Langkah Kebangsaan Gus Dur selalu Based on Constitution


Langkah Kebangsaan Gus Dur selalu Based on Constitution

JAKARTA-GUSDUR.NET. Banyak orang menilai langkah-langkah kebangsaan Presiden ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering keluar dari pakem dan jalur konstitusi. Namun, jika dilihat lebih dalam justru sebaliknya. Apa yang dilakukan Gus Dur semasa menjabat presiden selalu based on constitution. Termasuk, detik-detik terakhir ketika Gus Dur dilengserkan, hingga proses lahirnya dekrit Presiden Abdurrahman Wahid.

Demikian dikatakan mantan Juru Bicara Presiden era Presiden Wahid M. Adhie Massardi saat menjadi pembicara dalam acara Tadarus Kolom Gus Dur (TKGD) di Kantor Wahid Institute di Jalan Taman Amir Hamzah No. 8 Jakarta, Jumat sore (18/6). Selain Adhie-begitu ia akrab disapa-turut hadir Menko Perekonomian era Presiden Wahid Rizal Ramli. Keduanya didapuk sebagai pembicara dalam acara TKGD pada Jumat ke-6 yang mengangkat tema “langkah-langkah Kebangsaan Gus Dur”.

Menurut Adhie kenapa musti muncul dekrit di era Presiden Wahid, itu dilakukan oleh Presiden bukan tanpa alasan. “Dalam ‘pertarungan-pertarungan’ seperti lahirnya dekrit tempo hari itu basisnya konstitusi,” tegasnya.

Gus Dur, kata Adhie, selalu bilang bahwa dekrit ini sebenarnya dimulai dari rapat para pimpinan partai di Kebagusan (kediaman Megawati -red) yang siap mengganti pimpinan nasional. “Itu sudah langsung menjadi kudeta. Jadi secara konstitusi presiden punya kewenangan untuk melakukan (dekrit -red) ,” tambah Adhie meyakinkan.

Satu hal lagi yang menarik dari politik kebangsaan Gus Dur adalah saat dimana Gus Dur sebagai Presiden membentuk kabinetnya. Sebagaimana diceritakan Adhie, Gus Dur punya cara sendiri dalam menilai seseorang untuk diangkat menjadi pembantunya di Kabinet. Misalnya ketika memilih Menteri Pertahanan. Banyak orang yang tidak tahu cerita di balik penunjukkan Mahfud MD menjadi Menteri Pertahanan.

Adhie membeberkan bagaimana Mahfud MD dipilih Gus Dur karena pernah menjadi pembicara dalam sebuah forum panitia ad hoc di MPR. “Dia pernah mendengar ada Mahfud MD di MPR sebagai salah satu pembicara dalam panitia ad hoc. Dia tertarik gagasannya, pikirannya kayanya sesuai, kemudian dia ambil, (pola penunjukan menteri ini -red) orang nggak tahu,” beber pencipta sajak “Negeri Para Bedebah” ini.

Ekonomi Kerakyatan

Jika Adhie bicara politik kebangsaan Gus Dur, maka Rizal Ramli bicara ekonomi. Menurut pengakuan Rizal, jarang sekali pemimpin yang paham ekonomi seperti halnya Gus Dur. Kalau ditanya garis pemikiran ekonomi Gus Dur, jawabannya sederhana, yakni keberpihakan ekonomi kepada yang lemah atau sering dikenal dengan ekonomi kerakyatan. “Esensinya itu sederhana, keberpihakan kepada yang nggak kuat, yang lemah, yang nggak punya kesempatan. Tanpa perlu memusuhi orang yang lebih kuat, besar atau lebih hebat,” ungkap Rizal sembari mengkritik penulisan biografi Gus Dur ala Greg Barton yang kurang memahami duduk pemikiran Gus Dur di bidang ekonomi.

Lebih lanjut, pendiri ECONIT Advisory Group ini mencontohkan ekonomi Indonesia laiknya gelas. Pertama, yang di atas. “Yang sudah 10 persen bahkan mencapai 20 persen, yang memang sudah lumayan mampu,” paparnya. Kedua, golongan menengah yang nggak banyak. “Dan sisanya golongan di bawah ini, banyak sekali kelompok-kelompok marginal, orang yang hidupnya pas-pasan. Ini yang mayoritas,” kata pria yang juga pernah menduduki Kepala Bulog di era Presiden Gus Dur.

Yang mayoritas ini, tambah Rizal, adalah kaum Nahdliyin. Karenanya Gus Dur menyadari betul kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia. “Kalau bicara pertumbuhan ekonomi Dia nggak suka ngomongin GDP naik sekian persen, sekian persen. Itu kan semua rata-rata,” sanggah mantan aktivis mahasiswa yang pernah dibui rezim Orba pada tahun 1978 ini.

Karenanya, Doktor ekonomi jebolan Boston University ini mengakui tak banyak pemimpin yang menyadari kondisi ekonomi ini. Karena memang mereka tidak terlalu memahami soal ekonomi atau tutup mata. Gus Dur menginginkan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada golongan bawah supaya bisa naik kelas. “Secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada konstituennya Gus Dur, yaitu kelompok Nahdliyin,” tandasnya.

Tadarus kali ini adalah rangkaian Jum’at keenam yang secara khusus mendatangkan orang-orang terdekat Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden, yakni mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli dan Mantan Juru Bicara Presiden M. Adhie Massardi. Pertemuan sebelumnya mengangkat tema “Gus Dur dalam Sorotan Media” dengan pembicara Wimar Witoelar yang juga mantan juru bicara Presiden Wahid. Direncanakan pertemuan Jumat selanjutnya Andreas Harsono didapuk menjadi pembicara dengan tema Gus Dur dan Gerakan Sosial. (wrf)

http://www.gusdur.net/Berita/Detail/?id=476/hl=id/Langkah_Kebangsaan_Gus_Dur_Selalu_Based_On_Constitution

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: