Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia

Inilah Naskah Lengkap Deklarasi Nahdlatul Ulama kepada Dunia

imageContent.php2

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nadlaltul Ulama (PBNU) menerbitkan “Deklarasi Nahdlatul Ulama” dalam International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, yang dihelat sejak Senin (9/5).

Deklarasi tersebut dibacakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Selasa (10/9) sore, di hadapan para ulama dari berbagai negara. Naskah deklarasi dirumuskan setelah PBNU menggelar pertemuan terbatas dengan para ulama itu pada siang harinya.

Berikut naskah lengkah “Deklarasi Nahdlatul Ulama” di ujung forum internasional yang mengusung tema “Islam Nusantara, Inspirasi untuk Peradaban Dunia” ini:

Deklarasi Nahdlatul Ulama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
(الأنبياء: 107)

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
(الإسراء: 70)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra`: 70)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
(الحج:78)

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (QS. Al-Hajj: 78)

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
(رواه البيهقي)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلا مُتَعَنِّتًا ، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرً
(رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
(رواه النسائ)

“Seorang muslim sejatinya adalah orang yang seluruh manusia selamat dari lisan dan tangannya. Sedang seorang mukmin adalah orang yang mendatangkan rasa aman kepada orang lain dalam darah dan hartanya” (HR. An-Nasai)

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِفْقَ فِى الْأَمْرِ كُلِّهِ (متفق عليه)

“Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam semua urusan” (Muttafaq ‘Alaih)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)

قَالَ بْنُ بَطَّالٍ فِيهِ الحَضُّ عَلَى اسْتِعْمَالِ الرَّحْمَةِ لِجَمِيعِ الخَلقِ فَيَدْخُلُ الْمُؤْمِنُ وَالْكَافِرُ وَالْبَهَائِمُ الْمَمْلُوكُ مِنْهَا وَغَيْرُ الْمَمْلُوكِ وَيَدْخُلُ فِي الرَّحْمَةِ التَّعَاهُدُ بِالْإِطْعَامِ وَالسَّقْيِ وَالتَّخْفِيفُ فِي الْحَمْلِ وَتَرْكُ التَّعَدِّي بِالضَّرْبِ
(انظر ابن حجر العسقلاني، فتح الباري بشرح صحيح البخاري، بيروت-دار المفرفة، 1379هـ، ج، 10، ص. 440)

“Ibnu Baththal berkata: ‘Hadits ini mengandung anjuran kuat untuk bersikap penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, baik mukmin maupun kafir, binatang piaraan maupun binatang liar, dan termasuk juga di dalamnya adalah komitmen untuk memberikan bantuan makanan dan minuman (kepada yang membutuhkan), meringankan beban, dan menghindari berbuat kekerasan terhadap seluruh makhluk” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz, XI, h. 440)

مِنَ الْمَعْلُوْمِ اَنَّ النَّاسَ لاَبُدَّ لَهُمْ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ وَالْمُخَالَطَةِ ِلأَنَّ الْفَرْدَ الْوَاحِدَ لاَيُمْكِنُ اَنْ يَسْتَقِلَّ بِجَمِيْعِ حَاجَاتِهِ، فَهُوَ مُضْظَرٌّ بِحُكْمِ الضَّرُوْرَة اِلَى اْلاِجْتِمَاعِ الَّذِيْ يَجْلِبُ اِلَى اُمَّتِهِ الْخَيْرَ وَيَدْفَعُ عَنْهَا الشَّرَّ وَالضَّيْرَ. فَاْلإِتِّحَادُ وَارْتِبَاطُ الْقُلُوْبِ بِبَعْضِهَا وَتَضَافُرُهَا عَلَى اَمْرِ وَاحِدٍ وَاجْتِمَاعُهَا عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ أَهَمِّ اَسْبَابِ السَعَادَةِ وَاَقْوَى دَوَاعِى الْمَحَبَّةِ وَاْلمَوَدَّةِ. وَكَمْ ِبهِ عُمِّرَتِ البِلاَدُ وَسَادَتِ الْعِبَادُ وَانْتَشَرَ الْعِمْرَانُ وَتَقَدَّمَتِ اْلاَوْطَانُ وَاُسِّسَتِ الْمَمَالِكُ وسُهِّلَتِ المسَاَلِكُ وَكَثُرَ التَّوَاصُلُ اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ فَوَائِدِ اْلاِتِّحَادِ الَّذِيْ هُوَ اَعْظَمُ الْفَضَائِلِ وَأَمْتَنُ اْلاَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ
(الرئيس الأكبر لجمعية نهضة العلماء الشيج العالم العلامة هاشم أشعري, مقدمة القانون الأساسي لجمعية نهضة العلماء)

“Telah dimaklumi bahwa manusia niscaya bermasyarakat, bercampur dengan yang lain; sebab tak mungkin seorang pun mampu sendirian memenuhi segala kebutuhan–kebutuhannya. Maka mau tidak mau ia harus bermasyarakat dalam cara yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak ancaman bahaya dari padanya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu dalam memperjuangkan kepentingan bersama dan kebersamaan dalam satu kata adalah sumber paling penting bagi kebahagiaan dan faktor paling kuat bagi terciptanya persaudaraan dan kasih sayang. Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh” (Rais Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi)

Nahdlatul Ulama telah merampungkan munaadharah dalam “International Summit of Moderate Islamic Leaders” (Isomil), “Muktamar Internasional Para Pemimpin Islam Moderat”, yang diselenggarakan pada tanggal 9-11 Mei di Jakarta, Indonesia. Setelah berkonsultasi dan berdikusi secara ekstensif bersama banyak ahli dari berbagai bidang yang ikut serta dalam Muktamar ini, Nahdlatul Ulama berbulat hati menyiarkan “Deklarasi Nahdlatul Ulama” sebagai berikut:

1. Nahdlatul Ulama menawarkan wawasan dan pengalaman Islam Nusantara kepada dunia sebagai paradigma Islam yang layak diteladani, bahwa agama menyumbang kepada peradaban dengan menghargai budaya yang telah ada serta mengedepankan harmoni dan perdamaian.

2. Nahdlatul Ulama tidak bermaksud untuk mengekspor Islam Nusantara ke kawasan lain di dunia, tapi sekadar mengajak komunitas-komunitas Muslim lainnya untuk mengingat kembali keindahan dan kedinamisan yang terbit dari pertemuan sejarah antara semangat dan ajaran-ajaran Islam dengan realitas budaya-budaya lokal di seantero dunia, yang telah melahirkan beragam peradaban-peradaban besar, sebagaimana di Nusantara.

3. Islam Nusantara bukanlah agama atau madzhab baru melainkan sekadar pengejawantahan Islam yang secara alami berkembang di tengah budaya Nusantara dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam sebagaimana dipahami, diajarkan dan diamalkan oleh kaum Ahlussunnah wal Jama’ah di seluruh dunia.

4. Dalam cara pandang Islam Nusantara, tidak ada pertentangan antara agama dan kebangsaan. Hubbul watan minal iman: “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Barangsiapa tidak memiliki kebangsaan, tidak akan memiliki tanah air. Barangsiapa tidak memiliki tanah air, tidak akan punya sejarah.

5. Dalam cara pandang Islam Nusantara, Islam tidak menggalang pemeluk-pemeluknya untuk menaklukkan dunia, tapi mendorong untuk terus-menerus berupaya menyempurnakan akhlaqul karimah, karena hanya dengan cara itulah Islam dapat sungguh-sungguh mewujud sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).

6. Islam Nusantara secara teguh mengikuti dan menghidupkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam yang mendasar, termasuk tawassuth (jalan tengah, yaitu jalan moderat), tawaazun (keseimbangan; harmoni), tasaamuh (kelemah-lembutan dan kasih-sayang, bukan kekerasan dan pemaksaan) dan i‘tidaal (keadilan).

7. Sebagai organisasi Ahlussunnah wal Jama’ah terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama berbagi keprihatinan yang dirasakan oleh sebagian besar warga Muslim dan non-Muslim di seluruh dunia, tentang merajalelanya ekstremisme agama, teror, konflik di Timur Tengah dan gelombang pasang Islamofobia di Barat.

8. Nahdlatul Ulama menilai bahwa model-model tertentu dalam penafsiran Islamlah yang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap penyebaran ekstremisme agama di kalangan umat Islam.

9. Selama beberapa dekade ini, berbagai pemerintah negara di Timur Tengah telah mengeksploitasi perbedaan-perbedaan keagamaan dan sejarah permusuhan di antara aliran-aliran yang ada, tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya terhadap kemanusiaan secara luas. Dengan cara mengembuskan perbedaan-perbedaan sektarian, negara-negara tersebut memburu soft power (pengaruh opini) dan hard power (pengaruh politik, ekonomi serta militer) dan mengekspor konflik mereka ke seluruh dunia. Propaganda-propaganda sektarian tersebut dengan sengaja memupuk ekstremisme agama dan mendorong penyebaran terorisme ke seluruh dunia.

10. Penyebaran ektremisme agama dan terorisme ini secara langsung berperan menciptakan gelombang pasang Islamofobia di kalangan non-Muslim.

11. Pemerintahan negara-negara tertentu di Timur Tengah mendasarkan legitimasi politiknya diambil justru dari tafsir-tafsir keagamaan yang mendasari dan menggerakkan ekstremisme agama dan teror. Ancaman ekstremisme agama dan teror dapat diatasi hanya jika pemerintahan-pemerintahan tersebut bersedia membuka diri dan membangun sumber-sumber alternatif bagi legitimasi politik mereka.

12. Nahdlatul Ulama siap membantu dalam upaya ini.

13. Realitas ketidakadilan ekonomi dan politik serta kemiskinan massal di dunia Islam turut menyumbang pula terhadap berkembangnya ekstremisme agama dan terorisme. Realitas tersebut senantiasa dijadikan bahan propaganda ekstremisme dan terorisme, sebagai bagian dari alasan keberadaannya dan untuk memperkuat ilusi masa depan yang dijanjikannya. Maka masalah ketidakadilan dan kemiskinan ini tak dapat dipisahkan pula dari masalah ektremisme dan terorisme.

14. Walaupun maraknya konflik yang meminta korban tak terhitung jumlahnya di Timur Tengah seolah-olah tak dapat diselesaikan, kita tidak boleh memunggungi masalah ataupun berlepas diri dari mereka yang menjadi korban. Nahdlatul Ulama mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dan konstruktif dalam mencari jalan keluar bagi konflik multi-faset yang merajalela di Timur Tengah.

15. Nahdlatul Ulama menyeru siapa saja yang memiliki iktikad baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam upaya membangun konsensus global untuk tidak mempolitisasi Islam, dan memarjinalkan mereka yang hendak mengeksploitasi Islam sedemikian rupa untuk menyakiti sesama.

16. Nahdlatul Ulama akan berjuang untuk mengonsolidasikan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sedunia demi memperjuangkan terwujudnya dunia di mana Islam dan kaum Muslimin sungguh-sungguh menjadi pembawa kebaikan dan berkontribusi bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.

Jakarta, 10 Mei 2016

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, MA Dr. Ir. Helmi Faisal Zaini
Ketua Umum Sekretaris Jenderal

Dr. K.H. Ma’ruf Amin K.H. Yahya Cholil Staquf
Rais ‘Aam Katib ‘Aam

Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/68092/inilah-naskah-lengkap-deklarasi-nahdlatul-ulama-kepada-dunia

Iklan

Masyarakat Tumpeng

Masyarakat Tumpeng

imageContent.php 1

Oleh Hilmy Firdausy

Masyarakat kita, masyarakat Nusantara adalah masyarakat tumpeng! Masyarakat yang suka berbondong-bondong, berkumpul, berguyub dalam berbagai hal. Masyarakat yang berduyun-duyun pergi ke rumah tetangga ketika ada hajatan, selametan dan tahlilan. Masyarakat yang ketika itu ibu-ibunya kompak bekerja sama, gotong royong memotong bawang dan ikan-ikan, menenun berbagai obrolan ringan sambil menunggu masakan mateng.

Kita adalah masyarakat tumpeng. Masyarakat yang bergerak bersama-sama dari bawah untuk menuju satu titik tuju yang universal. Kita masyarakat tumpeng, masyarakat panjat pinang. Masyarakat yang saling memikul beban, memangkukan berbagai macam permasalahan di bahu kebersamaan, mengentaskannya tanpa sedikit pun menonjolkan ego kedirian personal. Kita masyarakat tumpeng. Masyarakat yang erat dan rekat karena masing-masing dari kita paham jika kita manusia, paham jika kita tak hidup sendiri saja.

Ketumpengan masyarakat kita pun pada akhirnya berwujud nasi. Makanan pokok yang bagi orang Indonesia tidak bisa diganti roti atau jenis-jenis makanan lainnya. Kosakata makan ya mengarah pada makna “makan nasi”, selebihnya hanya pelengkap, hanya lauk yang sama sekali tidak mengandung makna perut terisi. Apakah ada relevansinya ketumpengan masyarakat kita dipersonifikasikan serta diinternalisasikan ke dalam nasi? Oh tentu ada, izinkan saudara saya beri kisi-kisinya..

Nasi sebagaimana saya jelaskan adalah jantung kehidupan masyarakat Nusantara. Secara umum begitu, meskipun nanti kita temukan orang-orang timur lebih sering makan sagu. Bukan alasan karena mereka tak suka nasi, tapi karena berbagai kegoblokan pemangku kebijakan negara kita di pusat, saudara-saudara kita di timur tak mendapatkan jatah beras semudah yang kita rasakan di sini. Ya bisa dikatakan andai masih ada nasi buat apa mereka makan sagu…

Saya ulangi, nasi adalah jantung kehidupan masyarakat Nusantara. Dari itu mereka memperkuat dan mengisi nutrisi tubuh mereka, dari itu pula mereka memperkuat serta mengisi nutrisi kehidupan bangsa. Kata paman saya yang petani, menanam padi itu tak pernah ada ruginya. Beda dengan tanaman-tanaman lainnya, apalagi cabe, tembakau dan bawang. Mau segagal apapun pertaniannya, padi minimal masih menghasilkan uang yang seimbang dengan modal awal yang dikeluarkan, baik dalam tahap pembibitan ataupun penanaman.

Nasi adalah nadi di mana kehidupan masyarakat kita berdetak dan berdenyut hingga saat ini. Nasi itu penting! Oleh karena itu dulu orang tua kita akan marah sekali ketika kita terlalu asik main dan melupakan makan nasi. Tak peduli apakah perut kita sudah penuh dengan singkong dan jenis ubi-ubian yang kita temukan di ladang, mau tidak mau kita masih harus dan tetap makan nasi. Dalam ruang sosial semacam ini nasi secara tidak langsung sudah menjadi perlambang bagi teologi agraria dan sosial masyarakat kita.

Saya tidak tahu asal muasal kata tumpeng. Tapi kalau mau dimaknai secara paksa, saya mengasumsikan tumpeng itu berarti “tumpah bareng-bareng.” Ya masyarakat kita memang masyarakat keroyokan. Masyarakat yang tidak pernah mengenal konsep one man one show. Makanya ketika ada suatu acara mereka tumpah ruah di situ, bebas. Ada yang saling membantu sebuah pekerjaan, ada yang hanya berdiri memperhatikan, ada yang hanya numpang ngopi dan melepas obrolan-obrolan. Bagi masyarakat kita, hal itu sudah lumrah dan tak pernah melahirkan iri-irian.

Nasi dan tumpeng adalah dua entitas yang mengakar dalam kebudayaan kita. Ketika disatukan ia layaknya Power Ranger yang bergabung, menyatukan diri mereka untuk melahirkan satu robot yang lebih hebat dan lebih kuat. Robot yang bisa menghabisi alien “asing” yang berasal dari luar. Robot yang bisa menghancurkan dengan sekali pukulan siapapun mahluk asing yang mencoba menganggu ketentraman dan merusak wilayahnya. Eng ing eng… Ketika bergabung jadilah nasi tumpeng!

Yang namanya nasi tumpeng ya dimakan bareng-bareng. Tumpah dalam satu nampan bambu bareng-bareng. Makan sambil beradu tatapan, memantau pergerakan tangan siapa yang lebih besar gengamannya, mendengar langsung kunyahan orang di sampingnya, sembari sesekali tangan kita beradu dengan tangan lawan di depan kita… ah sungguh romantis. Ya masyarakat tumpeng juga masyarakat yang romantis… yang harmonis, saudara.

Pengalaman sosio-teologis semacam ini tidak akan kita temukan dalam cara makan ala Barat: prasmanan, pakai piring, pakai table manner yang menuntut siapa saja harus tahu mana sendok buat nasi, mana sendok buat sup. Di kanan-kiri piring kita tersedia berbagai jenis sendok dan pisau, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Tragisnya kita tak boleh pinjam sendok orang yang ada di samping kita. Sendiri-sendiri.

Makan sekali lagi adalah cerminan. Cara kita makan dipengaruhi cara kita berkehidupan. Makan yang sendiri-sendiri adalah cerminan gaya hidup individualis yang juga akan membentuk pelakunya sebagai individu-individu yang individualis. Masyarakat kita tidak seperti itu. Ketumpengan masyarakat kita tergambar dalam cara makan kita yang massif, sosial-kolektif. Ada ayam ya ayam bersama… ada tempe ya tempe bersama. Dicubit kecil-kecil biar yang lain kebagian. Cara makan yang juga akan membentuk kita sebagai individu-individu yang keroyokan. Peduli terhadap sesama. Ada masalah yang masalah bersama… dicubit kecil-kecil oleh tiap-tiap orang biar lekas hilang.

Indonesia sebagai negara dunia ketiga masih hangat-hangatnya diserang dari lini ini. Anak muda seperti saya diperkenalkan kepada budaya asing yang identik dengan kemodernan. Budaya asing yang justru meracuni pikiran kita. Indonesia masih sangat seksi dan menggairahkan. Ada gerakan-gerakan kolonialisme halus yang tidak kita sadari sedang bergerak di sekeliling kita. Nusantara kita yang hijau masihlah montok dan sangat sensual. Usaha-usaha mengambil alih masih terus diusahakan dan itu tidak kita rasakan. Usaha yang paling halus dan mematikan adalah usaha-usaha pencucian jiwa masyarakat Nusantara dari tradisinya, dari kebudayaan yang mereka anggap lokal dan irrasional.

Ya, nasi tumpeng adalah senjata pamungkas kebudayaan kita. Selama masih ada nasi tumpeng yakinlah Nusantara aman dari berbagai jenis alien asing yang ingin merusak bangsa tersebut. Tentu nasi tumpeng tidak hidup sendiri. Ia beriringan dengan detak kehidupan masyarakat. Kekuatan nasi tumpeng berada dalam ruang keguyuban hidup kelompok masyarakat. Keguyuban masyarakat juga tergantung sejauh mana mereka tumpengan dan main keroyokan. Semakin guyub kehidupan kita, semakin kuat pula ketumpengan, semakin harum pula nasi tumpeng kita. Begitu juga sebaliknya. Keduanya saling terjalin, saling berkaitan dan menentukan. Dan sudah saatnya kita mesti bangga dan melestarikan ruh ketumpengan tradisi kita.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama

sumber: http://www.nu.or.id/post/read/66958/masyarakat-tumpeng

Sayid Agil Al-Munawwar: Waspada Tayangan Agama di TV, Banyak Orang Sok Alim Ceramah

Sayid Agil Al-Munawwar: Waspada Tayangan Agama di TV, Banyak Orang Sok Alim Ceramah

imageContent.php

Pesawaran, NU Online
Prof Dr KH Sayid Agil Husin Al-Munawwar menegaskan bahwa pada zaman sekarang ini banyak sekali orang yang belum menguasai keilmuan agama secara mendalam. Namun demikian mereka sudah berani muncul di berbagai media khususnya televisi dan menyampaikan kajian agama.

“Sekarang banyak yang tidak fasih baca Al-Quran di berbagai media, namun seakan akan sudah sangat paham Islam,” tegasnya di hadapan jamaah Khotmil Quran bil Ghaib dan bin Nadhor Pesantren Al-Hidayat, Pesawaran, Sabtu (21/5).

Menurut Prof Sayid Agil, orang-orang tersebut sama saja mengumumkan kebodohannya di depan umum dengan sering mengutip bacaan Al-Quran yang tidak sesuai dengan kaidahnya.”Banyak dari mereka ini tidak belajar dan tak mau belajar, namun sudah merasa paling tahu,” tegasnya.

Karena itu ia mengimbau kepada seluruh umat Islam untuk senantiasa hati-hati dalam menyaksikan acara di televisi khususnya acara yang bernuansa agama.

Lebih lanjut Prof Sayid Agil juga mengingatkan bahwa saat ini juga banyak orang yang dengan gampang menyalahkan orang lain dan mendhoifkan hadits. “Ilmu agama itu luas dan banyak cabangnya. Jangan hanya membaca satu buku. Baca buku orang lain dan jangan merasa fanatic, merasa hebat dan benar sendiri,” imbaunya.

Jika orang sudah banyak referensi dan paham keilmuan agama lanjutnya, maka orang tersebut tidak akan terombang ambing oleh berbagai macam aliran yang sekarang ini membingungkan umat. “Kalau dasarnya NU kuat, ke mana pun pergi kita masih akan tetap NU,” katanya.

Karenanya, pesantren khususnya yang mendalami masalah Al-Quran merupakan benteng bagi generasi muda dalam memahami Islam secara menyeluruh. Al-Quran akan membentengi dan menyelamatkan para generasi muda dari aliran-aliran yang tidak jelas.

“Lebih dari itu Al-Quran bisa menjadi filter bagi dekadensi moral saat ini yang jahiliyahnya sudah melebihi zaman jahiliyah pada waktu dulu,” pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

sumber: http://www.nu.or.id/post/read/68402/sayid-agil-al-munawwar-waspada-tayangan-agama-di-tv-banyak-orang-sok-alim-ceramah

Tahlil, Ajaran Kiaiku

Tahlil, Ajaran Kiaiku

1411044665

Baru saja, setelah magrib, aku diberikan wejangan mengenai tahlil. “Tahlil” arti harfiyahnya adalah kalimat toyyibah atau perkataan yang baik, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai kalimat “Laa ilaaha illallaah”, tiada Tuhan selain Allah. Namun yang biasa disebut tahlilan adalah paket bacaan-bacaan dan doa yang telah mentradisi bagi umat Islam, khususnya di Indonesia.

Paket itu disebut tahlil karena salah satu yang dibaca adalah“Laa ilaaha illallaah”. Kata kiaiku, terkadang mengucapkan satu bagian bisa dimaksudkan sebagai keseluruhan, ithla’ul juz’i wa irodatul kulli.

Tahlil itu berisi sejumlah bacaan-bacaan ayat-ayat tertentu dan kalimah-kalimat toyyibah pada umumnya. Semua itu berdasarkan pada hadisnya masing-masing. Semuanya punya dasar hukum.

Jadi di sini ada rangkaian kata dalam tahlilan. Sebenarnya bisa di bolak-balik, tidak harus berurutan karena memang tujuannya sama. Tetapi karena supaya mudah diikuti oleh makmumnya maka harus sesuai dengan ramuan yang telah dibuat oleh orang-orang terdahulu.

Tahlil dilakukan dalam rangka pengelolaan rohani untuk bertakdim, berbakti, atau kumawulo kepada pada pendahulu-pendahulu kita sampai Nabi Muhammad SAW, karena atas jasa para pendahulu itulah maka kita di sini menjadi sebagai orang mukmin dan muslim.

Jadi kalau tidak ada pendahulu-pendahulu kita tidak mungkin kenal dengan Islam: Atas jasa Nabi dan para sahabatnya sampai orang tua dan guru-guru kita, maka kita bisa mengenal Islam. Karena itulah perlu ada wujud penghargaan pada orang yang telah meninggal sebelum kita.

Ahli-ahli ilmu hati ini mencoba merumuskan bacaan-bacaan kalimat toyyibah, dan ini kemudian diyakini adalah sebagai cara berbakti kepada orang yang telah mati. Yang telah benar-benar berjasa pada kita gan! Kita mendoakan mereka dengan paket kalimat thoyyibah itu.

Kok yo mantep-mantepe? Kalau seandainya tidak yakin dengan kalimat itu, silahkan saja merumuskan cara baru. Paket yang disebut oleh Indonesia disebut tahlil bisa dibuat versi sendiri asalkan untuk tujuan berdoa dan berbakti kepada orang tuanya, leluhurnya, ulamanya.

Jadi bila disusun dan bisa komplit maka bisa seperti apa saja, asalkan sesuai dengan tujuan awal yaitu takdim kepada leluhur kita. Tapi pertanyaannya, apakah anda yang mau menyusun bacaan tersendiri itu telah memenuhi kompetensi dan standar-standar tertentu?

M. Fadllullah, staf Subdit Kurikulum di Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,54565-lang,id-c,esai-t,Tahlil++Ajaran+Kiaiku-.phpx

Gus Mus: Tidak Ada Lelaki Hebat Tanpa Peran Perempuan

Gus Mus: Tidak Ada Lelaki Hebat Tanpa Peran Perempuan

1409541716

Yogyakarta, NU Online
KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus menegaskan bahwa di balik laki-laki yang hebat selalu ada perempuan yang hebat. Karena itu, sudah sepantasnya perempuan mendapat penghormatan yang layak atas peranannya tersebut.

Pejabat Rais Aam PBNU ini menyampaikan hal itu saat memberikan taushiyah pada peringatan haul Hj. Hasyimah Munawwir (istri KH. Ali Maksum) yang digelar Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di lapangan umum Al-Munawwir, Yogyakarta, Jumat (29/8).

“Hanya orang yang memuliakan perempuanlah orang yang terhormat itu, hanya orang kurang ajarlah yang menghina perempuan itu. Tidak ada laki-laki hebat tanpa peranan perempuan,” ucap Gus Mus.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang, Jawa Tengah, ini mengatakan, ketika mendapatkan mandat sebagai rasul, Nabi Muhammad meminta diselimuti oleh sang istri, Khadijah. Sebab, saat itu Nabi baru saja berjumpa sosok yang luar biasa (malaikat Jibril) dan terkejut dengan situasi yang dialaminya. Dalam kondisi ini, lanjut Gus Mus, Siti Khodijah lah yang menghibur dan membesarkan hati Nabi.

Hadir pula dalam peringatan haul tersebut Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, KH Habibullah, KH Haidar Idris, pengurus PWNU setempat, dan para kiai dan pengurus Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Tak ketinggalan, ribuan jamaah shalawat dari berbagai penjuru Yogyakarta juga turut meramaikan acara ini, termasuk ibu-ibu jamaah Ahbabul Mustofa jamaah yang di kelola KH. Rifqi Ali (putra Hj Hasyimah) yang kerap disapa Gus Kelik.

Acara tersebut berlangsung dengan lancar, shalawatan bergema ke seluruh pelosok lorong-lorong pondok dengan diikuti para jamaah yang hadir. (Ahmad Syaefudin/Mahbib)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,54170-lang,id-c,nasional-t,Gus+Mus++Tidak+Ada+Lelaki+Hebat+Tanpa+Peran+Perempuan-.phpx

Gus Mus: Zaman Sekarang, Orang Baik Justru Terasing

Gus Mus: Zaman Sekarang, Orang Baik Justru Terasing

1418343353

Sukoharjo, NU Online
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Islam muncul pertama kali sebagai sebuah hal yang asing. Begitu pula di akhir zaman, Islam juga akan kembali menjadi sebuah hal yang asing.

“Saya mikir, setelah 15 abad, pertanyaannya apakah zaman sekarang ini, Islam sudah terasing apa belum?” tanya Rais ‘Aam PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri saat membuka ceramahnya di depan ribuan jamaah Tabligh Akbar Dies Natalis ke-22 IAIN Surakarta yang memadati Gedung Graha, Rabu (10/12) malam.

Tokoh yang akrab disapa Gus Mus tersebut melanjutkan, apabila melihat fenomena yang terjadi pada umat Islam di zaman ini, tentu banyak pihak yang menilai bahwa Islam tidaklah terasing.

“Bagaimana tidak di mana-mana acara pengajian ramai, pergi haji juga mesti antre. Kok, tidak terlihat terasing, justru tampak ramai,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu.

Namun, Gus Mus menggarisbawahi pada kondisi umat Islam yang ‘ramai’ ini, ternyata memperlihatkan banyak ironi. “Meskipun terlihat tidak terasing, namun jika diperhatikan banyak yang hilang dari nilai keislaman. Semisal apabila orang jujur seolah menjadi terasing di antara sekian banyak pembohong,” ungkap dia.

Menurutnya, kondisi ini akan mengakibatkan keterasingan bagi orang yang hendak berbuat baik. “Ini membuat orang yang tadinya ingin berbuat baik, terkadang tidak kuat untuk bertahan di tengah keterasingannya. Yang lain korupsi, aku merasa ‘saru’ (aneh), tengil-tengil (sendirian) tidak korupsi,”

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga menerangkan tentang konsep ketaqwaan dan cara Nabi Muhammad memberikan apresiasi terhadap budaya lokal. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,56291-lang,id-c,nasional-t,Gus+Mus++Zaman+Sekarang++Orang+Baik+Justru+Terasing-.phpx

Gus Mus: Penting untuk Selalu Membaca Pergantian Zaman

Gus Mus: Penting untuk Selalu Membaca Pergantian Zaman

1420084107

Pada momentum pergantian dari tahun 2014 ke tahun 2015 ini, penting bagi kita untuk selalu melakukan muhasabah atau evaluasi diri, agar dapat memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan, sekaligus meningkatkan diri agar menjadi yang lebih baik di tahun mendatang.

Petikan wawancara wartawan dari NU Online Ajie Najmuddin dengan Rais Aam PBNU DR KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) di sela kunjungannya ke Sukoharjo belum lama ini, kiranya dapat membuat kita lebih dapat memaknai arti pergantian tahun, juga lebih arif dalam mengikuti perubahan zaman.

Saya membaca tulisan dari Pak Kiai, tentang perubahan zaman. Bagaimana sesungguhnya menurut Kiai pergantian tahun, perubahan zaman ataupun perubahan waktu?

Yang paling penting, pergantian tahun itu perlu kita maknai sebagai momentum untuk mengevaluasi diri kita, bukan mengevaluasi orang lain, pada tahun yang lalu untuk tahun yang baru.

Kalau kita bicara secara sosial, kita juga mesti evaluasi perilaku sosial kita bagaimana? Apa sudah sempurna apa belum. Kalau kita ketahui kekurangannya, bisa kita perbaiki.

Penting juga untuk muhasabah diri, apa saja perilaku kita. Kadang kita ini sibuk, tapi tidak jelas kesibukan kita. Kita ini sibuk apa? Yang kita cari itu apa? Apa yang sudah kita dapat? Kita mendapatkan apa dan seterusnya.

Nah, pertanyaan-pertanyaan muhasabah diri ini penting sekali kalau orang ingin meningkat, kecuali kalau ia cuek, pergantian tahun biar berganti, maka kita akan ditinggalkan oleh zaman itu sendiri. Ketika kita masih tetap seperti kemarin, sedangkan zaman semakin maju.

Apa yang penting bagi kita semua, agar tidak tertinggal zaman?

Ya, itu tadi. Kita ikuti zaman dengan muhasabah. Setiap pergantian zaman atau pergantian tahun, untuk perbaikan yang akan datang. Zaman seperti apapun kalau kita perhatikan lingkungan kita dan perubahan zaman, kita tidak akan ketinggalan.

Zaman itu kan waktu. Alwaqtu kas saif, alwaqtu dzahaba pergi tidak bisa kembali, alwaqtu dzahabun waktu itu emas. Tinggal kita bagaimana menyikapi waktu itu. Kalau kita gunakan semstinya, maka waktu itu emas. Kalau kita biarkan begitu saja, maka akan mandek terus, padahal zaman itu membawa perubahan.

Kita lihat saja antara kita dengan anak kita, itu cara berpikir gaya hidup sudah berbeda. Kalau kita gak bisa mengikuti akan ada gap dengan mereka, ini belum dengan cucu kita.

Karena itu kita harus tahu, anak muda sekarang tuntutannya apa, kita berdiri di mana poisisi kita, apa kita akan tetap mengawani anak kita berjalan ke depan atau kita biarkan jalan sendiri tergantung kita menyikapi zaman.

Misal saya sendiri ikut facebook-an, twitter-an. Meskipun banyak yang ngledek saya: sudah tua kok main twitteran! Dikiranya twitter-an itu hanya untuk yang muda saja

Bahasa, juga ada bahasa orang dahulu, ada bahasa orang sekarang. Di sastra ada angkatan lama, pujangga baru dan sebagainya. Kalau kita tidak mengikuti itu, misal kita masih menggunakan bahasa pujangga lama, kita akan dinilai primitif oleh orang sekarang.

Lalu, apa yang seharusnya bertahan dan terus?

Ada hal yang perlu kita perhatikan. Kalau kita mengikuti zaman, kadang kita larut, mestinya tidak. Sebab, dalam nilai lama itu banyak nilai yang mulia. Sehingga apapun yang berlaku pada masa kini, ada nilai lama mesti kita pertahankan.

Misal, dalam prinsip melihat Tuhan dan manusia, diri kita sebagai hamba dan sebagai khalifah. Prinsip ini harus kita pegang dalam menghadapi zaman apapun! Misal, ini sudah modern, jadi kita sudah tidak perlu menghamba lagi kepada Tuhan. Ya tidak bisa! kita mesti tetap menghamba kepada Tuhan.

Lalu, kaitannya dengan posisi pesantren dalam perubahan zaman, sampai bentuknya sekarang, mampu mempertahankan kearifan lama dalam hal apa saja?

Kalau kita bicara pesantren. Pertama, tantangan bagi pesantren itu sendiri. Kedua, seperti yang sampeyan sampaikan itu sendiri (mempertahankan kearifan lama,-red). Disana ada kemandirian, tradisi ilmiah yang pertanggungjawabannya luar biasa sampai hari akhir.

Ambil contoh seorang yang belajar hadist. Nanti, orang pesantren bisa menjelaskan ketika dihisab, mengapa ini dawuh dari rasulullah saw? apa kamu seangkatan satu zaman? Apa rasul itu tetanggamu? Sekarang ini banyak ustadz yang bilang : rasulullah bersabda innamal a’malu binniyati. Seolah dia tanya sendiri dari rasulullah. Sebab, Man kadzaba a’laiya muta’ammidan falyatabawwa maq’adahu minannaar. Itu ancamannya dari rasul sendiri. Lha, terkadang bukan dari rasul, tapi mengaku dari rasul.

Kalau kita ditanya dari mana? kita jawab dari sebuah majalah, wah itu nanti pertanggungjawaban putus. Majalahnya masih terbit atau tidak?

Kalau di pesantren, ditanya dari mana kamu dengar? Saya dengar dari guru saya, misal dari Kiai Ali Maksum, terus sampai sahabat sampai rasul. Atau seorang kiai mengajar itu darimana itu? Dijawab dari guru saya, guru saya, terus. Alquran misalnya dari Kiai Umar, itu dari gurunya terus ke atas sampai rasul.

Di pesantren ada namanya tarbiyatus sulukiyah, pendidikan sejati. Itu adalah pemberian bukan hanya nasihat tapi juga keteladanan. Anda perhatikan kalau di sekolah formal, nuwun sewu, kira-kira pendidikannya bagaimana? Meskipun kita sebut sebagai pendidikan. Kalau saya melihat, pendidikan formal yang ada pendidikannya, justru di TK dan PAUD, tapi di SD sana saya tidak melihat lagi di mana pendidikan.

Kalau di pesantren, sejak awal memang lembaga pendidikan, maka zaman dahulu pengajarannya tidak begitu penting seperti pendidikan.

Ada dua hal yang kita rancukan, antara pengajaran dan pendidikan. Dalam bahasa arab jelas, pengajaran (ta’lim) dan pendidikan (tarbiyah). Pengajaran tidak menjamin perubahan perilaku manusia, tetapi pendidikan lah yang mampu untuk merubahnya. Pengajaran hanya pemberian informasi. Kalau murid diberi tahu informasi sejarah, biologi, alquran dia jadi tahu. Tapi perilakunya, alquran atau tidak, itu bukan urusan ta’lim tapi urusan tarbiyah.

Makanya di pesantren ada ilmu manfaat ilmu yang diamalkan tidak sekedar ilmu. Pesantren zaman dahulu tidak hanya mencetak ilmuwan saja, tetapi diharapkan juga yang penting manusia yang berilmu yang saleh, artinya saleh itu mengamalkan ilmunya.

Di tahun baru ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari Pak Kiai?

Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar!

Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain. Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insyallah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi (sejak dalam ayunan hingga liang lahat,-red). **

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,56739-lang,id-c,halaqoh-t,Gus+Mus++Penting+untuk+Selalu+Membaca+Pergantian+Zaman-.phpx

Previous Older Entries