Tahlil 40 Hari Gus Dur Bergema di Penjara


Tahlil 40 Hari Gus Dur Bergema di Penjara

MALANG | SURYA – Minggu (7/2) malam ini, peringatan 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan digelar dengan pembacaan tahlil di makam mantan presiden RI itu, di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di sejumlah tempat lain di Jatim, juga digelar acara serupa.

Yang cukup istimewa adalah di Kota Malang. Di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Lowokwaru, 500 narapidana (napi) mengumandangkan kalimat tahlil di dalam penjara untuk mendoakan Gus Dur, Sabtu (6/2) pagi. Ke- 500 napi itu berbaur dengan para petugas LP di Masjid At Taubah di kompleks penjara.

Yang lebih istimewa lagi, tahlilan itu dipimpin seorang napi bernama H Abdul Azis. Bibirnya terus bergerak membaca lafal doa. Sesekali matanya terpejam.

”Kami melantunkan tahlil untuk Gus Dur yang kami anggap sebagai seorang pemimpin, kiai besar sekaligus pahlawan,” kata seorang napi kepada Surya, di sela-sela acara.

Kebanyakan napi yang mengikuti tahlilan memakai baju koko dan peci putih. Sebagian mereka yang tak memakai baju koko, datang dengan memakai baju terbaik mereka.

Sementara di samping pemimpin tahlil H Abdul Azis, duduk pula Kepala LP, I Wayan Sukarte, dan para sipir.

Mereka tenggelam dalam suasana khidmat, mengikuti kalimat tahlil yang lebih dulu diucapkan H Abdul Azis, narapidana tervonis hukuman 12 tahun penjara itu. Ketika tahlil sekitar satu jam itu usai, Surya sempat penasaran dengan napi yang memimpin tahlil tersebut. Ketika Surya mendekat hendak menyapa, ternyata H Abdul Azis yang terlihat sudah agak renta itu menyalami kemudian memperkenalkan diri.

”Anda belum kenal saya? Pernah dengar kasus pembunuhan Ketua Dewan Syuro PKB asal Lumajang KH Asmuni Ishaq tahun 2003, saya-lah salah satu pelakunya. Saya bersama napi yang lain di sini semua mendoakan Gus Dur, yang kami anggap sebagai seorang kiai besar, seorang pemimpin, dan seorang pahlawan,” kata H Abdul Azis.

“Bagi kami, Gus Dur adalah seorang auliya’ . Sudah seharusnya seorang auliya’ mendapat penghormatan dengan cara ini,” sambung H Azis.

Wayan, sang Kepala LP, mengatakan, pihaknya memang memberi kebebasan bagi napi untuk mengadakan acara ini. Kata Wayan, ide ini diutarakan oleh para napi sendiri belum lama ini.

“Pak, apakah kami boleh mengadakan tahlil untuk 40 hari wafatnya Gus Dur,” kata Wayan menirukan permintaan para napi.

Wayan mengatakan, tak ada alasan untuk menolak permintaan itu. Menurutnya, inilah bentuk penghormatan yang bisa dilakukan para napi. “Mereka itu kan juga rakyat seperti saya dan Anda. Mereka pernah dipimpin juga oleh Gus Dur. Dan inilah cara mereka menghormati pemimpin mereka itu,” ucap Wayan.

Para napi mengadakan pengajian dan istighotsah sebenarnya bukan barang baru di LP Lowokwaru. Tiap Kamis malam, para napi rutin mengadakan pengajian bersama. Bahkan, LP ini punya blok khusus yang sering disebut para penghuninya sebagai ‘blok pesantren’. Dan pemimpin blok pesantren ini adalah H Abdul Azis.

40.000 di GOR Ken Arok

Kegiatan untuk memperingati wafatnya Gus Dur tidak berakhir kemarin. Hari ini, Minggu (7/2), di GOR Ken Arok Kota Malang, sekitar 40.000 orang dari berbagai agama akan tumplek blek untuk mengenang Gus Dur.

Panitia mengerahkan segala upaya untuk mengamankan acara itu, antara lain, mengerahkan lebih dari 200 personel Banser. Tentu saja, kekuatan sebanyak itu kurang. Panitia juga dibantu ribuan petugas keamanan dari berbagai instansi. Menurut Drs Sutiaji, ketua panitia, mereka yang akan mengikuti kegiatan ini, antara lain, ribuan siswa SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA di bawah naungan Ma’arif bersama para guru, ribuan anggota dari seluruh ranting Muslimat, Fatayat, ranting NU, Ansor, PITI, dan lainnya.

”Selain itu, para tokoh dan komunitas lintas agama se-eks Karesidenan Malang juga kami undang,” papar Sutiaji, Sabtu (6/2).

Kegiatan ini juga dihadiri seorang pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang KH Sulton Abdul Hadi, sebagai wakil keluarga yang akan memberikan sambutan, dan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Pada kegiatan ini juga akan digelar testimoni tentang Gus Dur.

”Tujuan kegiatan ini mendoakan Gus Dur dan apabila Gus Dur punya kesalahan mohon dimaafkan. Selain itu juga untuk mengenang pemikiran-pemikiran Gus Dur,” pungkas Sutiaji Menurut Sutiaji, dalam peringatan hari ini akan ada testimoni pengagum Gus Dur dari Sudan.

Sejak Sudan dilanda pertikaian antaretnis di bagian selatan negeri Muslim di Afrika itu, PBNU telah beberapa kali diajak berembuk oleh pimpinan tetinggi negeri itu untuk menyelesaikannya. Saat ini terbilang puluhan mahasiswa Indonesia mendapat beasiswa untuk belajar di beberapa universitas di sana. Kedekatan secara agama dan budaya itu memungkinkan Sudan dengan Indonesia dan dengan pimpinan NU, khususnya untuk membicarakan berbagai persoalan bersama.

Dihadiri 41 Kiai

Sementara itu, Sabtu (6/2) malam usai salat Isya, Masjid Al Akbar Surabaya (MAS) dipenuhi para jemaah. Mereka hadir untuk mengikuti tahlil 40 hari meninggalnya Gus Dur dengan tema “Doa Masyarakat Muslim Jatim mengenang Sang Guru Bangsa”. Hingga pukul 20.00 WIB, saat Yasin dan tahlil mulai dikumandangkan, sekitar 3.000 jemaah terlihat duduk di ruang utama MAS.

Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Bukhori memimpin pembacaan Yasin dan tahlil yang pertama. Para jemaah itu berdatangan dari berbagai daerah. Tampak hadir sedikitnya 41 kiai antara lain KH Sholeh Kosim asal Sepanjang, Sidoarjo. Juga Kepala Kantor Kanwil Depag Jatim Drs H Imam Haromain Asyhari MSi.

Bagi jemaah yang hadir dan lewat di pintu samping, panitia membagikan buku yasin gratis. Juga tersedia meja yang menjual buku tentang Gus Dur karya Jaya Suprana berjudul “Gus Dur Presiden Akherat” yang dijual seharga Rp 50.000 per buku.

Usai pembacaan Yasin dan Tahlil, dilanjutkan pembacaan ayat suci Alquran, yang disambung sambutan dari panitia acara, H Indro Siswanto. Setelah itu, KH Solahuddin Wahid (Gus Solah), mewakili keluarga memberikan sambutan.

Gus Solah mengucapkan terima kasih kepada negara dan kepada seluruh masyarakat yang telah memberi perhatian besar pada meninggalnya Gus Dur.

Terakhir Gus Solah mengingatkan bahwa pluralisme yang diajarkan Gus Dur adalah pluralisme sosial, bukan pluralisme agama.

” Yang diajarkan adalah pluralisme hubungan kewargaan, bukan agama,” ujar Gus Solah.

Usai sambutan Gus Solah, giliran Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi memberikan tausyiah. “Ini sesuai dengan hadis yang berbunyi ‘Sebutsebutlah kebaikan-kebaikan orang yang sudah wafat,” kata Hasyim yang dilanjutkan dengan cerita awal perkenalannya dengan Gus Dur pada 1975. ab/rie

http://www.surya.co.id/2010/02/07/tahlil-40-hari-gus-dur-bergema-di-penjara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: