Gus Mus: Penting untuk Selalu Membaca Pergantian Zaman

Gus Mus: Penting untuk Selalu Membaca Pergantian Zaman

1420084107

Pada momentum pergantian dari tahun 2014 ke tahun 2015 ini, penting bagi kita untuk selalu melakukan muhasabah atau evaluasi diri, agar dapat memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan, sekaligus meningkatkan diri agar menjadi yang lebih baik di tahun mendatang.

Petikan wawancara wartawan dari NU Online Ajie Najmuddin dengan Rais Aam PBNU DR KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) di sela kunjungannya ke Sukoharjo belum lama ini, kiranya dapat membuat kita lebih dapat memaknai arti pergantian tahun, juga lebih arif dalam mengikuti perubahan zaman.

Saya membaca tulisan dari Pak Kiai, tentang perubahan zaman. Bagaimana sesungguhnya menurut Kiai pergantian tahun, perubahan zaman ataupun perubahan waktu?

Yang paling penting, pergantian tahun itu perlu kita maknai sebagai momentum untuk mengevaluasi diri kita, bukan mengevaluasi orang lain, pada tahun yang lalu untuk tahun yang baru.

Kalau kita bicara secara sosial, kita juga mesti evaluasi perilaku sosial kita bagaimana? Apa sudah sempurna apa belum. Kalau kita ketahui kekurangannya, bisa kita perbaiki.

Penting juga untuk muhasabah diri, apa saja perilaku kita. Kadang kita ini sibuk, tapi tidak jelas kesibukan kita. Kita ini sibuk apa? Yang kita cari itu apa? Apa yang sudah kita dapat? Kita mendapatkan apa dan seterusnya.

Nah, pertanyaan-pertanyaan muhasabah diri ini penting sekali kalau orang ingin meningkat, kecuali kalau ia cuek, pergantian tahun biar berganti, maka kita akan ditinggalkan oleh zaman itu sendiri. Ketika kita masih tetap seperti kemarin, sedangkan zaman semakin maju.

Apa yang penting bagi kita semua, agar tidak tertinggal zaman?

Ya, itu tadi. Kita ikuti zaman dengan muhasabah. Setiap pergantian zaman atau pergantian tahun, untuk perbaikan yang akan datang. Zaman seperti apapun kalau kita perhatikan lingkungan kita dan perubahan zaman, kita tidak akan ketinggalan.

Zaman itu kan waktu. Alwaqtu kas saif, alwaqtu dzahaba pergi tidak bisa kembali, alwaqtu dzahabun waktu itu emas. Tinggal kita bagaimana menyikapi waktu itu. Kalau kita gunakan semstinya, maka waktu itu emas. Kalau kita biarkan begitu saja, maka akan mandek terus, padahal zaman itu membawa perubahan.

Kita lihat saja antara kita dengan anak kita, itu cara berpikir gaya hidup sudah berbeda. Kalau kita gak bisa mengikuti akan ada gap dengan mereka, ini belum dengan cucu kita.

Karena itu kita harus tahu, anak muda sekarang tuntutannya apa, kita berdiri di mana poisisi kita, apa kita akan tetap mengawani anak kita berjalan ke depan atau kita biarkan jalan sendiri tergantung kita menyikapi zaman.

Misal saya sendiri ikut facebook-an, twitter-an. Meskipun banyak yang ngledek saya: sudah tua kok main twitteran! Dikiranya twitter-an itu hanya untuk yang muda saja

Bahasa, juga ada bahasa orang dahulu, ada bahasa orang sekarang. Di sastra ada angkatan lama, pujangga baru dan sebagainya. Kalau kita tidak mengikuti itu, misal kita masih menggunakan bahasa pujangga lama, kita akan dinilai primitif oleh orang sekarang.

Lalu, apa yang seharusnya bertahan dan terus?

Ada hal yang perlu kita perhatikan. Kalau kita mengikuti zaman, kadang kita larut, mestinya tidak. Sebab, dalam nilai lama itu banyak nilai yang mulia. Sehingga apapun yang berlaku pada masa kini, ada nilai lama mesti kita pertahankan.

Misal, dalam prinsip melihat Tuhan dan manusia, diri kita sebagai hamba dan sebagai khalifah. Prinsip ini harus kita pegang dalam menghadapi zaman apapun! Misal, ini sudah modern, jadi kita sudah tidak perlu menghamba lagi kepada Tuhan. Ya tidak bisa! kita mesti tetap menghamba kepada Tuhan.

Lalu, kaitannya dengan posisi pesantren dalam perubahan zaman, sampai bentuknya sekarang, mampu mempertahankan kearifan lama dalam hal apa saja?

Kalau kita bicara pesantren. Pertama, tantangan bagi pesantren itu sendiri. Kedua, seperti yang sampeyan sampaikan itu sendiri (mempertahankan kearifan lama,-red). Disana ada kemandirian, tradisi ilmiah yang pertanggungjawabannya luar biasa sampai hari akhir.

Ambil contoh seorang yang belajar hadist. Nanti, orang pesantren bisa menjelaskan ketika dihisab, mengapa ini dawuh dari rasulullah saw? apa kamu seangkatan satu zaman? Apa rasul itu tetanggamu? Sekarang ini banyak ustadz yang bilang : rasulullah bersabda innamal a’malu binniyati. Seolah dia tanya sendiri dari rasulullah. Sebab, Man kadzaba a’laiya muta’ammidan falyatabawwa maq’adahu minannaar. Itu ancamannya dari rasul sendiri. Lha, terkadang bukan dari rasul, tapi mengaku dari rasul.

Kalau kita ditanya dari mana? kita jawab dari sebuah majalah, wah itu nanti pertanggungjawaban putus. Majalahnya masih terbit atau tidak?

Kalau di pesantren, ditanya dari mana kamu dengar? Saya dengar dari guru saya, misal dari Kiai Ali Maksum, terus sampai sahabat sampai rasul. Atau seorang kiai mengajar itu darimana itu? Dijawab dari guru saya, guru saya, terus. Alquran misalnya dari Kiai Umar, itu dari gurunya terus ke atas sampai rasul.

Di pesantren ada namanya tarbiyatus sulukiyah, pendidikan sejati. Itu adalah pemberian bukan hanya nasihat tapi juga keteladanan. Anda perhatikan kalau di sekolah formal, nuwun sewu, kira-kira pendidikannya bagaimana? Meskipun kita sebut sebagai pendidikan. Kalau saya melihat, pendidikan formal yang ada pendidikannya, justru di TK dan PAUD, tapi di SD sana saya tidak melihat lagi di mana pendidikan.

Kalau di pesantren, sejak awal memang lembaga pendidikan, maka zaman dahulu pengajarannya tidak begitu penting seperti pendidikan.

Ada dua hal yang kita rancukan, antara pengajaran dan pendidikan. Dalam bahasa arab jelas, pengajaran (ta’lim) dan pendidikan (tarbiyah). Pengajaran tidak menjamin perubahan perilaku manusia, tetapi pendidikan lah yang mampu untuk merubahnya. Pengajaran hanya pemberian informasi. Kalau murid diberi tahu informasi sejarah, biologi, alquran dia jadi tahu. Tapi perilakunya, alquran atau tidak, itu bukan urusan ta’lim tapi urusan tarbiyah.

Makanya di pesantren ada ilmu manfaat ilmu yang diamalkan tidak sekedar ilmu. Pesantren zaman dahulu tidak hanya mencetak ilmuwan saja, tetapi diharapkan juga yang penting manusia yang berilmu yang saleh, artinya saleh itu mengamalkan ilmunya.

Di tahun baru ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari Pak Kiai?

Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar!

Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain. Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insyallah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi (sejak dalam ayunan hingga liang lahat,-red). **

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,56739-lang,id-c,halaqoh-t,Gus+Mus++Penting+untuk+Selalu+Membaca+Pergantian+Zaman-.phpx

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: