KH. Abdurrahman Nawi


KH. Abdurrahman Nawi

Ulama Antik Betawi

Dialah ulama antik Betawi yang masih konsisten di jalan dakwah. KH Abdurrahman Nawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin ini mendapat julukan ulama antik, karena pokok pikirannya sejalan dengan pemerintah dan juga para ulama
Bagi kalangan ulama dan habaib di tanah Betawi ini tentu banyak mengenal KH Abdurrahman Nawi, salah seorang ulama sepuh yang masih konsisten berdakwah.

Sekalipun usianya sudah mulai dibilang senja, memasuki umur 70 tahun ini, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin ini masih mengasuh sekitar 31 majelis taklim yang ada di Jakarta ini.

Ceramahnya yang sarat dengan kandungan nilai-nilai dan pesan moral yang kukuh di atas pandangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah membuat banyak jamaah yang ada di tanah Betawi ini kerap mengundangnya.

Dan uniknya, dalam setiap acara yang dihadirinya KH Abdurrahman Nawi sering duduk bersama dengan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Habib Husein bin Ali bin Husein Alattas. Karena sering bertemu dalam sebuah acara, ketiga ulama Betawi ini oleh H. Hamzah Haz (Ketua DPP PPP dan saat itu sedang menjabat sebagai Wakil Presiden RI) pernah menjuluki mereka ulama “Tiga Serangkai”.

Lepas mendapat julukan Ulama “Tiga Serangkai” Betawi dari orang nomor 2 RI itulah, akhirnya kemana-mana mereka selalu bertiga, utamanya dalam acara-acara keagamaan yang banyak digelar oleh kalangan habaib, pemerintah ataupun masyarakat yang ada di Jakarta ini.

“Walau tidak janjian terlebih dahulu, panitia biasanya mempertemuka kita di sebuah acara. Kadang juga, kita janjian terlebih dahulu lewat telepon dan akhirnya sering ketemu bareng,” katanya sambil tersenyum.
Kedekatan KH Abdurrahman Nawi dengan Habib Ali dan Habib Husein sebenarnya telah terjalin sudah sangat lama.

Sebab ia pernah belajar dengan abah dari Habib Ali yakni Habib Abdurrahman bin Abdul Qadir Assegaf (Madrasah Tsagofah Al-Islamiyah, Bukit Duri) dan abah dari Habib Husein yakni Habib Ali bin Husein Alatas (Habib Ali Bungur, Bungur). “Saya sangat menghargai mereka (Habib Ali dan Habib Husein.

Walau bukan ayahnya, saya menghormati anaknya sama seperti dengan menghormati ayahnya, karena mereka adalah putra dari guru –guru saya,” kata KH Abdurrahman Nawi.
Sementara itu, Wali Kota Jakarta Selatan pada tahun 80-an, yakni H Mukhtar Zakaria, SH pernah menjulukinya sebagai ulama antik kepada bapak tiga belas anak (7 putra, 6 putri) ini.

Sebutan sebagai ulama antik dilekatkan pada diri KH Abdurrahman Nawi, bukan tanpa alasan. Pokok-pokok pikirannya terbilang antik pada masa itu, di mana setiap gagasannya sejalan dengan program pemerintah dan juga jabatan ulama yang melekat pada dirinya.

Terlepas dengan berbagai julukan yang dilekatkan kepada KH Abdurrahman Nawi itu tidak membuatnya semakin menutup diri dari berbagai aktivitas keagamaan, justru ia semakin dekat dengan berbagai kalangan, tidak saja pejabat teras sampai ke kalangan masyarakat awam.

Itulah sikap dan prinsip hidup dari ulama Betawi putra kesepuluh dari sebelas bersaudara pasangan H Nawi bin Sueb dan Hj Ainin binti H Rudin.

Abuya Abdurrahman Nawi adalah sosok ulama, dai dan pengajar ulama yang komplit. Ia pernah di Mahad Ali As-Syafi’yah KH Abdullah Syafi’i (Jatiwaringin) dan juga di Darul Arkom. Jabatan di kemasyarakatan yang pernah ia pegang adalah sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama Cabang Jakarta Selatan. Dalam sepuluh tahun terakhir ia menjadi salah satu anggota Dewan Penasehat MUI Pusat (1997-sekarang).

Sejak kecil ia telah dididik dalam lingkungan yang sarat religius. Sebagaimana santri-santri, waktunya dihabiskan untuk mengaji dengan ulama-ulama Betawi yang ada pada masa itu. Ia berguru KH Siman (Tebet), KH Ghozali, KH Mohmmad Natsir, KH Mohammad Zein bin H Said, KH Muhammad Yunus, KH Ahmad Junaidi, KH Mahmud, KH Abdullah Syafi,i (Balimatraman), Ustadz Hadi Jawas, Syekh Abdullah Arfan (Tanah Abang) dan lain-lain.

Ulama Betawi yang paling berkesan baginya adalah KH Muhammad Yunus (Tebet), ia merupakan guru banyak bidang agama utamanya ilmu-ilmu paramasastra bahasa Arab. “Dari beliau saya banyak belajar tentang Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf dan Lughah.” Sedang dalam ilmu balaghah, ma’ani, bayan ia banyak menyerap ilmu dari Prof. KH Ali Yafie (Mantan ketua MUI) di rumahnya yang terletak di Rawamangun.

Sebagaimana ulama-ulama Betawi lainnya, ia juga banyak belajar dengan kalangan Habaib seperti Habib Ali bin Husein Alattas, Habib Abdullah bin Salim Alattas, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad, Habib Husein Al-Habsyi, Habib Syekh Al-Musawwa dan lain-lain.

Guru dari kalangan Habaib yang banyak menempanya menjadi seorang dai yang handal adalah Habib Ali bin Husein Alattas (Habib Ali Bungur). Melalui sentuhan tangan dingin dari habib karismatik Betawi tahun 1960-an itu, ia banyak belajar tentang cara –cara berdakwah. Mulai metode, materi sampai cara penyampaian ceramah kepada ummat.

Setelah dirasa cukup mendapat didikan dan ijazah dakwah dari Habib Ali Bungur, tak berarti ia berhenti belajar. Pada tahun 1960-an ia berangkat haji sekaligus belajar dengan beberapa ulama yang ada di sana seperti Syekh Abdul Qadir Mandailing, Syekh Husein Al-Fatani. Di tanah suci itu pula, ia juga mengambil barakah Habib Muhammad Alwi Al-Maliki, Habib Zein bin Smith.

Kiprah dalam berdakwah, ia mulai pada tahun 1962. Abuya KH Abd. Rahman Nawi mengadakan pengajian kitab kuning yang dikarang oleh ulama Salaf bertempat di ruang paviliun rumahnya, Jl. Raya Tebet Barat VI H/3, Jakarta Selatan. Pengajian ini bersifat non-formal, dan diikuti oleh banyak jemaah. Bukan hanya dari sekitar Tebet, tapi juga dari berbagai daerah. Di antaranya: dari Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Menteng Dalam, Bekasi, Kebon Baru, dan Kampung Melayu.

Bermula pengajian diberi nama As-Salafiah. Pengajian/majelis ta’lim tersebut berkembang pesat sehingga pada tahun 1976 Abuya KH Abd. Rahman Nawi telah membuka cabang majelis ta’lim di berbagai tempat, khususnya di daerah Tebet dan sekitar Jakarta. Baik di musola-musola maupun di masjid-masjid.

Pada tahun itu juga, Abuya KH Abdurrahman Nawi mengajak jemaah majelis ta’lim dan karib keluarga membangun gedung madrasah dua lantai di atas tanah milik pribadi dan amal jariah ayah dan ibunya seluas sekitar 600 m2.
Bangunan gedung madrasah selesai pada tahun 1979 dan diresmikan oleh KH Idham Chalid dengan mengganti nama As-Salafiah menjadi Al-Awwabin. Setelah berganti nama menjadi Al-Awwabin pengajian yang dipimpin oleh Abuya KH Abd. Rahman Nawi terus berkembang.

Kemudian, menyiapkan sistem pendidikan formal dan non-formal dengan membuka pendaftaran murid/santri pada tahun 1979-1980. Sampai tahun 1982 Al-Awwabin terus berkembang cepat sehingga kapasitas gedung sekolah tidak memadai lagi.

Maka, Abuya KH Abd. Rahman Nawi bersama pengurus lainnya mencari lahan atau lokasi baru. Akhirnya, Abunya memperoleh lahan/tanah di Kampung Sengon, Pancoran Mas, Kota Depok. Di tempat ini dibangun gedung yang berdaya tampung lebih besar daripada di Tebet. Mampu menampung lebih dari 1000 siswa. Peletakan batu pertama disaksikan/dihadiri oleh para habaib, ulama dan ribuan umat Islam.

Tahun 1982 resmi dibuka oleh Menteri Agama, Munawir Syadzali. Memilih Depok karena tempatnya strategis. “Orang dari mana saja bisa datang dan mudah dijangkau dengan kendaraan baik kereta, umum, maupun kendaraan pribadi.”

Kini pesantrennya dipindah ke Depok, di mana Pondok Pesantren Al-Awwabin Putri atau disebut juga Pondok Pesantren Al-Awwabin II berlokasi di Jl. H. Sulaiman No. 12, Perigi, Bedahan, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Sementara, Pondok Pesantren Al-Awwabin I ( putra dan putri) beralamat di Jl. Raya Sawangan No. 21 Kota Depok. Sedangkan sekretariat lama yakni di Jl. Tebet Barat VI H/3 , Jakarta Selatan, dijadikan sebagai sekretariat pendidikan taklim yang ada di Jakarta.

Kini bangunan pesantren Al-Awwabin telah berkembang di atas tanah seluas sekitar 4 hektare. Di sana berdiri gedung asrama dengan 12 kamar, 3 lokal gedung sekolah MTs dan 3 lokal gedung sekolah MA, laboratatorium komputer, rumah guru/ustadzah, dan lapangan olah raga (basket).

Di samping pohon-pohon yang membuat udara sejuk, di sisi kanan gedung asrama terdapat tanaman jeruk limau seluas sekitar 1000 m2. Budidaya jeruk limau tersebut dipetik hasilnya setiap 3 bulan sekali. Santriwati mukim berasal dari berbagai daerah, di antaranya dari Palembang, Aceh, Ambon, Jabodetabek, dan lain-lain.

Pesantren Al-Awwabin didirikan untuk mendidik murid agar memperoleh tambahan ilmu agama dan pengetahuan umum sebagai bekal untuk memainkan peranannya di dalam masyarakat. Penataan pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Al-Awwabin, selain untuk menjamin penguasaan materi pelajaran yang disajikan, juga memelihara ketertiban/disiplin pondok pesantren dan masyarakat pada umumnya.

Hal itu merupakan wujud nyata untuk menyadari para pemuda/pemudi, khususnya kader-kader pemimpin bangsa, negara, dan agama untuk berkesinambungan pada proses menuntut ilmu di pesantren-pesantren sebagaimana Allah swt. berfirman dalam surat At-Taubat 122. Artinya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang) mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Pendidikan yang dibuka berbentuk pesantren dan pendidikan formal, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Kemudian, pada tahun 1987 dibuka Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan pendidikan non formal: pengajian kitab kuning; kader da’i; dan majelis ta’lim.
Selain itu, di kompleks pesantrennya ia juga mendirikan pemancar Radio Ridha (Radio Islamic Centre Dakwah Al-Awwabin) pada frekuensi 98.5 FM dalam kurun waktu setahun terakhir di Depok,”Saya merasa belum cukup mengajar sebatas yang ada di depan mata saja. Karena saudara saya yang seiman masih banyak sekali yang belum tersentuh oleh dakwah. Karena itu saya membuat pemancar.”
Ia sekarang juga membuat program tarbiyah murrabiyah.

Pendidikan spesial untuk menjadi dai khusus untuk putri. “Sekarang sedang berjalan. Konsepnya setiap santri dididik menjadi seorang dari yang handal. Di pesantren putri yang terletak di Depok selama 4 tahun dengan program sebagaimana mengaji santri-santri lainnya.”
Abuya melanjutkan, kenapa ia ingin mendidik banyak kader-kader santri putri, “Dai putri itu kurang sekali. Yang mampu dan bisa membaca kitab. Kalau untuk pidato banyak, tapi bagi santri yang mengajar dan bisa membaca kitab –kitab kuning, itu kurang. Diharapkan, santri-santri putrid ini lulusannya bisa mengajar atau malah mendirikan pesantren. Untuk bisa masuk program ini ada persyaratan khusus, yakni diharapkan sudah lulus Aliyah.”
Di sela-sela kesibukannya mengajar, Abuya juga mengarang beberapa kita kecil yang untuk jemaah dan santri-santrinya diantaranya Manasik Haji, Sulamul Ibad, Nahwu Melayu, Tujuh Kaifiat, Mutiara Ramadhan dan lainnya. (Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: