Gus Mus: Kalau Jadi Orang, Mereka Khianati Gus Dur


Gus Mus: Kalau Jadi Orang, Mereka Khianati Gus Dur

Mengenang perjuangan Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB alm. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk rakyat, bangsa dan Negara ini terlalu banyak untuk bisa dibicarakan. Yang pasti kelebihan Gus Dur selalu mengorbitkan orang dan beliau tahu orang yang akan diorbitkannya akan menjadi orang. Hanya saja begitu sudah menjadi orang banyak diantara mereka yang lupa bahkan ada yang tega mengkhianatinya. Itu ironisnya, mereka tidak merasa diorbitkan oleh Gus Dur.

“Saya sendiri sampai menjadi Wakil Rais Aam PBNU dan dikenal sekarang ini juga diorbitkan oleh Gus Dur. Juga Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj diorbitkan oleh beliau. Dulu ada Pak Matori Abdul Djalil dan masih banyak nama yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Sayang, banyak pula diantara mereka kalau sudah menjadi orang lupa dengan jasa Gus Dur. Bahkan ironinya ada yang tega berkhianat,” tandas Wakil Rais Aam PBNU yang juga sahabat dekat Gus Dur, KH. Mustofa Bisri pada peringatan hari lahir, Milad Gus Dur ke-70 tahun di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (7/8/2010) malam.

Hadir antara lain Hj. Shinta Nuriyah Wahid, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny) dan keluarganya, KH. Muchith Muzadi, KH. Said Aqil Siradj, Yahya Cholil Tsaguf, Ulil Abshar Abdalla, KH. Hamdun Ahmad, KH. Noer Muhammad Iskandar, Habib Hasan, Ali Masykur Musa, Abdullah Azwar Anas, Rahmawati Soekarnoputri, Adhi Massardi, DPP PKB Gus Dur dan ribuan umat.

Namun demikian lanjut Gus Mus, meski tahu dirinya dikhianati, beliau tidak pernah mempunyai rasa benci apalagi dendam. Bahkan suatu ketika banyak orang sengaja menjual namanya untuk kepentingan pribadi, Gus Dur bilang,”Gak masalah biarin saja, gitu saja kok repot,” katanya. Gus Dur memang sejak muda sudah memikirkan Indonesia. “Sejak belajar di Al-Azhar Mesir sampai ke Universitas Baghdad, Irak. Sepulang dari belajar beliau sudah mencatat nama-nama sahabatnya yang akan ditemui di Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk diajak bicara soal Indonesia ke depan. “Jadi, sejak dulu Gus Dur sudah mementingkan kepentingan bangsa dan Negara ini daripada dirinya sendiri. Karena itu ketika menjadi pimpinan NU diundang oleh anak cabang ranting NU pun beliau datang ke pelosok daerah. Karena itu jangan mengatasnamakan rakyat jika hanya ongkang-ongkang di DPR tapi warganya yang dilihat hanya di Jakarta,” tutur Gus Mus lagi.

Gus Dur itu memang zuhud, sederhana. Bahkan tidak pernah mempunyai dompet, apalagi ATM. “Saya saja sebagai Wakil Rais Aam PBNU masih punya dompet, ATM dan terus bawa uang. Lalu bagaimana ketika Gus Dur menjadi presiden dan tidak bisa melihat uangnya? Yang tahu uang berikut jumlahnya adalah orang-orang sekitar Gus Dur sampai beliau wafat. Jadi, sangat besar jasa Gus Dur pada bangsa ini. Beliau tidak pernah mengeluh capek dalam berjuang. Dulu, Mbah Hasyim Asy’ari juga sangat zuhud. Suatu ketika istrinya mencuci beras dengan memilih batu-batu di tengah berasnya untuk dibuang, ketika beras itu dicelup ke air kemudian menjadi emas. Istri beliau kaget. Tapi, Mbah Hasyim malah meminta agar emas itu dibuang ke kali dan meminta keluarganya berpuasa atas peristiwa itu,” cerita Gus Mus lagi.

Dengan demikian Gus Mus berpedan kepada Yenny, agar tidak terlalu serius-serius (nemen-nemen) memikirkan PKB. Karena PKB itu bagi Gus Dur sangat kecil. Bahwa Gus Dur tokoh besar yang menegakkan ajaran Islam, demokrasi, kemanusiaan, cerdas, pintar dan lebih penting lagi berani berhadapan dengan penguasa. “Muktamar NU Cipasung 1994 adalah bukti adanya campur tangan penguasa. Tapi, para kiai termasuk yang berseberangan semuanya kompak jika Gus Dur wajib didukung kembali untuk memimpin NU. Sekarang ini banyak orang pinter, tapi penakut. KH. Said Aqil Siradj tidak diragukan lagi kepintarannya bahkan tidak ada lagi kiai-kiai yang menyaingi kepandaiannya, tapi hanya kurang berani,” katanya mengingatkan.

Selain berani lanjut Gus Mus, Gus Dur itu rajin silaturahmi ke kiai-kiai meski di pelosok kampong. Itulah antara lain yang menjadikan hidupnya berkah dan keberkahan itu dinikmati oleh bangsa Indonesia. Bukan saja umat Islam, melainkan seluruh bangsa ini. “Jadi, saya berpesan kepada Yenny, untuk rajin silaturahmi kepada kiai-kiai. Jangan terlalu serius memikirkan PKB, karena PKB itu terlalu kecil bagi Gus Dur,” tutur deklarator PKB itu.

KH. Muchith Muzadi, 86 tahun yang juga deklarator PKB sependapat, jika PKB terlalu kecil bagi Gus Dur. Demikian pula dia mengingatkan KH. Said Aqil Siradj agar tidak takut dengan pemerintah jika memang kebijakannya tidak berpihak kepada rakyat dan bangsa ini. “Kalau Gus Dur kan jelas, ya inter, ya kendel, berani. Semoga Yenny mengikuti perjuangannya Gus Dur. Sebab, saya melihat Yenny ini ingat Gus Dur, ingat KH. Wahid Hasyim dan ingat Mbah Hasyim Asy’ari. Saya bertahun-tahun menjadi santri di Tebuireng. Semoga ada generasi penerus Gus Dur di masa-masa mendatang. Sebab, sangat sulit mencari satu tokoh pun di negeri ini yang seperti Gus Dur,” ungkap KH. Muchith Muzadi.

KH. Said Aqil Siradj dalam sambutannya menyimpulkan jika Gus Dur menginginkan semua rakyat Indonesia ini sama-sama merasakan yang sama. Yaitu, jika harus keparan, maka lapar semua dan kalau senang, maka seluruh rakyat ini senang semua. “Itulah Gus Dur yang selalu ingin bersama-sama dengan rakyat,” ujar Said. Sedangkan menjawab kritik Gus Mus dan KH. Muchith Muzadi yang menilai kurang berani dalam memimpin NU sekarang ini, Said Aqil mengatakan,” Sudah, tadi sudah sudah disampaikan, saya pasti berani,” katanya sambil tersenyum.

Dalam sambutannya Yenny juga menyayangkan perkembangan politik saat ini yang serba kamuflase, banyak kemunafikan, pengkhianatan dan hanya pencitraan. Semua itu kata Yenny, hanya bukan salah pemerintah, presiden dan politisi, melainkan salah kita semua, karena kita telah membiarkan politik kapitalis yang semuanya serba uang. Sehingga politik menjadi mahal dan hanya orang-orang yang beruang saja, yang bisa muncul sebagai pimpinan Negara ini. “Politik kita sudah menjadi lingkaran setan. Karena itu Indonesia ini butuh inspirasi untuk merubah semua itu yang harus dimulai dari diri sendiri. Khusus PKB, kami sekeluarga memohon agar Gus Dur menjadi milik keluarga dan dikembalikan kepada keluarga. Karena itu symbol dan gambar-gambar Gus Dur jangan dijadikan kepentingan politik lagi,” katanya berharap.[ach/ss]
sumber :

http://www.seruu.com/index.php/2010080823853/utama/politik/gus-mus-kalau-jadi-orang-mereka-khianati-gus-dur-23853/menu-id-690.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: