Derita Aisyah, Potret Tidak Akuratnya Pendataan Keluarga Miskin


Derita Aisyah, Potret Tidak Akuratnya Pendataan Keluarga Miskin

TIDAK TERSENTUH – Janda miskin Aisyah (45) puluhan tahun hidup di gubuk reyot berlantaikan tanah, di Kampung Kendal, Desa Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, tidak pernah tersentuh program bantuan pemerintah. Foto diambil Selasa (20/9).

KEBIJAKAN pemerintah memberdayakan orang miskin masih banyak mengalami hambatan. Seperti diketahui, pemerintah meluncurkan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) dalam bentuk pendidikan gratis lewat bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Murid (BKM), asuransi kesehatan bagi rakyat miskin, pembangunan infrakstruktur desa, dan juga program PKPS-BBM berupa pemberian bantuan kepada rakyat miskin dengan mengucurkan dana Rp 100.000 per keluarga miskin per bulan, selama satu tahun.

Pesimisme dan kesangsian berbagai pihak terkait ketidaktepatan sasaran berbagai program bantuan tersebut sangat beralasan. Validitas data orang miskin yang dipakai di Indonesia masih berstandar ganda. Di satu sisi pemerintah merekomendasikan data orang miskin yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), di sisi lain juga menggunakan data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Data yang dikeluarkan BPS juga tidak bisa menjamin akurat dan validitasnya. Sebab, masih banyak keluarga miskin yang ditemukan di wilayah pelosok yang luput dari pendataan.

Program yang dikeluarkan pemerintah an sich bertujuan baik dan mulia untuk mengatasi masalah kemiskinan dan berusaha meningkatkan martabat dan taraf hidup masyarakat yang selama ini bergelut dengan berbagai kesulitan ekonomi. Namun, jika pelaksanaannya tidak dibarengi perbaikan sistem pendataan, sistem pemantauan, dan sistem pengawasan, program itu akan sia-sia. Dana bantuan itu akan diselewengkan orang yang tidak bertanggung jawab, dan orang miskin akan bertambah miskin. Tidak mengherankan, konklusi miring soal program yang berkedok membantu orang miskin, mencuat ke permukaan.

ppp

Pengalaman pahit dialami keluarga miskin janda Aisyah (45) yang tinggal di desa terpencil, Kampung Kendal, Desa Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Aisyah yang sudah lima tahun menjanda ditinggal mati suaminya itu, tidak pernah tersentuh program bantuan pemerintah, baik itu kartu keluarga miskin (gakin) bidang kesehatan, maupun program beras untuk rakyat miskin (raskin). Ironisnya, tempat tinggal Aisyah tidak terlalu jauh dengan kantor desa setempat.

Puluhan tahun Aisyah tinggal di gubuk di pinggir selokan, persis di pinggir areal persawahan tadah hujan di Desa Margaluyu. Ditemui Selasa (20/9) lalu, ia menuturkan selama hidup tidak pernah didatangi petugas pemerintah desa, atau kecamatan. Bahkan ia sendiri terheran-heran ketika ditanya soal bantuan beras miskin, dan kartu gakin bidang kesehatan. “Apalagi bantuan uang Rp 100.000 per bulan itu,” ujar Aisyah yang memiliki lima anak itu.

Sehari-hari ia makan dari hasil jerih payah anaknya yang kedua, Saidy (25), seorang nelayan. “Penghasilan anak saya paling tinggi Rp 10.000 sehari. Kadang juga tidak dapat apa-apa. Uang itu untuk beli beras. Jadi kalau tidak ada uang, kami terpaksa makan nasi sisa yang sudah dibuang orang kaya. Nasi sisa itu kami jemur, kemudian dimasak kembali untuk makan kami,” ujarnya.

Aisyah tinggal di gubuknya dengan empat anaknya, seorang menantu serta dua cucu. Anak pertama Aisyah, Marsiah (30), sudah menikah dan memiliki dua anak yang masih kecil. Marsiah sejak enam bulan lalu pergi ke Arab Saudi untuk mengadu nasib sebagai tenaga kerja (TKW). Suami dan kedua anak Marsiah itulah yang tinggal bersama Aisyah.

“Anak saya yang pertama itu bersama suaminya tinggal bersama saya di rumah ini. Kalau tidak memiliki uang, kami bersama-sama menanggungnya. Kalau ada uang, kami nikmati bersama-sama. Saya hanya khawatir kalau dua anak saya yang masih kecil ini dan juga dua cucu saya, kelaparan. Setiap hari saya menjaga mereka di rumah,” ujar Aisyah, sambil menunjuk dua anaknya yang masih kecil, Sairi (9) yang duduk di kelas III SD, dan Tohir (5) yang belum sekolah, serta dua cucunya. Selain Marsiah dan Saidy, anak Aisyah yang lain, Sahrodin (15), sudah bisa membantunya mencari uang.

Penderitaan yang dialami Aisyah bersama keluarganya merupakan salah satu potret tidak akurat dan ketidaktepatan sasaran program bantuan yang diberikan pemerintah. Masih banyak “Aisyah” lain yang luput dari pendataan dan perhatian pemerintah.

http://202.169.46.231/News/2005/09/22/Nusantar/nus06.htm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: