Ribuan Warga Yogyakarta Karnaval Akbar Peringati 100 Hari Wafat Gus Dur


Ribuan Warga Yogyakarta Karnaval Akbar Peringati 100 Hari Wafat Gus Dur

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Warga Yoyakarta akan menggelar karnaval, pentas seni dan pengajian akbar untuk memperingati 100 hari wafat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Karnaval melibatkan 4 ribu seniman dan komunitas Tionghoa. Pengajian akan dihadiri Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siroj, Gubernur DI Yogyakarya Sri Sultan Hamengku Buwono X dan artis Ahmad Dhani.

“Karnaval digelar di sepanjang Jalan Malioboro, pengajian di Alun-alun utara Yogyakarta,” kata Munir Che Anam, ketua panitia peringatan, Kamis (8/4).

Rangkaian acara peringatan akan digelar pada Sabtu (10/4) mulai pukul 14.00 WIB hingga malam hari. Karnaval yang melibatkan seniman dan kalangan Tionghoa itu merupakan cara tersendiri bagi warga sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Gus Dur. “Sebab Gus Dur merupakan bapak bangsa yang membela kaum minoritas dan menjunjung tinggi Demokrasi,” kata Munir.

Gus Dur telah memberi banyak perubahan untuk bangsa, bisa memberikan warna baru perjalanan struktur dan fungsi negara serta sebagai paradigma kebangsaan. Masyarakat Tionghoa Yogyakarta terlibat aktif bersama Kaum Muda Nahdlatul Ulama dalam pringatan 100 hari wafat Gus Dur.

Menurut Ketua Perhimpunan Fu Qing (salah satu suku Tionghoa) Yogyakarta Sutanto Sutadiyo, masyarakat Tionghoa menganggap Gus Dur sebagai Tokoh yang benar-benar membela kamum Tionghoa di Indonesia yang dianggap minoritas.

“Kenapa kami mengangap Gus Dur sebagai pengayom kami, karena beliau lah yang menghapus diskriminasi terhadap warga Tionghoa,” kata dia.

Ia mencontohkan, diskriminasi dalam mengurus Kartu Tanda Penduduk dan paspor dipersulit dengan harus melampirkan surat kewarganegaraan. Selain itu seni khas Tiongho dan peringatan hari-hari suci Tionghoa tidak boleh secara terang-terangan.

Pihaknya mengibaratkan Shio Cina yang seharusnya 12 macam hanya menjadi beberapa macam saja yang diartikan berbeda. Contohnya, shio sapi diartikan sebagai sapi perahan, kuda sebagai tunggangan, kelinci sebagai hewan pecobaan dan kambing diartikan kambing hitam.

Ia menambahkan, keikutsertaan komuitas Tionghoa nonmuslim yang tidak bisa pengajian diwujudkan dalam ekspresi syukur dengan menggelar seni khas Tionghoa.
“Kami selalu mengingatkan jasa-jasa Gus Dur kepada warga Tionghoa,” kata dia.

MUH SYAIFULLAH

sumber :

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/04/08/brk,20100408-238897,id.html

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: