Masyarakat Tumpeng

Masyarakat Tumpeng

imageContent.php 1

Oleh Hilmy Firdausy

Masyarakat kita, masyarakat Nusantara adalah masyarakat tumpeng! Masyarakat yang suka berbondong-bondong, berkumpul, berguyub dalam berbagai hal. Masyarakat yang berduyun-duyun pergi ke rumah tetangga ketika ada hajatan, selametan dan tahlilan. Masyarakat yang ketika itu ibu-ibunya kompak bekerja sama, gotong royong memotong bawang dan ikan-ikan, menenun berbagai obrolan ringan sambil menunggu masakan mateng.

Kita adalah masyarakat tumpeng. Masyarakat yang bergerak bersama-sama dari bawah untuk menuju satu titik tuju yang universal. Kita masyarakat tumpeng, masyarakat panjat pinang. Masyarakat yang saling memikul beban, memangkukan berbagai macam permasalahan di bahu kebersamaan, mengentaskannya tanpa sedikit pun menonjolkan ego kedirian personal. Kita masyarakat tumpeng. Masyarakat yang erat dan rekat karena masing-masing dari kita paham jika kita manusia, paham jika kita tak hidup sendiri saja.

Ketumpengan masyarakat kita pun pada akhirnya berwujud nasi. Makanan pokok yang bagi orang Indonesia tidak bisa diganti roti atau jenis-jenis makanan lainnya. Kosakata makan ya mengarah pada makna “makan nasi”, selebihnya hanya pelengkap, hanya lauk yang sama sekali tidak mengandung makna perut terisi. Apakah ada relevansinya ketumpengan masyarakat kita dipersonifikasikan serta diinternalisasikan ke dalam nasi? Oh tentu ada, izinkan saudara saya beri kisi-kisinya..

Nasi sebagaimana saya jelaskan adalah jantung kehidupan masyarakat Nusantara. Secara umum begitu, meskipun nanti kita temukan orang-orang timur lebih sering makan sagu. Bukan alasan karena mereka tak suka nasi, tapi karena berbagai kegoblokan pemangku kebijakan negara kita di pusat, saudara-saudara kita di timur tak mendapatkan jatah beras semudah yang kita rasakan di sini. Ya bisa dikatakan andai masih ada nasi buat apa mereka makan sagu…

Saya ulangi, nasi adalah jantung kehidupan masyarakat Nusantara. Dari itu mereka memperkuat dan mengisi nutrisi tubuh mereka, dari itu pula mereka memperkuat serta mengisi nutrisi kehidupan bangsa. Kata paman saya yang petani, menanam padi itu tak pernah ada ruginya. Beda dengan tanaman-tanaman lainnya, apalagi cabe, tembakau dan bawang. Mau segagal apapun pertaniannya, padi minimal masih menghasilkan uang yang seimbang dengan modal awal yang dikeluarkan, baik dalam tahap pembibitan ataupun penanaman.

Nasi adalah nadi di mana kehidupan masyarakat kita berdetak dan berdenyut hingga saat ini. Nasi itu penting! Oleh karena itu dulu orang tua kita akan marah sekali ketika kita terlalu asik main dan melupakan makan nasi. Tak peduli apakah perut kita sudah penuh dengan singkong dan jenis ubi-ubian yang kita temukan di ladang, mau tidak mau kita masih harus dan tetap makan nasi. Dalam ruang sosial semacam ini nasi secara tidak langsung sudah menjadi perlambang bagi teologi agraria dan sosial masyarakat kita.

Saya tidak tahu asal muasal kata tumpeng. Tapi kalau mau dimaknai secara paksa, saya mengasumsikan tumpeng itu berarti “tumpah bareng-bareng.” Ya masyarakat kita memang masyarakat keroyokan. Masyarakat yang tidak pernah mengenal konsep one man one show. Makanya ketika ada suatu acara mereka tumpah ruah di situ, bebas. Ada yang saling membantu sebuah pekerjaan, ada yang hanya berdiri memperhatikan, ada yang hanya numpang ngopi dan melepas obrolan-obrolan. Bagi masyarakat kita, hal itu sudah lumrah dan tak pernah melahirkan iri-irian.

Nasi dan tumpeng adalah dua entitas yang mengakar dalam kebudayaan kita. Ketika disatukan ia layaknya Power Ranger yang bergabung, menyatukan diri mereka untuk melahirkan satu robot yang lebih hebat dan lebih kuat. Robot yang bisa menghabisi alien “asing” yang berasal dari luar. Robot yang bisa menghancurkan dengan sekali pukulan siapapun mahluk asing yang mencoba menganggu ketentraman dan merusak wilayahnya. Eng ing eng… Ketika bergabung jadilah nasi tumpeng!

Yang namanya nasi tumpeng ya dimakan bareng-bareng. Tumpah dalam satu nampan bambu bareng-bareng. Makan sambil beradu tatapan, memantau pergerakan tangan siapa yang lebih besar gengamannya, mendengar langsung kunyahan orang di sampingnya, sembari sesekali tangan kita beradu dengan tangan lawan di depan kita… ah sungguh romantis. Ya masyarakat tumpeng juga masyarakat yang romantis… yang harmonis, saudara.

Pengalaman sosio-teologis semacam ini tidak akan kita temukan dalam cara makan ala Barat: prasmanan, pakai piring, pakai table manner yang menuntut siapa saja harus tahu mana sendok buat nasi, mana sendok buat sup. Di kanan-kiri piring kita tersedia berbagai jenis sendok dan pisau, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Tragisnya kita tak boleh pinjam sendok orang yang ada di samping kita. Sendiri-sendiri.

Makan sekali lagi adalah cerminan. Cara kita makan dipengaruhi cara kita berkehidupan. Makan yang sendiri-sendiri adalah cerminan gaya hidup individualis yang juga akan membentuk pelakunya sebagai individu-individu yang individualis. Masyarakat kita tidak seperti itu. Ketumpengan masyarakat kita tergambar dalam cara makan kita yang massif, sosial-kolektif. Ada ayam ya ayam bersama… ada tempe ya tempe bersama. Dicubit kecil-kecil biar yang lain kebagian. Cara makan yang juga akan membentuk kita sebagai individu-individu yang keroyokan. Peduli terhadap sesama. Ada masalah yang masalah bersama… dicubit kecil-kecil oleh tiap-tiap orang biar lekas hilang.

Indonesia sebagai negara dunia ketiga masih hangat-hangatnya diserang dari lini ini. Anak muda seperti saya diperkenalkan kepada budaya asing yang identik dengan kemodernan. Budaya asing yang justru meracuni pikiran kita. Indonesia masih sangat seksi dan menggairahkan. Ada gerakan-gerakan kolonialisme halus yang tidak kita sadari sedang bergerak di sekeliling kita. Nusantara kita yang hijau masihlah montok dan sangat sensual. Usaha-usaha mengambil alih masih terus diusahakan dan itu tidak kita rasakan. Usaha yang paling halus dan mematikan adalah usaha-usaha pencucian jiwa masyarakat Nusantara dari tradisinya, dari kebudayaan yang mereka anggap lokal dan irrasional.

Ya, nasi tumpeng adalah senjata pamungkas kebudayaan kita. Selama masih ada nasi tumpeng yakinlah Nusantara aman dari berbagai jenis alien asing yang ingin merusak bangsa tersebut. Tentu nasi tumpeng tidak hidup sendiri. Ia beriringan dengan detak kehidupan masyarakat. Kekuatan nasi tumpeng berada dalam ruang keguyuban hidup kelompok masyarakat. Keguyuban masyarakat juga tergantung sejauh mana mereka tumpengan dan main keroyokan. Semakin guyub kehidupan kita, semakin kuat pula ketumpengan, semakin harum pula nasi tumpeng kita. Begitu juga sebaliknya. Keduanya saling terjalin, saling berkaitan dan menentukan. Dan sudah saatnya kita mesti bangga dan melestarikan ruh ketumpengan tradisi kita.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama

sumber: http://www.nu.or.id/post/read/66958/masyarakat-tumpeng

Sakit Parah, Hidup di Emperan Terminal, Mati pun Keleleran

Potret Orang Miskin di Kota Malang

Sekeras apapun hidup ini, harus diperjuangkan. Seperti yang dilakukan Eni Setiowati (43). Dia rela bekerja keras demi suaminya yang sudah sakit-sakitan. Adalah Rianto (62) warga asal Wadanpuro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, yang sudah cukup lama sakit, dan tidak bisa mendapat layanan kesehatan yang layak. Hingga nafasnya terlepas, Jumat (16/5) sekitar pukul 12.30. Dia ditemukan tewas di emperan toko pemberangkatan mikrolet di kawasan Terminal Arjosari, Kota Malang….

f1-tewas-22

Eni menangis di atas jenazah Rianto (gie)

Dia pertama kali ditemukan oleh Eni Setiowati (43) istri sirinya, sudah dalam kondisi tak bernyawa. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke warga sekitar hingga dilaporkan ke Polsekta Blimbing dan diteruskan ke Polres Malang Kota. Jenazah Rianto sendiri sempat dibawa ke kamar mayat RSSA Malang untuk mendapat visum dokter.

Menirut keterangan Eni, bahwa Rianto sebelumnya bekerja sebagai sopir angkot. “Saya nikah siri sejak 2 tahun lalu. Suami saya ini, kerja sebagai sopir angkot. Namun sejak 2 bulan lalu, dia kena katarak dan sudah tak bisa bekerja lagi,” ujar Eni.

Oleh karena itu, Eni kemudian bekerja untuk mencari nafkah dengan cara mencari rosokan. “Sudah tak kuat bayar kos. Kita tidurnya di emperan-emperan Terminal Arjosari. Suami saya sakit katarak dan sesak nafas,” ujar Eni.

Jumat pagi, Rianto masih terlihat baik-baik saja. “Tadi pagi baik-baik saja. Kita makan berdua. Suami saya juga sudah minum Napasin. Tadi sebelum Jumat, saya pergi untuk menjual rosokan. Uang itu rencananya akan saya kumpulkan untuk bayar kos dan berobat katarak suami saya,” ujar Eni.

Sekitar pukul 13.00, saat Eni kembali ke Terminal Arjosari, dia sudah menjumpai suaminya tak bernyawa.

“Suami saya kondisinya duduk. Sudah tak bernyawa. Saya kemudian berteriak minta tolong ke warga. Sekarang saya sudah gak ada siapa-siapa lagi. Saya ingin dikubur sama suami saya saja,” ujar Eni sambil menangis di kamar mayat RSSA Malang.

Agus Dhemit, koordinator TRC Kota Malang, mengatakan bahwa Rianto ditemukan sudah dalam kondisi tak bernyawa.

“Tadi dia membawa SIM yang masih aktif. Identitasnya bisa lihat dari SIM tersebut. Kabarnya petugas kepolisian sudah ke Wadanpuro untuk menghubungi keluarga korban,” ujar Agus Demit. (gie)

http://www.memoarema.com/sakit-parah-hidup-di-emperan-terminal-mati-pun-keleleran/39598.html

Hukum Memakai Batu Akik

Hukum Memakai Batu Akik

1410273325

Assalamu’alaikum wr. wb. Akhir-akhir ini di kota-kota besar batu akik semakin banyak diminati. Demam batu akik melanda sampai ke kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Saat ini juga bermunculan tempat-tempat baru yang menjual akik. Yang ingin kami tanyakan, apakah Rasulullah saw memakai cincin yang ada batu akik, dan apa jenisnya? bagaimana hukumnya? Atas penjelasan Pak Ustad kami sampaikan banyak terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb (Ahmad/Semarang)

Jawaban

Wa’alaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Memang sepanjang pengamatan kami, akhir-akhir ini demam cincin berbatu akik atau batu mulia lainnya meningkat dengan tajam. Buktinya adalah menjamurnya para padagang batu akik di mana-mana. Mulai harga yang puluhan ribu sampai jutaan. Bahkan kadang harganya lebih tinggi dari emas.

Untuk menanggapi pertanyaan pertama, kami akan mengemukakan sebuah riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa cincin Rasulullah saw itu terbuat dari perak dan batu mata cincinya berasal dari negeri Habasyi.

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَرِقٍ وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا -رواه مسلم

“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah saw itu terbuta dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)

Menurut Imam Nawawi para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan, “mata cincinya itu mata cincin Habasyi” adalah batu yang berasal dari Habasyi. Artinya batu mata cincinya itu dari jenis batu merjan atau akik karena dihasilkan dari pertambangan batu di Habsyi dan Yaman. Pendapat lain mengatakan bahwa batu mata cincinya berwarna seperti warna kulit orang Habasyi, yaitu hitam.

Sedangkan dalam Shahih al-Bukhari terdapat riwayat dari Hamin dari Anas bin Malik yang menyatakan mata cincinya itu terbuat dari perak. Dalam pandangan Ibnu ‘Abd al-Barr ini adalah yang paling sahih.

Dari sinilah kemudian lahir pendapat lain yang mencoba untuk mempertemukan riwayat Imam Muslim dan Imam Bukhari. Menurut pendapat ini, baik riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim maupun Shahih al-Bukhari adalah sama-sama sahihnya. Maka menurut pendapat ini Rasulullah saw pada suatu waktu memakai cincin yang matanya terbuat dari perak, dan pada waktu lain memakai cincin yang matanya dari batu yang berasal dari Habsyi. Bahkan dalam riwayat lain menyatakan bahwa batu mata cincin beliau itu dari batu akik.

وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا ) قَالَ الْعُلَمَاءُ يَعْنِى حَجَرًا حَبَشِيًّا أَىْ فَصًّا مِنْ جَزْعٍ أَوْ عَقِيقٍ فَإِنَّ مَعْدِنَهُمَا بِالْحَبَشَةِ وَالْيَمَنِ وِقِيلَ لَوْنُهُ حَبَشِىٌّ أَىْ أَسْوَدُ وَجَاءَ فِى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ رِوَايَةِ حَمِيدٍ عَنْ أَنَسٍ أَيْضًا فَصُّهُ مِنْهُ قَالَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ هَذَا أَصَحُّ وَقَالَ غَيْرُهُ كِلَاهُمَا صَحِيحٌ وَكَانَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى وَقْتٍ خَاتَمٌ فَصُّهُ مِنْهُ وَفِى وَقْتٍ خَاتَمٌ فَصُّهُ حَبَشِىٌّ وَفِى حَدِيثٍ آخَرَ فَصُّهُ مِنْ عَقِيقٍ

“(Dan mata cincinnya itu mata cincin Habasyi). Para ulama berkata maksudnya adalah batu Habasyi yaitu batu mata cincin dari jenis batu merjan atau akik. Karena keduanya dihasilkan dari penambangan batu yang ada Habsyi dan Yaman. Dan dikatakan (dalam pendapat lain) warnanya itu seperti kulit orang Habasyi yaitu hitam. Begitu juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari riwayat dari Hamid dan Anas bin Malik yang menyatakan bahwa mata cincinya itu dari perak. Menurut Ibnu Abd al-Barr ini adalah yang paling sahih. Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa keduanya adalah sahih, dan Rasulullah saw pada suatu kesempatan memakai cincin yang matanya dari perak dan pada waktu lain memakain cincin yang matanya dari batu Habasyi. Sedang dalam riwayat lain dari akik.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Bairut-Dar Ihya` at-Turats al-‘Arabi, cet ke-2, 1392 H, juz, 14, h. 71)

Namun terdapat keterangan lain yang menyatakan bahwa apa yang dimaksudkan, “mata cincinya itu mata cincin Habasyi” adalah salah satu jenis batu zamrud yang terdapat di Habasyi yang berwarna hijau, dan berkhasiat menjernihakan mata dan menjelaskan pandangan”

وَفِي الْمُفْرَدَاتِ نَوْعٌ مِنْ زَبَرْجَدَ بِبِلَادِ الْحَبْشِ لَوْنُهُ إِلَى الْخَضْرَةِ يُنَقِّي الْعَيْنَ وَيَجْلُو الْبَصَرَ

“Dan di dalam kitab al-Mufradat, (batu cincin yang berasal dari Habasyi) adalah salah satu jenis zamrud yang terdapat di Habasyi, warnanya hijau, bisa menjernihkan mata dan menerangkan pandangan” (Lihat Abdurrauf al-Munawi, Faidlul-Qadir, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1451 H/1994 M, juz, 5, h. 216)

Lantas bagaimana hukum memakainya? Menurut Imam Syafi’i hukum memakai batu mulia atau batu akik seperti batu yaqut, zamrud dan lainnya adalah mubah sepanjang tidak untuk berlebih-lebihan dan menyombongkan diri.

قَالَ الشَّافِعِيُّ- وَلَا أَكْرَهُ لِلرِّجَالِ لُبْسَ اللُّؤْلُؤِ إلَّا لِلْأَدَبِ وَأَنَّهُ مِنْ زِيِّ النِّسَاءِ لَا لِلتَّحْرِيمِ وَلَا أَكْرَهُ لُبْسَ يَاقُوتٍ أَوْ زَبَرْجَدٍ إِلَّا مِنْ جِهَةِ السَّرَفِ وَالْخُيَلَاءِ

“Imam Syafii berkata dalam kitab al-Umm, saya tidak memakruhan laki-laki memakai mutiara kecuali karena terkait dengan etika dan mutiara itu termasuk dari aksesoris perempuan, bukan karena haram. Dan saya tidak memakrukan (laki-laki, pent) memakai yaqut atau zamrud kecuali jika berlebihan dan untuk menyombongkan (diri)”. (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 221)

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Dan saran kami jangan pernah memakai batu cincin karena berniat menyombongkan diri dan takabbur. Bahkan bukan hanya batu cincin, tetapi semua yang kita kenakan juga. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,59-id,54363-lang,id-c,bahtsul+masail-t,Hukum+Memakai+Batu+Akik-.phpx

Asal-Usul Gelar “Haji” di Indonesia

Jakarta, NU Online
Gelar “haji” tergolong cukup unik. Hanya di Indonesia saja kita menemukan fakta pemberian gelar semacam itu. Mengenai hal ini, arkeolog Islam Nusantara, Agus Sunyoto, menyatakan hal tersebut mulai muncul sejak tahun 1916.

“Kenapa dulu tidak ada Haji Diponegoro, Kiai Haji Mojo, padahal mereka sudah haji? Dulu kiai-kiai enggak ada gelar haji, wong itu ibadah kok. Sejarahnya (gelar “haji”, red) dimulai dari perlawanan umat Islam terhadap kolonial. Setiap ada pemberontakan selalu dipelopori guru thariqah, haji, ulama dari Pesantren, sudah, tiga itu yang jadi ‘biang kerok’ pemberontakan kompeni, sampai membuat kompeni kewalahan,” beber Agus Sunyoto di Pesantren Ats-tsaqafah, Ciganjur, Jakarta. Jumat (24/9)

Penulis buku “Atlas Wali Songo” itu menambahkan, para kolonialis sampai kebingungan karena setiap ada warga pribumi pulang dari tanah suci Mekkah selalu terjadi pemberontakan. “Tidak ada pemberontakan yang tidak melibatkan haji, terutama kiai haji dari pesantren-pesantren itu,” tegasnya

Untuk memudahkan pengawasan, lanjut Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) itu, pada tahun 1916 penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar “haji”.

“Untuk apa (ordonansi haji, red)? Supaya gampang mengawasi, intelijen, sejak 1916 itulah setiap orang Indonesia yang pulang dari luar negeri diberi gelar haji,” ujar Agus.

Menurut Dosen STAINU Jakarta itu, adapun sebutan atau panggilan “Ya Haj” yang ada di Timur Tengah hanya bersifat verbal atau ucapan penghormatan saja, karena pemerintahan di sana tidak mengeluarkan sertifikat haji. (Aiz Luthfi/Mahbib)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,54744-lang,id-c,nasional-t,Asal+Usul+Gelar+%E2%80%9CHaji%E2%80%9D+di+Indonesia-.phpx

Habib Syech, di antara Shalawat dan Indonesia Raya

Habib Syech, di antara Shalawat dan Indonesia Raya

1357437792

Tubuhnya terbilang gemuk, wajahnya bulat, mata dan hidungnya khas tanah Arab, kopyah putih bulat tak lepas dari kepalanya. Namun tatapan mata dan gaya bicaranya medok Jawa bagian Solo: santun dan bersahabat. Itulah Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf.

Dialah Shohibu Majelis Ta’lim Dzikir dan Shalawat Ahbaabul Musthofa, di Solo. Pengajiannya selalu penuh di manapun berada. Di lapangan bola, penuh selapangan bola. Di aula kampus atau pesantren, membludak seaula kampus atau pesantren. Ribuan orang dinamis mengikuti shalawatannya dan khidmat mendengarkan taushiyahnya.

Minggu lalu Habib Syech menerima kontributor NU Online, Khoirudin dan Faiz, diterima dikediamannya di Solo, selama 1,5 jam. Ditemani teh dan kudapan, kami berbincang hangat. Di tengah berbincangan, sesekali ia menabuh genjring dan bershalawat.

Bib, bisa diceritakan latar belakang Majelis Ta’lim Dzikir dan Shalawat Ahbaabul Musthofa?

Kita melihat perpecahbelahan antarumat. Didirikannya Ahbaabul Mushtofa ingin mempersatukan umat dengan shalawat. Kita bershalawat untuk menjalankan apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an maupun hadist. Keutamaan Shalawat yaitu untuk penyejuk dan ketentraman hati.

Siapa jama’ah yang menghadiri dalam majelis Ahbaabul Musthofa?

Ahbaabul Musthofa tidak punya jama’ah khusus. Kami hanya sebagai wadah. Jama’ahnya adalah semua umat Islam yang senang shalawat. Ahbaabul Musthofa hanya wadah untuk mengumpulkan Ahlusunnah wal Jamaah. Yang hadir dari berbagai jamaah, seperti Alhidayah, Jamuro, dan dari semua elemen masyarakat. Biasanya yang hadir minimal sepuluh ribuan orang di setiap acara. Kalau rutinan pengajian di rumah ini setiap malam kamis yang hadir 2.000-5.000 orang.

Apa sih makna Shalawat bagi Umat Islam?

Tadinya di setiap acara saya tidak bershalawat. Saya ceramah tanpa shalawat tapi setelah saya lihat hasilnya kurang. Lalu kita mengubah cara dengan mengawali dulu dengan shalawat, baru ceramah, nasehat dan pelajaran ilmu. Itu karena manusia yang hadir mempunyai pikiran yang berlainan, pikirannya macem-macem. Setelah mereka datang di suatu tempat kita masuki dengan shalawat, dengan dzikrullah wa dikrurosulih.

Setelah pikiran mereka dingin baru kita nasehati. Ahbaabul Musthofa memakai wadah shalawat karena shalawat adalah penyejuk. Nabi Muhammad, manusia yang kita bacakan shalawat kepada Allah adalah manusia sebagai contoh tauladan bagi umat.

Bagaimana kita menyikapi orang yang tidak menyukai sholawat?

Saya yakin semua orang suka shalawat. Jadi ketika ada orang yang tidak suka shalawat itu cuma karena dia tidak punya tempat di masyarakat. Akhirnya dia membuat ulah yang baru, akhirnya dia mendapat tempat. Kalau orang tidak suka shalawat, benci shalawat, berarti dia bukan umat Nabi Muhammad SAW. Itu sama saja ia tidak menjalankan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad.

Apa tantangan umat Islam saat ini?

Umat Islam kita harap bersatu. Jangan mempermasalahkan masalah furu’iyyah (cabang, red.). Islam kita mulai dihancurkan oleh orang-orang non muslim dengan merusak akhlaq dan moral bangsa ini. Lalu kenapa kita masih ribut masalah tahlil dan bukan tahlil, qunut dan tidak qunut?

Ayo kita bersatu bagaimana kita kuatkan Islam ini dengan satu sama lain dengan mempelajari apa yang telah disampaikan orang-orang tua kita. Buka lagi Al-Qur’an, buka lagi sunah Rasul. Punya pendapat beda silakan saja, tetapi kita tidak saling menyalahkan tentang masalah-masalah furu’iyyah. Jangan kita merasa diri kita lebih baik daripada yang lain. Jangan merasa kita lebih benar. Jangan merasa kita paling dekat dengan surga. Bangsa kita perlu disatukan dan jangan pula kita dipecah belah oleh partai. Partai dan organisasi itu hanya satu wadah. Tetapi kebersamaan ini yang kita butuhkan. Jangan kita lebih mementingkan partai atau organisasi itu daripada Islamnya.

Menurut Habib, dakwah yang baik itu seperti apa?

Sistem dakwah romo kiai dan Walisongo menurut saya paling mudah dan baik, apalagi di Jawa Tengah. Dengan seni kita masuk. Shalawat kita kemas dengan kesenian. Dengan cara itu lebih mengena ke masyarakat. Istilahnya dadio banyu ning ojo kintir. Di mana tempat kita mesti masuk. Dengan orang tua kita harus menghormati. Dengan yang muda kita harus sayangi. Ada orang maksiat jangan kita caci. Sama orang taat harus kita ikuti.

Bagaimana cara agar dakwah itu berhasil?

Pertama kita harus ikhlas. Kedua, tahu karakter masyarakat yang diajak bicara. Ketiga, dakwah dengan ucapan, dengan tingkah laku, dengan harta. Terus jangan menghilangkan kesenian di masyarakat semenjak itu tidak menyebabkan lupa kepada Allah dan Rosulnya. Dakwah dengan sholawat menurut saya dapat berhasil. Sekarang hampir seluruh Indonesia bersholawat. Belum tentu orang yang bershalawat itu baik tetapi kita mengarahkan mereka dan diri kita sendiri untuk menjadi baik. Saya punya cita-cita Indonesia bershalawat. Seluruh bumi pertiwi penuh dengan orang bersholawat.

Di akhir majlis Habib membawakan lagu Indonesia Raya, apa tujuannya?

Di akhir majlis kadang saya membawakan Indonesia Raya untuk membangkitkan umat ini agar kenal kepada bangsanya, kepada negaranya. Banyak orang yang tidak hafal Indonesia Raya. Saya ingin membangkitkan ghiroh kepada bangsa dan supaya masyarkat dan pemerintah tahu bahwa setiap ulama di negeri ini selalu berdampingan dengan pemerintah yang benar.

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,41619-lang,id-c,halaqoh-t,Habib+Syech++di+antara+Shalawat+dan+Indonesia+Raya-.phpx

Melirik Gaya Pengentasan Kemiskinan Ala Kiai Pesantren

Melirik Gaya Pengentasan Kemiskinan Ala Kiai Pesantren

Mustasyar PBNU KH Dimyati Rais, sekaligus pengasuh pesantren Al Fadhlu wal Fadhilah Kampung Jagalan, Desa Kutoharjo, Kaliwungu, Kendal merupakan sosok ulama sekaligus pengusaha yang mengajarkan para santri dan penduduk sekitar tidak hanya materi-materi keagamaan. Ia membekali para santri dengan ketrampilan yang berguna ketika sudah keluar dari pesantren. Para penduduk juga diajarkan bagaimana menjalankan usahanya dengan lebih baik. Atas usahanya tersebut, ia menjadi salah seorang tokoh berpengaruh di lingkungan sekitarnya.

Berikut wawancara Mukafi Niam dengan Kiai kharismatik tersebut disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks Unsiq Wonosobo, beberapa waktu lalu tentang bagaimana metode pengentasan kemiskinan ala pesantren.

Bagaimana pola pengembangan ekonomi berbasis pesantren?

Saya ini pengusaha pertambakan, tapi masih menggunakan pendekatan konvensional atau alamiah, belum sampai pada memakai model yang canggih dan intensif, tapi sensitif, kalau mati, ya mati semuanya. Saya memelihara bandeng dan udang, alhamdulillah berhasil.

Sampai berapa hektar yang dikelola?

Kurang lebih ada 15 hektar

Melibatkan santri atau ada tenaga kerja khusus?

Ada anak santri yang tidak nyangu (membawa bekal) dari rumah yang bekerja. Jadi yang ngarap pertanian santri, pertambakan juga santri, semuanya dikerjakan setelah pelajaran sekolah. Jadi makan semuanya dari sini, sekolahnya juga tidak membayar, semuanya gratis.

Ada berapa banyak santri yang dilibatkan?

Tidak pasti, ada anak yang ditempatkan di dapur, di pertanian atau di tambak.

Sekaligus melatih mereka berusaha?

Ya, saya dalam membangun gedung juga tidak memakai tukang. Maka anak santri yang keluaran dari situ, kadang pulang ke rumah ada yang jadi tukang, sambil mengajar masyarakat. Jadi karena yang mengerjakan anak santri, biayanya tidak terlalu berat.

Kalau ada tamu yang datang, saya tunjukkan, gedung-gedung pesantren sampai berlantai tiga yang membangun santri banyak yang heran. Ada sejumlah alumni santri yang bekerja di kontraktor-kontraktor besar di Jakarta, lama-lama mereka ahli dan membantu ketika kami membutuhkan keahliannya.

Kalau untuk upaya pengentasan kemiskinan bagaimana?

Upaya pengentasan kemiskinan tentu dilakukan sesuai dengan cara dan kapasitas yang kami miliki.

Satu contoh, pernah ada orang yang kurang mampu, ia datang ke tempat saya, bila

“Kiai bagaimana saya, disamping ekonomi lemah, anaknya banyak dan tidak memiliki harta benda.”

Terus saya tanya, “sampean punya duit berapa.”

Orang tersebut menjawab “10 ribu.”

“Gini saja coba, belikan ayam. Waktu itu ayam 500 rupiah.”

Akhirnya datang ke saya membawa 20 ayam.

Ayam itu dibawa ke rumah saya, terus saya bilangan, bukan dibawa ke saya, tapi dibawa ke rumah sampean.

“Ayam ini sampean sembelih sendiri, dengan tangan sampean sendiri bersama istri.”

“Lalu, bagaimana selanjutnya,” tanya orang tersebut.

Saya bilang, “nanti jam 12 malam, saudara datang ke saya, nanti saya bisiki.”

Jam 3 malam mereka selesai memotong ayam, setelah itu, datang lagi, “gimana kiai.”

“Ini dipotongi yang baik,”

Pekerjaan tersebut dilakukan sampai subuh. Jam tujuh kemudian datang lagi, “Lalu untuk apa.”

Saya bilang, “ini ada timbangan, saya pinjami dulu, coba dijual ke pasar, kira-kira dapat berapa.”

Akhirnya jam 11 siang sudah pulang, dapat uang 16 ribu. “Kira-kira 3 ribu cukup untuk makan ngak.”

“Cukup.”

“Itu yang 13 ribu dibelikan ayam lagi.”

Atas usahanya tersebut, akhirnya, alhamdulillah, saat ini setiap hari, orang tersebut bisa menghabiskan ayam dua kuintal, ini kan juga upaya pengentasan kemiskinan.

Ada contoh lain, orang datang dan bilang, “kiai saya punya warung makan, tapi habisnya paling-paling tiga kilo sate dengan gule, bagaimana supaya warungnya bisa berkembang dengan baik.”

Nah, saya waktu itu saya akan ke Brebes, “Mau ikut ngak.”

Dia lalu ikut, saya ajak ke warung yang jual sate dan gule paling enak, setelah makan gule dan sate saya tanya.

“Gule dan sate anda lebih enak mana daripada yang ini. Kira-kira saudara ngerti ngak. Kalau enak disini, gimana menirunya.”

“Asal sesuai dengan seleraanda, kan biasanya rame.”

Sekarang jualan satenya Alhamdulillah, berhasil. Ini juga pengentasan kemiskinan.

Saya juga menanam semangka, saya beritahu masyarakat bagaimana caranya, dapatnya berapa. Para petani akhirnya banyak yang meniru.

Saya juga belum sampai yang seperti industri, biayanya kan besar. Ini upaya pengentasan kemiskinan sesuai dengan kondisi masing-masing, pada prinsipnya bisa.

Di Kaliwungi, saya juga mengawali penanaman brambang (bawang merah), sekarang sudah banyak yang mengikuti.

Masyarakat pedesaan harus dikasih tahu dulu?

Ya memang betul itu, malah kadang bukan hanya masalah penanamannya, kadang rabuknya (pupuknya) juga berganti-ganti, sesuai dengan kondisi dan tanah masing-masing.

Kok bisa dapat inspirasi menanam semangka atau brambang?

Saya kan petani, keluarga saya petani. Sebelum di Kaliwungu saya tinggal di Brebes. Cuma, yang namanya pengobatan atau pupuk, harus sesuai dengan tanahnya masing-masing. Di Kaliwungu berbeda dengan Brebes. Di Kaliwungu, lebih ngirit pengobatannya. Tapi pada prinsipnya, pengentasan kemiskinan. Pesantren harus terlibat dalam pengentasan kemiskinan, tidak hanya mengajarkan materi keagamaan.

Saya juga ajarkan istighotsah, mengajarkan masyarakat berdzikir. Sekarang banyak musibah, di Amerika ada tornado, Jepang ada tsunami, di Indonesia ada Lapindo, yang sekarang sulit diatasi, ada gempa. Dan untuk mengatasi ini, saya kira teknologi dan ilmiah saja tidak cukup. Dalam satu hadist ada yang mengatakan, tidak ada persoalan yang bisa mengatasi marahnya Allah, kecuali doa. Maka dari itu, saya berdoa dan bedzikir kepada Allah, moga-moga tidak ada tsunami dan gempa, atau masalah lain.

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,48070-lang,id-c,halaqoh-t,Melirik+Gaya+Pengentasan+Kemiskinan+Ala+Kiai+Pesantren-.phpx

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

Semarang, NU Online
Warga masyarakat RW 6 kelurahan Banjardowo, Genuk, Semarang mengelar pengajian dan ritual Nyadran yang sudah menjadi tradisi warga setempat khusunya daerah Tanggulangin Banjardowo. Pengajian dan Nyadran ini berlangsung di area makam Ibrahim Fatah di Tanggulangin, Kamis (29/5) malam.

Menurut Ketua RW 6 Suparjo, kegiatan Nyadran dan pengajian di makam Wali Ibrahim Fatah merupakan progam yang diselenggaakan setiap tahunnya. Dalam setahun ada dua kegiatan besar, haul Ibrahim Fatah yang jatuh setiap bulan Syuro dan ritual Nyadran.

“Pada bulan Rajab ini, ritual itu dimaksudkan untuk mendoakan para arwah wali. Untuk paginya, ritual nyadran diperingati dengan pemotongan kambing dan makan bersama warga,” lanjutnya.

Pengajian ini menghadirkan KH Abdullah Badada dari Semarang sebagai penyampai taushiyah. Kata Kiai Abdullah, “Ada empat bulan utama. Salah satunya bulan Rajab yang mesti dimuliakan dengan banyak belajar sebab sekarang ini banyak akidah tersasar.”

Guru ngaji, sambung Kiai Abdullah, tidak bisa dilihat sekadar dari penampilan fisiknya seperti jenggot dan sorban. Tetapi lebih kepada keluasan ilmu. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,52349-lang,id-c,daerah-t,Doakan+Arwah+Wali++Warga+Tanggulangin+Gelar+Tradisi+Nyadran-.phpx

Kitab “Al-Muqtathofat” Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi

Kitab “Al-Muqtathofat” Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi

Tradisi tahlilan, ziarah kubur, istighotsah, dibaan atau maulidan dan sejenisnya sudah mendarah daging di tengah masyarakat. Namun ketika ditanya mengenai dalil, sebagian masyarakat awam tidak tahu, dan itu dijadikan senjata kaum Salafi Wahabi untuk mengkafir-kafirkan banyak orang.

Adalah Kitab “al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat” yang ditulis oleh KH Marzuki Mustamar, Ketua PCNU Kota Malang memberikan pedoman bagi masyarakat jika suatu ketika ada pihak-pihak yang tidak suka dengan tradisi itu.

Semestinya tidak perlu menanggapi mereka yang tidak suka dengan tradisi. Namun ketika mereka mempertanyakan, menyerang, apalagi sampai mengkafirkan, maka kita juga perlu menyiapkan jawaban.

“Al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat” atau “catatan untuk para pemula” tidak lain untuk menyelamatkan masyarakat yang kerap mendapat tudingan sesat, sekaligus menyadarkan pihak-pihak tertentu agar tidak mudah mengkafirkan orang lain.

Semua tradisi keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat itu ada dasaranya, “Semua itu ada dalam kitab yang berlandasakan Ahlussunnah wal jamaah,” kata Kiai Marzuki di Masjid Mujahidin, Jalan Ikan Hiu, Lowokwaru, Malang, Selasa (30/5).

Kitab tersebut dikaji secara rutin di beberapa Masjid di Kota Malang, tepatnya setiap Selasa pukul 19.00 ba’da shalat Isyak. Tidak hanya di satu tempat, jadwal rutin tersebut berjalan di seluruh Masjid Malang secara bergilir.

Hadirnya kitab ini diharapkan memberikan informasi mengenai keabsahan tradisi ubudiyah masyarakat secara syar’i. Dengan kata lain, buku ini memupuk kepercayaan masyarakat Muslim Indoensia secara umum, khususnya bagi kalangan nahdyiyin, bahwa tradisi ritual ubudiyyah seperti tahlilan, haul, upacara selatan kelahiran, ritual empat dan tujuh bulan kandungan, peringatan Maulid Nadi, qunut dan shalat, dan yang lainnya, tidak melenceng dari aqidah dan termasuk bagian dari sunnah Nabi Rasulullah SAW.

“Semua itu ada dasarnya, tidak asal caplok,” seru pengasuh Pondok Pesantren Sabulur Rosyad, Malang itu sembari memaparkan dalil-dalil yang sudah ditulis dalam kitab karangannya.

Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor: Diana Manzila

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,44144-lang,id-c,nasional-t,Kitab++Al+Muqtathofat++Bisa+Jadi+Senjata+Atasi+Wahabi-.phpx

Dzikiran kok Bid’ah

Ada salah satu sekte menyebar di masyarakat kita, mereka menamakan diri “salafi”, padahal sebenarnya nama yang cocok bagi mereka adalah “talafi” (perusak). Jargon yang biasa mereka bawa adalah “basmi TBC”, “perangi segala macam bid’ah”, “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dan kata-kata “manis” lainnya. Salah satu yang sering dapat serangan dari mereka adalah masalah yang sebenarnya “bukan masalah”, tapi mereka ungkit-ungkit untuk membuat keributan. ngaku memerangi “TBC” tapi sebenarnya mereka sendiri membawa “TBC”. Waspada!!!!!!

Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah dan merupakan jalan untuk mendapatkan pahala dari Allah, jika memang tidak dibarengi dengan perkara-perkara yang diharamkan. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan tentang ini sangat banyak, di antaranya: (Lihat an-Nawawi, Riyadl ash-Shalihin, hal. 470-473)

1. Rasulullah bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan bardzikir menyebut Nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. Muslim)

2. al-Imam Muslim dan al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكُمْ ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِكُمْ الْمَلاَئِكَةَ (أخرجه مسلم والترمذيّ)

“Suatu ketika Rasulullah keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku didatangi oleh Jibril dan ia memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para Malaikat”. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

3. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ تَعَالَى إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ (أخرجه الطّبَرانِيّ)

“Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir, dan mereka tidak berharap dengan itu kecuali untuk mendapat ridla Allah maka Malaikat menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan sudah terampuni dosa-dosa kalian”. (HR. ath-Thabarani)

Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum, di antaranya adalah hadits Qudsi: Rasulullah bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (متّفق عليه)

“Allah berfirman: “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku”, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberikan taufiq serta pertolongan terhadapnya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebutku dengan lirih maka Aku akan memberinya pahala dan rahmat secara sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Makna “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku” artinya; Jika hamba tersebut berharap untuk diampuni maka akan Aku (Allah) ampuni dosanya. Jika ia mengira taubatnya akan Aku terima maka Aku akan menerima taubatnya. Jika ia berharap akan Aku kabulkan doanya maka akan Aku kabulkan. Dan jika ia mengira Aku mencukupi kebutuhannya maka akan Aku cukupi kebutuhan yang dimintanya. Penjelasan ini seperti tuturkan oleh al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki.

Dzikir Berjama’ah Setelah Shalat Dengan Suara Keras

Para ulama telah sepakat akan kesunnahan berdzikir setelah shalat (Lihat an-Nawawi dalam al-Adzkar, h. 70). Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya: “Ayyuddu’a Asma’u?”. (Apakah doa yang paling mungkin dikabulkan?). Rasulullah menjawab:

جَوْفُ اللَّيْلِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ، قال الترمذيّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ
“Doa di tengah malam, dan seusai shalat fardlu”. (at-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini Hasan)

Dalil-dalil berikut ini menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjama’ah setelah shalat secara khusus. Di antaranya hadits dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, bahwa ia berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه البخاريّ ومسلم)
“Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits riwayat al-Imam Muslim disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه مسلم)
“Kami mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)” (HR. Muslim)

Kemudian ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ (رواه البخاريّ ومسلم)
“Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang-orang telah selesai shalat fardlu sudah terjadi pada zaman Rasulullah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat lain, juga diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim, bahwa Ibn ‘Abbas berkata:

كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاريّ ومسلم)

“Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat dengan mendengar suara berdzikir yang keras itu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits-hadits ini adalah dalil akan kebolehan berdzikir dengan suara keras, tentunya tanpa berlebih-lebihan dalam mengeraskannya. Karena mengangkat suara dengan keras yang berlebih-lebihan dilarang oleh Rasulullah dalam hadits yang lain. Dalam hadits riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari bahwa ketika para sahabat sampai dari perjalanan mereka di lembah Khaibar, mereka membaca tahlil dan takbir dengan suara yang sangat keras. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka:

اِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا …
“Ringankanlah atas diri kalian (jangan memaksakan diri mengeraskan suara secara berlebihan), sesungguhnya kalian tidak meminta kepada Dzat yang tidak mendengar dan tidak kepada yang ghaib, kalian meminta kepada yang maha mendengar dan maha “dekat” …”. (HR. al-Bukhari)

Hadits ini bukan melarang berdzikir dengan suara yang keras. Tetapi yang dilarang adalah dengan suara yang sangat keras dan berlebih-lebihan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa boleh berdzikir dengan berjama’ah, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat tersebut. Yang dilaraang oleh Rasulullah dalam hadits ini bukan berdzikir secara berjama’ah, melainkan mengeraskan suara secara berlebih-lebihan.

Doa Berjama’ah

Rasulullah bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فَدَعَا بَعْضٌ وَأَمَّنَ الآخَرُوْنَ إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لَهُمْ (رواه الحاكم في المستدرك من حديث مسلمة بن حبيب الفهري)
“Tidaklah suatu kaum berkumpul, lalu sebagian berdoa dan yang lain mengamini, kecuali doa tersebut akan dikabulkan oleh Allah”. (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak dari sahabat Maslamah ibn Habib al-Fihri).

Hadits ini menunjukkan kebolehan berdoa dengan berjama’ah. Artinya, salah seorang berdoa, dan yang lainnya mengamini. Termasuk dalam praktek ini yang sering dilakukan oleh banyak orang setelah shalat lima waktu, imam shalat berdoa dan jama’ah mengamini.

Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Minhaj al-Qawim Syarh al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, menuliskan sebagai berikut:

[وَيُسِرُّ بِهِ] الْمُنْفَرِدُ وَالْمَأْمُوْمُ خِلاَفًا لِمَا يُوْهِمُهُ كَلاَمُ الرَّوْضَةِ (إِلاَّ الإِمَامُ الْمُرِيْدُ تَعْلِيْمَ الْحَاضِرِيْنَ فَيَجْهَرُ إِلَى أَنْ يَتَعَلَّمُوْا) وَعَلَيْهِ حُمِلَتْ أَحَادِيْثُ الْجَهْرِ بِذَلِكَ، لَكِنْ اسْتَبْعَدَهُ الأَذْرَعِيُّ وَاخْتَارَ نَدْبَ رَفْعِ الْجَمَاعَةِ أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ دَائِمًا

“Orang yang shalat sendirian dan seorang makmum agar memelankan bacaan dzikir dan doa seusai shalatnya, -ini berbeda dengan yang dipahami dari tulisan ar-Raudlah-, kecuali seorang Imam yang bermaksud mengajari para jama’ah tentang lafazh-lafazh dzikir dan doa tersebut, maka ia boleh mengeraskannya hingga jama’ah mengetahui dan hafal dzikir dan doa tersebut. Dengan makna inilah dipahami hadits-hadits mengeraskan bacaan dzikir dan doa setelah shalat. Namun al-Imam al-Adzra’i tidak menerima pemahaman seperti ini dan beliau memilih pendapat bahwa sunnah bagi para jama’ah hendaknya selalu mengeraskan suara mereka dalam membaca dzikir (Sesuai zhahir hadits-hadits di atas)” (al-Minhaj al-Qawim, h. 163).

Sumber: dari catatan di FB Rivqi Faletehan

http://buntetpesantren.org/index.php?option=com_content&view=article&id=1333:dzikiran-kok-bidah&catid=23:tanya-jawab&Itemid=318

KETUPAT LEBARAN

Ketupat Lebaran juga merupakan tradisi yang unik dan khas Indonesia. Tradisi ketupat lebaran sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun tidak diketahui mulai semenjak kapan tradisi kupatan ini menjadi tradisi lebaran di Indonesia, namun sudah merupakan tradisi yang given dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan menyelenggarakan acara kupatan lebaran sebagai penanda berakhirnya puasa dan memasuki kehidupan baru berikutnya.

Sama dengan tradisi-tradisi Islam Nusantara lainnya, kupatan juga merupakan tradisi yang sudah institutionalized di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan di dalam dunia wisata kuliner juga sering disebutkan hidangan ketupat dengan opor ayam, hidangan ketupat dengan tahu dan telor ayam, dan jenis makanan lainnya yang dihubungkan dengan ketupat. Semua ini menandai bahwa ketupat sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Tradisi ketupat lebaran kiranya dapat dikaitkan dengan peran para wali, terutama walisongo dalam penyebaran Islam di Indonesia. Saya menduga bahwa tradisi kupatan juga sudah ada pada zaman pra-Islam Nusantara, sebagaimana tradisi selamatan yang juga sudah ada dan berkembang di Indonesia. Namun tradisi kupatan kemudian memperoleh sentuhan baru di zaman penyebaran Islam oleh Walisongo di dalam kerangka untuk menghadirkan tradisi yang akomodatif atau akulturatif di dalam masyarakat Jawa dan Nusantara pada umumnya.

Dari sisi bahasa, kupatan (bahasa Jawa) kiranya berasal dari kata Kaffatan (Bahasa Arab) yang memperoleh perubahan bunyi dalam ucapan Jawa menjadi kupatan. Sama dengan kata barakah (bahasa Arab) menjadi berkat (bahasa Jawa) atau wudlu (bahasa Arab) menjadi ulu atau udlu (bahasa Jawa) dan salama (bahasa Arab) menjadi selamet (bahasa Jawa). Jika memang demikian, maka secara istilahi dapat dinyatakan bahwa kupatan adalah simbolisasi dari berakhirnya bulan puasa dan menandai terhadap kesempurnaan atau kaffatan di dalam kehidupan individu dan masyarakat. Jadi tradisi kupatan sebagai penanda terhadap keislaman manusia yang sudah sempurna. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an disebutkan: “udkhulu fi al silmi kaffatan, wa la tattabi’u khuthuwat al syaithon, innahu lakum ‘aduww al mubin”. Yang artinya kurang lebih “masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara sempurna dan jangan kamu ikuti jalannya syetan, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata”.

Dalam gambaran para waliyullah itu, bahwa kupatan adalah simbolisasi seseorang yang sudah memasuki Islam secara sempurna. Indikasinya sudah melaksanakan puasa sebagai tazkiyat al nafs, melaknsakan zakat sebagai tazkiyat al mal dan juga hablum min al nas dalam wujud saling silaturrahmi untuk meminta maaf kepada sesama manusia. Orang yang seperti ini maka digambarkan sebagai orang yang kaffah, sempurna. Kehidupannya telah memasuki dunia fitrah, suci dalam konsepsi keberagamaan.

Indonesia adalah negara yang masyarakatnya memiliki kekhasan tradisi dan bisa saja tradisi tersebut sangat berbeda dengan tradisi di negara asal Islam. Arab Saudi atau dunia Timur Tengah tidak memiliki tradisi ini. Dan tentunya tradisi seperti ini juga tidak bisa disebut sebagai bid’ah atau tambahan-tambahan dalam beribadah. Tradisi kupatan adalah tradisi atau kebudayaan lokal yang memiliki keterkaitan dengan agama (Islam). Dengan demikian, kupatan tidak bisa dihukumi sebagai ”penyimpangan” dari tradisi besar Islam (great tradition) yang berasal dari Timur Tengah. Bahkan kalau menggunakan konsepsi saya dalam ”Islam Pesisir” disebut sebagai tradisi Islam kolaboratif, yaitu tradisi yang muncul sebagai akibat adanya dialog panjang antar berbagai penggolongan sosial dalam memandang terhadap tradisi Islam lokal.

Tradisi kupatan di dalam masyarakat Nusantara sekaligus juga menjadi bukti bahwa menjadi Islam tidak berarti membabat habis seluruh tradisi yang selama ini sudah ada, akan tetapi mengisinya dengan substansi Islam sehingga nuansa Islam yang saling menyapa dengan tradisi lokal adalah suatu keniscayaan. Melalui proses seperti inilah maka Islam dapat diterima dengan cara damai, sehingga Islam menjadi agama mayoritas bagi masyarakat Indonesia dan bahkan Islam terbesar di dunia.

Wallahu a’lam bi al shawab.

http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=350

Previous Older Entries