Gus Dur di Mata Teman Mengaji di Pondok Pesantren Jombang


Sabtu, 02 Januari 2010 , 07:15:00
Jarang Mengaji, Tak Takut Adu Argumen dengan Gurunya
Gus Dur di Mata Teman Mengaji di Pondok Pesantren Jombang

KAGUM: Sebagai kakak tingkat dan guru ngaji, KH Ilham Makhal dan KH Khudlori hafal betul kebiasan Gus Dur. Keduanya kagum dengan kecerdasan dan keberanian Gus Dur.(jpnn)

Di mata teman-teman mengaji, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang humoris, kritis, dan ’’mbeling’’. Tak jarang dia mengajak debat dan ’’mengusili’’ kiainya. Suatu hal yang tabu bagi kebanyakan santri. Seperti apa?

ROJIFUL MAMDUH, Jombang

KH Ilham Makhal adalah senior KH Abdurrahman Wahid saat belajar di Mualimin, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Usia dia empat tahun lebih tua jika dibandingkan dengan Gus Dur.

Di mata KH Ilham Makhal, Gus Dur adalah orang yang senang guyon. Setiap pagi dia berpakaian rapi dan membaca koran, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan santri ketika itu. Suatu ketika, Ilham mengkritik perilaku Gus Dur tersebut. ’’Gus, sampeyan iku Gus kok maca koran. Seharusnya kan baca Quran,’’ ujarnya. Gus Dur pun langsung menjawab enteng, ’’Awakmu iku ngerti apa, Ham (Kamu itu mengerti apa Ham, Red).’’

Kebiasaan lain Gus Dur yang tak bisa dilupakan Ilham adalah kegemarannya menggoda orang. Bukan hanya teman-temannya, gurunya pun ikut digoda. Menurut Ilham, salahseorang gurunya, KH Khudlori, paling takut terhadap polisi. Gus Dur memanfaatkan hal itu untuk menggoda dia.

Suatu kali, saat KH Khudlori sedang makan, Gus Dur berteriak-teriak di luar. ’’Polisi, polisi,’’ ucap Ilham menirukan Gus Dur. Mendengar itu, sontak KH Khudlori lari masuk kamar meninggalkan makanannya. Namun, setelah tahu digoda, KH Khudlori kembali meneruskan makannya. ’’Ada-ada saja Gus Dur itu,’’ ucap KH Khudlori kala itu.

Gus Dur juga dikenal sangat kritis saat sekolah. Hampir setiap jam pelajaran dia menyampaikan pertanyaan, bahkan argumen baru. Termasuk beradu argumentasi walaupun hal semacam itu acapkali dianggap tabu di lingkungan pesantren. Sebab, seorang santri diharuskan tawaduk kepada kiai yang dimaknai sebagai ketaatan mutlak.

’’Kalau tidak disampaikan sendiri, Gus Dur minta temannya menyampaikan bantahan dan kritiknya,’’ ujar pria 73 tahun itu. Suatu ketika, salahseorang guru menerangkan pelajaran mantiq atau logika. Ada rumus yang menyatakan al-alamu haditsun, kullu haditsun makhluk (alam itu baru dan setiap yang baru adalah ciptaan). Mendengar itu, Gus Dur lantas meminta temannya bertanya. ’’Dahulu mana antara alam dan baru.’’

Gus Dur, kata Ilham, tidak pernah takut. Kepada siapa pun, Gus Dur berani menyampaikan koreksi. Termasuk kepada sang kakek, KH Bisri Syansuri, yang juga pendiri PP Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang. Gus Dur sempat mengaji langsung kepada sang kakek. Suatu ketika, KH Bisri membaca kitab halaman 11. Padahal, semestinya, yang dibaca adalah halaman 14. ’’Gus Dur langsung angkat tangan dan menyampaikan koreksi agar Kiai Bisri membaca halaman 14,’’ kisahnya.

Keberanian itu pula yang ditunjukkan Gus Dur dalam menghadapi rezim Orde Baru. Sebelum era reformasi, Gus Dur sudah sering menyampaikan kritik kepada kepemimpinan Orde Baru. Padahal, kala itu, Presiden Soeharto sangat kuat. ’’Sekitar 1996, saya pernah mengantar Gus Dur ceramah di Solo yang banyak menyampaikan kritik untuk Orde Baru. Tapi, itu dengan bahasa sindiran dan menggugah kesadaran masyarakat,’’ paparnya.

Dalam kenangan Ilham, Gus Dur juga memiliki sisi-sisi mbeling. ’’Tapi, cocok dengan kepintarannya,’’ tambahnya.

Saat di Tambakberas, Gus Dur juga mengikuti pengajian KH Fattah yang tak lain adalah pamannya. KH Fattah biasa mengaji dengan bersandar tiang. Di belakang tiang itu terdapat undhak-undhakan (tangga). Gus Dur biasa meletakkan kitabnya di tangga tersebut. ’’Tapi, saat pengajian sudah dimulai, Gus Dur masih juga tidak kelihatan. Ketika dipanggil teman-temannya agar ikut mengaji, dia dengan enteng menjawab, ’Kitabku sudah ikut ngaji’,’’ tuturnya

Meski demikian, penguasaan kitab kuning Gus Dur luar biasa. ’’Kitab apa pun bisa. Saya belum melihat kiai yang semahir dia dalam penguasaan kitab kuning. Khususnya di Jawa,’’ terang Ilham yang kerap diajak Gus Dur menghadiri berbagai kegiatan.

Pendidikan politik Gus Dur, menurut dia, juga sangat bagus. ’’Gus Dur sering mengatakan bahwa politik itu tutup dan isinya beda,’’ ungkapnya.

Kalau orang masih bisa mengetahui tutup dan isinya sama, berarti politiknya belum matang. Itu pula yang membuat dia kukuh di barisan PKB kubu Muhaimin, sebelum akhirnya terjadi perseteruan. ’’Menurut dia, ya itu cara Gus Dur mendidik. Coba aku musuhi Muhaimin, apa dia bisa,’’ beber anggota Dewan Syura DPC PKB Jombang kelahiran 1936 itu.

’’Pesannya kepada saya agar selalu jujur dan temen (sungguh-sungguh, Red). Sebab, itu sangat langka sekarang ini,’’ tuturnya.

Dia juga banyak mendapat cerita dari Gus Dur. Termasuk tentang studinya di Mesir dan Iraq. ’’Gus Dur bilang hanya empat bulan di Al-Azhar. Dia tidak kerasan karena semua yang diajarkan sudah dia peroleh di Mualimin,’’ urainya.

Karena itu, dia pindah ke fakultas sastra di Baghdad. Dia menilai, itu yang paling bagus. Sebab, untuk bisa masuk harus hafal 1.500 bait syair bersama notnya. ’’Gus Dur memenuhi kualifikasi itu. Makanya, (dia) bisa masuk. Tapi, setelah empat tahun, menjelang ujian akhir, dia keluar begitu saja sehingga tidak mendapatkan ijazah. Dia bilang, ijazah tidak penting karena sudah dapat ilmunya,’’ ujarnya. Karena itu, Gus Dur tidak pernah punya ijazah. Termasuk saat keluar dari Mualimin, Tambakberas.

Gus Dur senang menghadapi apa pun dengan gurauan. Ilham pernah menggojlok dia. ’’Gus, sampeyan itu tidak akan bisa jadi kiai. Sudah tua, bapak sudah tidak ada, tapi masih saja dipanggil Gus. Saya saja kadang-kadang sudah dipanggil kiai,’’ gurau Ilham.

Gus Dur tertawa lepas mendengar itu sambil berucap, ’’Lha pancen kowe tukang nyuwuk,’’ ucap Gus Dur, lantas meneruskan tertawanya.

Ilham mengatakan tidak pernah meminta apa pun kepada Gus Dur. Meskipun, setiap datang ke Jakarta dirinya diterima hangat oleh Gus Dur, walau Paspampres melarang. ’’Gus Dur juga beberapa kali mampir dan menginap di sini,’’ ucap Ilham sambil menunjuk kamar terdepan rumahnya.

Ilham hanya sambat Gus Dur pada 2003. Saat itu dia hanya mampu melunasi biaya haji untuk diri sendiri. Sementara untuk istrinya, dia belum bisa. Biaya haji kala itu Rp 22,6 juta. Dia sudah lunas. Tapi, istrinya kurang Rp 20 juta. Agar bisa berangkat bersama sang istri, akhirnya Ilham wadul ke Gus Dur. ’’Dalam waktu tiga hari, Gus Dur melunasi kekurangan biaya itu.’’

Ilham banyak memiliki kenangan masa remaja bersama Gus Dur. ’’Waktu main bulu tangkis, saya pernah men-smash sampai bagian tengah kacamatanya retak. Ternyata dia juga masih ingat itu. Dulu dia juga suka menggoda saya dan pernah saya pisuhi,’’ bebernya. (*)

http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=48733

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: