Nyicipi Rejeki Gus Dur


Nyicipi Rejeki Gus Dur

BANYAK predikat yang melekat pada KH Abdurrahman Wahid. Putra KH Wahid Hasyim yang akrab dengan panggilan Gus Dur ini selain dikenal sebagai mantan Presiden RI, mantan Ketua Umum PBNU, mantan Ketua Umum PKB, juga dikenal sebagai Guru Bangsa. Sebagai ulama kharismatik Gus Dur bahkan sering dianggap sebagai wali.

Predikat yang terakhir itu, mengundang kontroversi. Tetapi satu hal yang sulit disangkali, sosok cucu ahli hadist pendiri NU KH Hasyim As’ari itu sepanjang hidup memang menjadi talang rejeki bagi banyak orang. Di tingkat nasional, beberapa tokoh namanya mendadak terangkat namanya karena kebesaran nama Gus Dur.

Tak kurang, sejumlah tokoh nasional mengaku mendapat karomah derajat kepangkatan dari Gus Dur. Di antaranya mantan Wapres Jusuf Kalla, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, Mantan Menteri Luar Negeri Alwy Shihab, Ketua Umum PBNU H Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKNU H Choirul Anam, dll. Bahkan Presiden SBY.

Di tingkat provinsi pun demikian. Bahkan di level terbawah, tidak sedikit orang terdongkrak ekonominya karena menjadi simpatisan Gus Dur. Mereka adalah para pembuat banner, poster dan gambar-gambar foto Gus Dur.

Yang terakhir itu, saya termasuk yang pernah mendapat rejeki melimpah. Percaya atau tidak, ini sebuah kisah nyata yang saya alami. Suatu saat ketika masih bertugas sebagai wartawan sebuah surat kabar, saya secara tak terenana memotret Gus Dur. Waktu itu, Gus Dur yang baru beberapa bulan terpilih menjadi Presiden RI menghadiri sebuah acara di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo.

Dengan kamera jadul, Vivitar V3800N Multi-Exp dengan Macro Focussing Zoom 28-70 mm, saya memotret Gus Dur dari jarak sekitar 20 meter. Gus Dur yang duduk di deretan kursi depan bersebelahan dengan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, nampak santai.

Saya melihat ekspresi Gus Dur saat sedang berbicara dengan KH Hasyim Muzadi. Tanpa sadar saya mengklik tombol pelatuk kamera saya saat KH Hasyim Muzadi dengan wajah serius menceritakan sesuatu sedikit membungkuk kewajah Gus Dur. Sementara Gus Dur dengan santainya menggaruk-garuk telinga kanannya sambil tersenyum beberapa kali.

Malam setelah memotret Gus Dur itu saya bermimpi. Maaf, Gus Dur dalam mimpi saya terlihat sedang buang air kecil di bawah pohon mangga depan rumah saya. Saya menegur. “Gus, panjenengan kok pipis sembarangan,” kata saya. Tapi Gus Dur cuma tersenyum. Sambil mengulurkan tangan untuk mengajak berjabat tangan.

Beberapa hari setiap mengingat mimpi saya itu, saya tertawa dan tak segan-segan menceritakan kepada tetangga dan rekan. Saya benar-benar terkesan. Kiai yang terkenal humoris itu ternyata juga piawai membuat orang tersenyum sampai melalui alam mimpi.

Anda masih ingat sosok H Susanto (almarhum), mantan Danrem Malang yang aktif dalam dunia persepakbolaan, terutama Persebaya. Suatu pagi saya terkejut menerima telepon darinya. “Mas, foto Gus Dur yang termuat di halaman 16 (menyebut nama koran tempat saya bekerja) itu karya sampean?” katanya.

Saya mencari halaman koran yang memuat foto itu. Setelah mencermati foto itu benar-benar karya saya, saya membenarkan. H Santo, panggilan akrab almarhum, meminta saya mencetak 2 lembar ukuran 32 R. Di luar dugaan, di memberi imbalan Rp 4 juta untuk foto lengkap dengan pigoranya. Sempat menolak, tetapi almarhum memaksa.

Peristiwa itu membuat saya merasa amazing. Saya berkali-kali mencermati lagi foto saya. Apa menariknya? Apalagi H Santo memesan lagi. Kali ini 4 lembar dengan ukuran yang sama dan dia memberi imbalan Rp 10 juta. “Maf Pak, sebenarnya foto itu untuk dikirim kemana?” saya akhirnya terpaksa bertanya.

Almarhum tidak merinci kemana saja foto itu dikirim. Yang jelas, katanya, foto itu sangat menarik. “Ekspresi Gus Dur dalam foto itu benar-benar membuat yang melihat jadi merasa tenteram,” ungkapnya.

Awalnya saya menganggap ungkapan H Santo hanya sekedar joke. Maka esoknya, ketika kebetulan saya berbincang dengan H Hasan Aminuddin MSi, waktu itu masih Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo, saya ceritakan lagi joke itu sebagai bumbu obrolan. Lagi-lagi di luar dugaan, obrolan mengenai Gus Dur menyita perhatian. “Coba lihat fotonya,” kata Bindere Hasan, panggilan akrab H Hasan Aminuddin yang belakangan sempat menjabat Ketua DPW PKB Jatim dan terpilih sebagai Bupati Probolinggo hingga hari wafatnya Gus Dur.

Entah apa yang dilakukan Bindere Hasan terhadap foto itu. Yang jelas, beberapa hari setelahnya saya mendapat pesanan sangat banyak. Di antaranya dari pondok pesantren, dari simpatisan Gus Dur, dari kiai-kiai. Bahkan Bindere Hasan sendiri memesan puluhan cetakan berukuran 10 R dan 36 R lengkap dengan pigoranya.

Saya lupa medapat untung berapa dari pesanan-pesanan itu. Karena datangnya pesanan memang tidak serentak. Tetapi yang bisa saya pastikan, karena pesanan foto-foto itu saya bisa membeli sebuah mobil Suzuki Kotrik keluaran tahun 1981, mobil pertama yang mampu saya beli, dan merenofasi rumah dari tipe 45/120 menjadi berlantai dua 160/120. Yang menarik, rumah itu tidak menggunakan dak beton. Dak yang memisahkan lantai 1 dan 2 saya buat dari bahan kayu jati setebal 5 cm. Begitu juga plafonnya saya buat dari bahan kayu jati setebal 1 cm.

Saya bukan termasuk orang yang percaya pada mimpi. Tetapi setelah mendengar berita duka bahwa Gus Dur telah wafat, rasa kehilangan itu tiba-tiba muncul. “Oalah Gus. Saya bukan orang yang engkau kenal. Kalau Gusti Allah menjadikan sosokmu sebagai signal datangnya rejeki untuk keluargaku, tentu bukan tanpa alasan,” pikir saya. Selamat jalan Gus Dur, semoga Allah SWT menggantikan dengan keberuntungan akhirat yang berlebih. Amiiin

sumber :

http://www.zonaberita.com/inspirasi/nyicipi-rejeki-gus-dur.html/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: