Pentas Seni


Pentas Seni

Suatu hari, Gus Dur melakukan perjalanan malam dari Demak ke Lirboyo, Kediri. Sastro al-Ngatawi mendampinginya.

Sampai di Sragen, bis yang ditumpangi keduanya tidak mau melanjutkan perjalanan, karena penumpangnya hanya mereka berdua.

“Tro, gimana ni?” tanya Gus Dur.
“Lah ya kita kita turun Gus,” jawab Sastro.

Dengan berat hati, keduanya turun. Berdiri di pinggir jalan. Setelah lebih dari 30 menit mereka menunggu kendaraan lewat, akhirnya ada mobil kijang tua menghampiri.

“Teng pundi Pak?” tanya supir. Sastro menjawab, “Kediri Pak. Lirboyo.”

Setelah tawar menawar, akhirnya Gus Dur dan Sastro naik omprengan, melanjutkan perjalanan menuju Lirboyo, Kediri. Ditambah keduanya, mobil itu berisi 7 orang, lelaki semua.

Sampai di Nganjuk, mobil berhenti. Supir dan 4 orang temannya turun semua, minta izin sebentar untuk kencing. 5 orang laki-laki turun semua, dan mereka serempak berjajar menghadap ke sawah, kencing.

“Tro, itu liat, ada pentas seni,” kata Gus Dus.
“Hahaha…. Gus-Gus, Sampean ini ada-ada saja, kencing bareng kok dibilang pentas seni,” timpal Sastro sambil tertawa terkekeh-kekeh. (hs)

sumber :
http://nu.or.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: