Kabar Indonesia: Banser NU dan Mimpi-Mimpi Buruk FPI


Kabar Indonesia: Banser NU dan Mimpi-Mimpi Buruk FPI

Postby Darwin Bahar » Tue Sep 30, 2008 5:26 am
Ramadan tahun ini adalah mimpi buruk bagi FPI. Selain Ketuanya ditahan dan diadili, aksi-aksi kekerasan mereka mulai mendapat perlawanan.

Sekitar tiga pekan yang lalu, sebuah TV swasta menayangkan demo anarkis sejumlah anggota ormas Islam di Purwakarta sebagai protes terhadap Bupati yang dianggap “menghina” Al-Qur’an. Kamera kemudian menyorot Kapolda Jabar yang baru selesai melakukan shalat tarawih dan masih menggunakan baju koko, mengecam aksi-aksi tersebut. “Kalau perlu tembak di tempat,” ujarnya geram.

Sedangkan pekan lalu, polisi menggelandang Laskar FPI di Tasikmalaya karena mengobrak abrik warung-warung nasi di siang hari. Entah mereka paham atau tidak, seruan berpuasa hanyalah untuk orang-orang beriman, dan pemilik warung-warung nasi itu tetap buka di siang hari hanya sekedar tetap bisa makan.

Tetapi mimpi buruk mereka yang sesungguhnya adalah ketika mereka menyerang Banser NU yang berada di bawah kendali KH Nuril Arifin (Gus Nuril), Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal, Rawamangun yang dikenal sebagai seorang loyalis berat Gus Dur yang ditugasi menjaga Nong Darol dari AKKBB dan 3 orang dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Kamis 25 September yang lalu yang datang ke pengadilan guna mengadukan perihal ancaman yang sering mereka terima saat menjadi saksi dalam persidangan kasus Monas. Sesuatu hal yang tidak aneh-aneh amat.

Ya tidak aneh-aneh amat. Guntur dan Nong Darol adalah tokoh-tokoh muda aktivis Wahid Institute, artinya orang-orang dekat Gus Dur, dan terlepas dari apapun alasannya, mengalami penganiayaan oleh anggota FPI. Nong Darol bahkan menurut pemberitaan Media mengalami pelecehan seksual. Apakah aneh, dengan atau tanpa persetujuan Gus Dur, Gus Nuril mengerahkan Banser yang berada di bawah kendalinya guna membacking AKKBB. Walaupun pengurus struktural Banser menyatakan tidak pernah menginstruksikan anggotanya untuk terlibat dalam kasus itu (detikNews Jumat, 26/09/2008 06:20 WIB), siapa perduli?

Belakangan Gus Dur memang mengalami kemunduran pamor politik, termasuk “kekalahannya” dalam legalitas PKB di MA, serta menyusutnya dukungan ulama Khos atau yang dikenal dengan Kiyai Langitan. Tetapi kecuali Ulama sekaliber KH Sahal Mahfud (TEMPO No. 32/XXXVII 29 September 2008) sangat sedikit di kalangan NU yang secara terbuka mengeritik atau menghadapi Gus Dur—yang pengaruhnya di kalangan nahdyian akar rumput masih sangat besar itu. Tidak juga Muhaimin Iskandar, ketua PKB yang saat ini berseberangan secara politik dengan Gus Dur. Tidak mengherankan tokoh-tokoh yang ingin masuk bursa Capres 2009 seperti Yusril, Rizal Ramli dan Sutrisno Bachir memerlukan sowan dan mengaku mendapat dukungan Gus Dur.

Menyadari implikasi penyerangan terhadap Banser NU tersebut, beberapa tokoh FPI seperti kebakaran jenggot dan menuduh AKKBB memecah belah umat Islam atau mengadu domba FPI dengan NU. Bahkan Habib Rizieq konon mengatakan bahwa FPI dan NU bersaudara

Tetapi mereka ini rupanya “lupa” terhadap peristiwa yang terjadi tahun 2005 yang lalu, ketika FPI yang dengan gagah mencoba menyerang Komunitas Utan Kayu yang dianggap sarang “Sipilis” (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), tetapi “balik kanan” di jalan Pramuka setelah mengetahui bahwa di luar pagar Komunitas Utan Kayu, dua ratusan polisi, dibantu Banser NU, Komando Keamanan Muhammadiyah dan warga sekitar berjaga-jaga.

“Front Pembela Islam itu bukan Nahdlatul Ulama. FPI itu didirikan oleh habaib. Jadi, FPI bukan NU, dan amaliahnya berbeda. Wong FPI itu Wahabi kok, sementara NU itu Ahlussunnah Wal Jamaah.” Tegas Rois Aam NU KH Sahal Mahfud dalam wawancara dengan TEMPO tersebut.

Walaupun tidak jelas benar apakah pernyataan Kiyai Sahal tersebut itu ada atau tidak ada hubungannya dengan konflik dan tindakan kekerasan yang dilakukan FPI terhadap AKKBB yang mulai melibatkan Banser NU, tentu hanya beliau yang tahu. Tetapi ucapan tegas ulama yang sangat dihormati Jamiah NU memberikan pesan adanya garis yang jelas antara NU dan FPI. Hal ini tampak jelas. bahwa FPI tidak pernah berjaya di kawasan-kawasan yang pengarush NU dan kiyai- kiyai NU sangat kuat seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Alih-alih malah FPI yang sering dibuat tunggang langgang diserang masa NU.

“Tanggal 12 Oktober kita (Banser) akan datang ke Jakarta dalam jumlah banyak. Tapi ini atas kesadaran anggota Banser,” ujar Gus Nuril usai mengikuti acara Konkow Bareng Gus Dur di Kedai Tempo, Jalan Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (27/9/2008 ), sebagai mana dilansir oleh Okezone.

Lebih jauh, mantan anggota pasukan berani mati itu menegaskan, kedatangan pasukan Banser ke Jakarta tidak ada hubungannya dengan Front Pembela Islam (FPI).

“Tidak, FPI terlalu kecil,” tegasnya enteng.

Pernyataan Habib Rizieq bahwa FPI dan NU “bersaudara” dinilai Gus Nuril sekedar basa basi saja. Pasalnya, jika benar bersaudara maka bentrokan antara FPI dan Banser di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis 25 September lalu, tak akan terjadi.

“Kalau menganggap saudara, sudah ada tulisan Banser seharusnya jangan diajak ribut. Sudah tahu Banser kenapa dikepung. Itu munafik saja,” tegas Gus Nuril.

Tetapi apakah FPI akan kapok dengan aksi-aksi brutalnya? Kita tunggu saja.

Mamun menurut saya belum.

Belum, selama para sponsor masih mensupport dari belakang. Belum, selama mereka masih merasa didukung sebagian umat.

Dukungan sebagian umat? Ya, tidak lebih dan tidak kurang.

Wassalam, Darwin
Depok, 30/9/2008

Darwin Bahar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: