya tinggal di pesantren yang tradisional.

Ia bahkan meminta seorang manajer asal Eropa yang bekerja di sebuah pabrik gula untuk mengajari anaknya bahasa Inggris dan Belanda. Sepulangnya dari belajar di Mekkah, Wahid Hasyim kemudian mengajar di pesantren Tebuireng dan mengembangkan gagasan pemikiran yang mengawinkan pendidikan modern dengan pengajaran Islam klasik. Inilah tampaknya cikal bakal pemikiran modern yang kemudian diwariskan oleh Wahid Hasyim kepada putera pertamanya, Abdurrahman Wahid.������ �

Wahid Hasyim yang bergabung pula dengan NU setelah awalnya menolak kemudian aktif di pergerakan nasional melawan penjajah Belanda dan Jepang. Pada tahun 1944 ia memboyong Gus Dur yang kala itu masih berusia empat tahun ke Jakarta dan tinggal di Menteng, kawasan elit yang menjadi hunian para politikus, pengusaha terkemuka serta para profesional saat itu. Di sanalah mulai terjadi interaksi antara ayahnya dengan para pemimpin pergerakan seperti Soekarno dan Hatta.

Saat itu di waktu malam Gus Dur sering membukakan pintu dan menerima tamu ayahnya, seorang asing berpakaian petani hitam-hitam yang mengaku bernama Paman Hussein. Keduanya kerap terlibat pembicaraan panjang lebar hingga berjam-jam lamanya. Baru belakangan Gus Dur tahu bahwa yang disebutnya sebagai Paman Hussein tersebut ternyata adalah Tan Malaka, seorang tokoh komunis legendaris yang selalu misterius pergerakannya.

Ketika Jepang menyerah dan Indonesia merebut kemerdekaan di tahun 1945, Gus Dur dan ayahnya kembali ke Jombang selama beberapa tahun lamanya. Wahid Hasyim diminta oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk menjadi penasihatnya di masa perang revolusi antara 1945 hingga 1949.

Baru di akhir 1949, Gus Dur dan ayahnya kembali lagi ke ibukota, kali ini Wahid Hasyim diminta Soekarno untuk menjadi Menteri Agama yang pertama dalam sejarah republik ini. Selama beberapa bulan mereka tinggal di sebuah hotel di Menteng dan setiap pagi Gus Dur diantar oleh ayahnya ke SD KRIS yang letaknya berdekatan dengan hotel tersebut.

Sebagai anak menteri Gus Dur tidak pernah sekalipun belajar di sekolah-sekolah elit bagi anak pejabat pemerintah, bahkan ketika ditawari sekalipun ia menolak dan lebih memilih sekolah-sekolah biasa, seperti SD KRIS dan SD Matraman Perwari, yang letaknya berdekatan dengan rumahnya yang baru di kawasan Matraman.

Sejak awal memang Gus Dur telah dididik orangtuanya secara sekuler, walau sejak kecil pula ia telah belajar bahasa Arab dan mampu membaca Al Qur’an. Baru ketika remaja ia mulai belajar bahasa Arab yang sistematis. Di rumahnya di Matraman itu terdapat banyak buku, majalah dan koran, bahkan koran yang diterbitkan oleh orang Katolik atau non-muslim lainnya. Selain itu rumah Gus Dur ini juga seringkali didatangi oleh tamu-tamu dengan latar belakang yang beragam dan berbicara dalam berbagai bahasa pula.

Ini menyebabkan Gus Dur dan adik-adiknya secara tidak langsung terpengaruh untuk membaca apa saja yang ada di dekat mereka dan kemudian mendiskusikannya secara terbuka dengan kedua orangtua mereka. Sekali lagi ini juga tidak lazim terjadi di dalam keluarga muslim pada umumnya di Indonesia. �

Walau ayahnya sangat mengasihinya namun Gus Dur mengaku jarang berbicara dengannya. Menurutnya, ayahnya selalu tampak serius, mungkin saja ini karena terkait dengan pekerjaannya sebagai menteri dari sebuah negara yang belum lama berdiri. Namun ia ingat bahwa suatu waktu pernah bermain bola dengan ayahnya di halaman belakang rumah.

Menurut penuturan saudara-saudaranya yang lebih tua, Gus Dur sejak kecil telah tumbuh menjadi pribadi yang tidak bisa ditekan dan nakal. Seringkali ia dihukum dengan diikat di tiang bendera depan rumahnya karena sikapnya yang tidak sopan dan guyonannya yang kerap melewati batas.

Ketika usianya belum mencapai dua belas tahun, Gus Dur yang saat itu memiliki hobi memanjat pohon telah mengalami dua kali patah tangan. Yang kedua malah hampir saja membuatnya kehilangan tangan. Gara-garanya ia mengambil makanan dari dapur dan memakannya di atas pohon. Karena kekenyangan ia pun ketiduran dan terjatuh hingga tulang lengannya menyembul keluar. Untungnya patah tulang yang serius ini segera ditangani dengan cekatan oleh dokter hingga akhirnya lenganya dapat tersambung kemabali.

Selain bersahabat dengan para tokoh nasionalis, Wahid Hasyim juga banyak berteman dengan orang-orang “bule”. Salah seorang sahabatnya adalah William Iskandar Bueller, seorang warga negara Jerman yang tinggal di Jakarta dan telah memeluk agama Islam. Seringkali sepulang sekolah Gus Dur berkunjung ke rumah Bueller untuk bermain di sana. Untuk pertama kalinya Gus Dur mendengar musik klasik dari koleksi piringan hitam Bueller yang diputar di gramofon miliknya. Gus Dur sangat senang dengan karya-karya Beethoven. Ini bertolak belakang dengan ayahnya yang walau modern namun hanya menyenangi lagu-lagu Islam tradisional.

Yang cukup mengejutkan ternyata Bueller adalah seorang homoseksual. Kurang diketahui dengan pasti apakah Wahid Hasyim tahu akan hal ini atau memang ia tak peduli temannya tersebut gay. Yang pasti Gus Dur banyak mendengar cerita tentang hal-hal buruk mengenai Bueller dari supirnya namun tidak pernah menceritakannya kembali kepada ayahnya.

Selama tinggal di Jakarta Gus Dur sering diajak oleh ayahnya untuk menemaninya ke berbagai pertemuan penting yang dihadiri oleh banyak orang. Selain karena senang ditemani oleh anak pertamanya, agaknya ini merupakan salah satu upaya Wahid Hasyim mendidik anaknya agar dapat meneruskan perjuangannya. Apalagi sebagai putera pertama dari enam bersaudara, Gus Dur tentu saja secara kebiasaan masyarakat Islam tradisional menjadi tumpuan harapan kakeknya almarhum Kiai Hasyim Asy’ari dan ayahnya untuk menjadi pemimpin Nadhatul Ulama suatu saat kelak.� �

Pada suatu hari di tanggal 18 April 1953 Gus Dur menemani ayahnya dan sahabatnya Argo Sutjipto untuk menghadiri pertemuan NU di Sumedang dengan mengendarai Chevrolet putih. Gus Dur dan supir duduk di depan sementara ayahnya dan Argo duduk di belakang. Ketika mereka melewati kawasan antara Cimahi dan Bandung suasana hujan membuat jalur yang padat ini menjadi licin dan supir yang melaju kencang kehilangan kontrol saat berbelok di sebuah tikungan. Bagian belakang mobil yang selip ini menabrak sebuah truk yang membuat Wahid Hasyim serta sababatnya terpental keluar dan mengalami luka berat di sekitar kepala dan lehernya. Gus Dur dan supir sendiri tidak mengalami luka-luka sedikitpun.� �

Sambil menunggu ambulan yang baru datang empat jam kemudian Gus Dur menunggui ayahnya di pinggir jalan. Ketika akhirnya dirawat di rumah sakit Bandung pun Gus Dur tidak tidur semalaman menjaga ayahnya bersama sang ibu. Sayangnya, esok paginya Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto akhirnya meninggal dunia.

Wahid Hasyim tutup usia dalam usia yang masih sangat muda, 38 tahun sementara Gus Dur saat itu baru berusia 12 tahun. Ibunya, Solichah, masih berusia 29 tahun dan bahkan tengah mengandung putera bungsu mereka, Hasyim. Sejak saat itulah Gus Dur bersama kelima orang adiknya dibesarkan oleh sang ibu tercinta yang mendadak menjadi kepala keluarga di Jakarta.

Walau Gus Dur dikenal sebelumnya sebagai anak yang senang bergurau dan nakal namun kepada ibunya ia selalu menaruh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam. Setidaknya jika berada di depannya, Gus Dur selalu menuruti kata-kata ibunya.

Pada fase ini Gus Dur kecil sudah mulai keranjingan membaca. Kemanapun ia pergi pasti membawa buku. Bacaan apa saja pasti dilahapnya. Jika buku yang dicari tak ada maka ia akan mencarinya ke toko-toko buku bekas atau mengunjungi perpustakaan teman-teman ayahnya.

Pada tahun 1954 ia mulai masuk Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dan sempat tidak naik kelas dua. Walau tergolong anak yang pandai namun ia jauh lebih senang menonton pertandingan sepakbola dibandingkan mengerjakan pekerjaan rumah. Gus Dur muda juga cenderung pemalas dan bosan dengan pelajaran-pelajaran di kelas yang menurutnya kurang menantang. Banyak yang bilang ia masih sedih ditinggal oleh ayahnya dan sebagai pelampiasannya ia lebih senang membaca buku, menonton film atau sepakbola.�� �

Karena tidak naik kelas, oleh ibunya Gus Dur dikirim ke Yogyakarta untuk bersekolah di SMP sekaligus pesantren serta tinggal di rumah sahabat ayahnya, Kiai Junaidi yang juga salah seorang pemimpin utama Muhammadiyah. Hal ini cukup luar biasa karena sebagai cucu pendiri NU ia kemudian tinggal di rumah pemimpin Muhammadiyah yang selalu berbeda pandangan dengan NU dalam menafsirkan Al Qur’an beserta praktik-praktiknya. Faktor ini agaknya makin memperkaya pemikiran Gus Dur akan indahnya perbedaan pandangan dan mulai tumbuhnya pluralisme dalam dirinya.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP di tahun 1957, Gus Dur mulai menekuni dunia pesantren. Ia sempat bergabung di pesantren Al Munawwir di Yogya, pesantren Tegalrejo di Magelang dan pesantren Tambakberas di Jombang tahun 1959. Selama belajar di pesantren Gus Dur banyak menghabiskan waktu untuk membaca literatur-literatur barat, bahkan selama di Yogya ia banyak menonton film dan pertunjukan wayang kulit. Setidaknya setiap dua minggu atau tiga minggu sekali ia melakukannya.

Masuk awal dekade 1960an Gus Dur yang saat itu berusia 20 tahun, secara fisik tidak menarik dan memiliki citra sebagai remaja kutu buku akhirnya mengalami gejolak romantika seperti halnya anak muda kebanyakan seusianya: Jatuh cinta. Sebagai santri yang taat jelas ia belum pernah berkencan bahkan berpacaran, ini adalah sebuah aktivitas yang diharamkan saat itu.

Ketika mengajar di Madrasah Tambakberas itulah Gus Dur mulai kepincut dengan seorang gadis paling menarik di kelasnya, namanya Sinta Nuriyah.
Nuriyah mengaku tak bisa menjawab apakah ia mencintai Gus Dur atau tidak.
“Mendapatkan teman hidup bagaikan hidup dan mati. Hanya Tuhan yang tahu,” jawab Nuriyah. Namun melalui surat-menyurat yang intensif ketika Gus Dur kuliah di Kairo perlahan ia mulai melihat sisi intelektual Gus Dur sebagai sesuatu yang romantik.

Selain membaca literatur yang tergolong berat Gus Dur ternyata juga menyukai sastra picisan, khususnya cerita-cerita silat. Ia mengaku banyak terpengaruh oleh falsafah Cina di dalamnya, seperti tema kesetiaan murid kepada guru silatnya. Selain cerita silat ia juga menyukai kisah-kisah yang berhubungan dengan Perang Dunia II yang kemudian berkembang menjadi pembaca setia buku-buku biografi para presiden Amerika Serikat, khususnya Franklin D. Roosevelt dan Harry S. Truman.

Ketika remaja Gus Dur mulai suka membaca buku-buku serius karya para pemikir sosial liberal Eropa serta novel-novel legendaris Inggris, Prancis dan Rusia. Ia bahkan telah mampu membacanya dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda dan Jerman. Mulai dari karya Plato, Aristoteles, Karl Marx (Das Kapital), Lenin (What is to be Done, Infantile Communism) hingga Mao Tse Tung (Little Red Book). Semua buku-buku ini dilahapnya tanpa sedikit pun mengganggu sekolahnya.

Namun di saat yang bersamaan Gus Dur ternyata juga sempat tertarik dengan ide fundamentalisme Islam yang ditawarkan oleh Sayyid Qutb, Said Ramadan, Hasan al-Bana serta gagasan yang diajarkan oleh organisasi Islam radikal Ikhwanul Muslimin. Pergulatan Gus Dur dengan Islam radikal yang juga atas rekomendasi Aziz Bisri (adik laki-laki ibunya yang memintanya membuka cabang Ikhwanul Muslimin Indonesia) untungnya hanya sesaat saja. Bulan November 1963 Gus Dur menerima bea siswa dari Departemen Agama untuk berkuliah di Universitas Al Azhar, Mesir.

Selain itu Gus Dur juga mengakui ada sebuah buku yang membuatnya berpaling dari Islam radikal. “Buku Aristoteles, Eticha Nichomachea. Kalau nggak ada buku itu, saya sudah jadi fundamentalis,” ujar Gus Dur ketika diwawancara Rolling Stone beberapa tahun lalu.

Tiba di Universitas Al Azhar Gus Dur langsung diberitahu oleh pejabat fakultas untuk mengikuti kelas bahasa Arab bagi pemula. Padahal sebelumnya Gus Dur di tanahair telah memiliki sertifikat lulus berbagai studi Islam yang menggunakan bahasa Arab namun tidak diakui oleh pihak universitas karena ia tidak memiliki ijazah lulus bahasa Arab.

Walhasil ia terpaksa mengambil kelas dasar bahasa Arab kembali walau ujung-ujungnya ia lebih sering membolos dan menghabiskan waktu di Kairo dengan menonton sepakbola, membaca buku di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film Prancis, Inggris dan Hollywood atau sekadar berdiskusi di kedai-kedai kopi di sana.�� �

Gus Dur akhirnya gagal dari studinya di Al Azhar karena terlalu banyak membolos dan tidak lulus ujian akhir. Ia pun mengalami frustrasi. Melalui surat yang panjang ia curhat kepada Nuriyah tentang kegagalan studinya ini. Tak diduga tak dinyana Nuriyah segera membalas suratnya tersebut.

“Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tetapi paling tidak Anda berhasil dalam kisah cinta,” tulis Nuriyah dalam suratnya. Gus Dur pun kembali bersemangat. Segera ia tulis surat kepada ibunya dan memintanya agar melamar Nuriyah saat itu juga. Usia Nuriyah sendiri saat itu baru 13 tahun! Namun pernikahannya baru terjadi pada 11 September 1971 atau 10 tahun kemudian, sepulangnya Gus Dur dari Timur Tengah dan Eropa.

Gus Dur lantas melanjutkan lagi studinya di Universitas Baghdad, Irak selama tiga tahun. Anehnya walau gagal di Kairo ternyata tawaran beasiswa justru datang kembali kepadanya. Sebagai anggota keluarga dari ulama terkemuka di Indonesia dan pergaulannya yang luas Gus Dur pun ikut membantunya. Kali ini tekadnya semakin kuat untuk merampungkan studi di Universitas Baghdad. Ia mulai berdisiplin belajar dan kuliah serta menghentikan kebiasaan buruknya: Membolos. Ia pun mengurangi hobinya menonton film Prancis di bioskop walau masih menyempatkan diri juga untuk belajar Bahasa Prancis di Pusat Kebudayaan Prancis di Baghdad.� �
Selama kuliah dan bekerja di Baghdad Gus Dur mempunyai sahabat karib bernama Ramin, seorang Yahudi Irak yang liberal dan terbuka. Ramin juga aktif mempelajari Kabalah, tradisi mistik Yahudi. Ia dan Gus Dur sering terlibat dalam diskusi panjang tentang agama, politik hingga filsafat. Ramin adalah orang yang pertama kali mengajarkan Gus Dur tentang Yudaisme dan sejarah orang-orang Yahudi yang mengalami penindasan sebagai kaum minoritas.

Simpati Gus Dur kepada kaum Yahudi mulai tumbuh setelah ia memahami pandangan agama mereka tersebut. Agaknya inilah� yang di kemudian hari ketika menjabat sebagai Presiden RI ke-4 memicu tindakannya untuk membuka dialog intensif dan hubungan bisnis dengan Israel yang kontroversial tersebut.

Setelah menyelesaikan studinya di Baghdad pada tahun 70an, Gus Dur memutuskan pindah ke Eropa. Ia berkeinginan untuk mengambil kuliah pasca sarjana di bidang perbandingan agama di Universitas Leiden, Belanda dan berencana mengajak Nuriyah tinggal bersamanya di Eropa.

Harapan ini pupus karena ternyata hampir di seluruh universitas yang ada di Eropa tidak mengakui ijazah kesarjanaannya di Universitas Baghdad. Ia diharuskan mengulang kembali studi tingkat sarjananya jika ingin berkuliah di sana. Gus Dur pun kecewa dan memutuskan untuk pulang ke tanahair di tahun 1971. Padahal salah satu obsesi intelektualnya adalah menggali pemikiran-pemikiran liberal Barat yang kritis, sesuatu yang telah ia minati sejak ia belajar di Yogyakarta, Kairo dan Baghdad bertahun-tahun sebelumnya.

Sebelum pulang ke tanahair, Gus Dur sempat berkelana selama sekitar satu tahun di Eropa. Enam bulan di Belanda, empat bulan di Jerman dan dua bulan di Prancis hanya untuk merasakan langsung interaksi sosial dan budaya dengan masyarakat di negara-negara tersebut.
Selama di sana Gus Dur sempat bekerja di tempat binatu milik orang Cina dimana ia belajar menyetrika dan melipat pakaian sambil mendengarkan musik yang untuk pertama kalinya berhasil mengusik seleranya: Rock & Roll! Janis Joplin, Led Zeppelin, Deep Purple adalah beberapa artis yang disuka olehnya saat itu, selain musik klasik yang telah digemarinya sejak kecil.

Belakangan ketika diwawancara oleh Rolling Stone pada tahun 2008, Gus Dur secara mengejutkan bahkan sempat pula menyebut nama Guns N’ Roses sebagai salah satu band favoritnya.

“Guns N’ Roses juga (band) bagus. Saya kasih tahu ya, yang namanya musik itu harus memiliki soul. Itu mulai dari Led Zeppelin terus sampai ke belakang. Makanya saya seneng sekali dengan Guns N’ Roses!”

sumber :

http://rollingstone.co.id/read/2011/02/08/182517/1563372/1120/memahami-abdurrahman-wahid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: